Dinkes Sumsel Waspadai Kenaikan Penyakit Saat Kemarau: DBD hingga Heatstroke

Sumatera Selatan

Dinkes Sumsel Waspadai Kenaikan Penyakit Saat Kemarau: DBD hingga Heatstroke

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Rabu, 03 Jun 2026 20:40 WIB
ilustrasi DBD
Ilustrasi DBD (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Palembang -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan (Sumsel) mewaspadai sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau. Masyarakat diminta lebih waspada dan menerapkan pola hidup bersih serta sehat untuk mencegah berbagai penyakit yang kerap muncul saat cuaca panas dan kering.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah mengatakan musim kemarau di Sumsel diperkirakan berlangsung pada Mei hingga Oktober 2026.

"Musim kemarau di Sumsel biasanya Mei-Oktober. Cuaca panas, kelembaban rendah, air terbatas, dan debu banyak. Kondisi ini membuat beberapa penyakit naik kasusnya," ujarnya, Selasa (2/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ira, demam berdarah dengue (DBD) masih akan diwaspadai dan menjadi perhatian masyarakat selama musim kemarau. Kasusnya akan meningkat pada awal kemarau dan saat pancaroba terjadi.

"Meski identik dengan musim hujan, kasus DBD juga berpotensi meningkat saat kemarau. Hal ini karena nyamuk Aedes aegypti tetap dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, drum, maupun dispenser," katanya.

ADVERTISEMENT

ISPA juga menjadi perhatian dan diwaspadai karena Sumsel rawan kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau panjang. Pada kasus ini, anak dan lansia paling rentan terdampak.

"Untuk kasus laporan ISPA pada Mei belum kita terima dari dinkes kabupaten/kota, nanti tanggal 10 Juni. Asap akibat karhutla tetap kita waspadai menjadi penyumbang kasus ISPA di Sumsel," ungkapnya.

Selain itu, diare dan tipes juga menjadi perhatian. Keterbatasan dan penurunan kualitas air bersih saat musim kemarau juga dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Bakteri seperti ecoli dan Salmonella dapat masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kurang higienis.

"Risiko penularan meningkat jika kebersihan makanan dan minuman tidak terjaga dengan baik," tambahnya.

Kemudian, konjungtivitis atau mata merah perlu diwaspadai karena debu, asap, dan angin kering, kerap membuat mata infeksi. Penyakit ini mudah menular melalui kontak langsung, termasuk penggunaan handuk secara bergantian maupun tangan yang terkontaminasi.

Berikutnya, heatstroke dan heat exhaustion. Suhu udara di Palembang dan wilayah Sumsel lainnya dapat mencapai lebih dari 34 derajat celsius pada siang hari, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, hingga heatstroke.

"Khususnya masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti petani, pedagang, pekerja lapangan, dan pelajar. Gejalanya meliputi pusing, mual, kulit terasa panas dan kering, hingga penurunan kesadaran atau pingsan," jelasnya.

Keterbatasan air bersih juga dapat menyebabkan penyakit kulit seperti scabies, kurap, dan panu. Keterbatasan air bersih menyebabkan frekuensi mandi dan menjaga kebersihan diri berkurang. Kondisi tersebut memudahkan pertumbuhan jamur maupun penyebaran tungau penyebab penyakit kulit.

"Asrama, pesantren, kos mahasiswa di Palembang sering ditemukan kasusnya," katanya.

Penyakit terakhir yang perlu diwaspadai adalah campak dan rubella. Meski bukan penyakit yang secara langsung dipicu musim kemarau, campak dan rubella tetap perlu diwaspadai. Sebab, aktivitas masyarakat cenderung lebih banyak dilakukan di dalam ruangan. Kondisi ini dapat mempercepat penularan penyakit melalui droplet.

"Faktor yang membuat Sumsel rentan terhadap penyakit-penyakit tersebut adalah karena kondisi iklim dan geografis, beberapa daerah masih sulit akses air bersih, kepadatan penduduk, aktivitas masyarakat dan perilaku," ungkapnya.

"Untuk mencegah berbagai penyakit tersebut, masyarakat diminta menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana. Musim kemarau bukan untuk ditakuti, tetapi harus dihadapi dengan kesiapan dan kewaspadaan. Jika mengalami gejala penyakit, segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat," ujarnya.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads