- Keutamaan Bulan Muharram 1. Bulan yang Dimuliakan Allah SWT 2. Bulan Allah SWT 3. Tanggal 10 Muharram adalah Hari Asyura 4. Bulan untuk Mematangkan Langkah Terbaik
- Amalan Bulan Muharram 1. Berpuasa 2. Berdzikir 3. Tadarus Al-Qur'an 4. Bertaubat
- Apa Saja Larangan pada Bulan Muharram? 1. Larangan Berperang 2. Larangan Berbuat Aniaya Terhadap Diri Sendiri 3. Larangan Maksiat 4. Larangan Balas Dendam
Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus merupakan satu dari empat bulan haram (suci) dalam Islam. Kedudukannya yang istimewa, menjadikan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun, melainkan juga momentum untuk memperbaiki diri.
Dalam ajaran Islam, bulan Muharram memiliki keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh.
Namun, di balik keutamaan tersebut, ada juga hal-hal yang perlu dihindari. Sebagai bulan haram, Muharram menjadi waktu yang dianjurkan untuk menjauhi perbuatan tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut detikSumbagsel sajikan informasi mengenai bulan Muharram mulai dari keutamaan, amalan, hingga larangannya. Yuk simak!
Keutamaan Bulan Muharram
Dilansir dari buku Khotbah Jumat Sepanjang Tahun oleh M. Rouful Wahab & S.M. Hamzah, laman Baznas, dan sumber lainnya, berikut sejumlah keutamaan bulan Muharram, antara lain:
1. Bulan yang Dimuliakan Allah SWT
Salah satu keutamaan bulan Muharram yang paling utama adalah statusnya sebagai bulan haram (suci). Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut antara lain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
2. Bulan Allah SWT
Bulan Muharram juga disebut sebagai syahrullah atau bulan Allah. Penyandaran nama bulan ini kepada lafaz Allah menunjukkan kemuliaan dan keagungannya di sisi-Nya.
Rasulullah SAW pun dalam sabdanya menyebut Muharram sebagai bulan Allah. Hal itu disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Dzar RA berikut:
"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: "Malam apakah yang lebih baik dan bulan apakah yang lebih utama?" Beliau menjawab: "Sebaik-baik malam adalah pertengahannya. Bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram." (HR An-Nasa'i)"[3]
3. Tanggal 10 Muharram adalah Hari Asyura
Pada bulan Muharram terdapat hari Asyura, yakni pada tanggal 10 Muharram. Tanggal ini diyakini sebagai hari yang penting dalam sejarah para nabi.
Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ الهِ
Artinya: "Sesungguhnya Asyura merupakan hari diantara hari-hari Allah." (HR Muslim)
Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Pada hari ini, Allah SWT menunjukkan pertolongan dan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kisah tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا ، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحُ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدْوَهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya: "Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata: "Nabi SAW tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Hari 'Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: "Ada apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini." Nabi SAW bersabda, "Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian." Maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa 'Asyura. (HR Bukhari)[6]
4. Bulan untuk Mematangkan Langkah Terbaik
Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Islam, sehingga awal bulan ini seharusnya dapat menjadi titik balik untuk merencanakan, mematangkan, dan melakukan hal terbaik dalam hidup kita.
Oleh karena itu bulan Muharram merupakan salah satu momentum yang tepat bagi umat Islam, yakni menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana untuk muhasabah diri atas berbagai perbuatan yang dilakukan tahun lalu serta menyusun rencana yang lebih baik.
Amalan Bulan Muharram
Selain keutamaan, juga terdapat sejumlah amalan yang dapat dilakukan ketika bulan Muharram, antara lain:
1. Berpuasa
Pada bulan Muharram, terdapat sejumlah puasa sunnah yang dapat diamalkan oleh umat muslim, lengkap dengan jadwalnya:
- Puasa Tasu'a (9 Muharram): 24 Juni 2026
- Puasa Asyura (10 Muharram): 25 Juni 2026
- Puasa Ayyamul Bidh (Muharram): 28, 29, dan 30 Juni 2026
- Puasa Senin (Muharram): 22, 29 Juni dan 6,13 Juli 2026
- Puasa Kamis (Muharram): 18, 25 Juni dan 2, 9 Juli 2026
2. Berdzikir
Bulan Muharram juga dapat diisi dengan mengingat Allah SWT. Dzikir yang dapat dilakukan bisa berupa takbir, tahlil, tasbih, dan istighfar.
