Setiap hari Jumat di waktu Zuhur akan berlangsung pelaksanaan sholat Jumat. Sebelum itu, khatib akan membacakan khutbah Jumat sesuai dengan tema yang menarik, salah satunya bulan Muharram.
Pada bulan Juni hingga Juli 2026 bertepatan dengan Muharram 1448 H. Khatib sholat Jumat bisa memilih tema tentang cara memahami atau keutamaan bulan Muharram. Sebab, bulan ini termasuk bulan mulia yang nilai kebaikannya bisa berkali-kali lipat.
Adapun contoh khutbah Jumat bulan Muharram terbaru yang bisa dibacakan sebagai berikut. Rangkuman bisa jadi acuan atau langsung dibacakan kepada jamaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Judul 1: Memaknai Muharram Bulan Allah
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا تَعْمَلُونَ - أَشْهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ محَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ - أَمَّا بَعْد
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
Para Jamaah shalat Jum'at yang dirahmati Allah SWT
Bulan Muharram merupakan bulan awal perhitungan tahun Hijriyah. Nama Muharram secara bahasa diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yakni bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan untuk berperang (gencatan senjata). Karena orang Arab meyakini bahwa bulan muharram adalah bulan suci sehingga tidak diperbolehkan menumpahkan darah.
Meski ada dua belas bulan dalam satu tahun, namun hanya Muharram yang yang disandarkan kepada Allah SWT. Berarti penyandaran bulan muharram ini tentu memiliki banyak makna yang menunjukkan kemuliaan yang terdapat didalamnya. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَومَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu (lauhul mahfudz). Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah:36).
Para ulama Tafsir kita kemudian menjelaskan bahwa empat bulan Haram dimaksud itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Secara khusus bulan