Muslim diperintahkan untuk berdzikir pada setiap waktu dan keadaan kecuali kondisi terlarang. Hal tersebut termaktub dalam surah An-Nisa' ayat 103,
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَوَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَما وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأَنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَوةَ إِنَّ الصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَبًا مَّوْقُوتًا
Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berdzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.
3. Tadarus Al-Qur'an
Salah satu amalan bulan Muharram yang dapat dilakukan, terutama saat memasuki hari pertama bulan Muharram adalah tadarus Al-Quran. Tadarus adalah membaca Al-Quran untuk memperdalam pemahaman atau menjaga hafalan, sering kali dalam praktiknya melibatkan orang lain sebagai penyimak.
4. Bertaubat
Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Muharram sebagai satu dari empat bulan suci sangat tepat digunakan untuk membersihkan hati dari dosa dan kembali pada jalan yang diridhai Allah SWT.
Tobat bisa dilakukan melalui sejumlah amalan saleh pada bulan ini.
"Jika engkau ingin berpuasa setelah Ramadan, maka berpuasalah pada bulan Muharram. Sesungguhnya bulan tersebut adalah bulan Allah dan pada bulan itu terdapat satu hari di mana ketika suatu kaum bertobat, Allah juga menerima tobat kaum yang lain." (HR Tirmidzi)
Apa Saja Larangan pada Bulan Muharram?
Dilansir dari detikHikmah, menurut Ibnu Jarir at-Thabari dalam Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an terjemahan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ada sejumlah perkara yang perlu dihormati pada bulan haram, berikut sejumlah larangannya:
1. Larangan Berperang
Larangan bulan Muharram yang pertama adalah umat Islam dilarang untuk berperang. Salah satu pendapat menyebut, hukumnya haram untuk memulai peperangan pada bulan suci ini.
Meski demikian, ada juga pendapat yang memperbolehkan hal ini dengan landasan peristiwa sejarah di masa nabi. Saat itu, pengepungan penduduk Taif oleh Rasulullah SAW terjadi pada salah satu bulan haram.
Hal ini merujuk pada perlawanan untuk memberi pelajaran bagi musuh sesuai dengan firman-Nya surah Al-Baqarah ayat 194.
اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: Bulan haram dengan bulan haram dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) kisas. Oleh sebab itu, siapa yang menyerang kamu, seranglah setimpal dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.
2. Larangan Berbuat Aniaya Terhadap Diri Sendiri
Larangan kedua pada bulan ini dijelaskan dalam surah At-Taubat ayat 36. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, umat Islam dilarang melakukan perbuatan yang mengarah pada tindakan penganiayaan terhadap diri sendiri pada bulan haram.
Hal tersebut disebabkan, Ibnu Katsir berpendapat, ganjaran dosa pada bulan haram jauh lebih berat dibandingkan bulan lainnya. Bahkan dosa yang dilakukan disetarakan dengan berbuat maksiat di Tanah Suci. Allah SWT berfirman dalam surah Al Hajj ayat 25,
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ...
Artinya: "...dan siapa yang dimaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami akan rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih."
3. Larangan Maksiat
Perbuatan maksiat disebut sebagai salah satu perbuatan zalim di Muharram. Terdapat dosa besar yang akan dialami bagi pelaku berpuatan zalim seperti disebut dalam surah Asy Syura ayat 40,
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.
4. Larangan Balas Dendam
Disebutkan dalam Tafsir Al Azhar oleh Hamka, pada bulan haram seperti Muharram juga ada larangan untuk melakukan balas dendam. Larangan ini memiliki tujuan agar umat Islam fokus untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Zulkaidah sebagai bulan persiapan untuk menunaikan ibadah haji, Dzulhijjah sebagai bertepatan dengan bulan pelaksanaan haji, Muharram sebagai bulan perjalanan pulang dari haji, dan Rajab sebagai bulan pengamalan umrah.
Demikian informasi mengenai bulan Muharram, mulai dari keutamaan, amalan, dan larangannya. Semoga bermanfaat ya, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)
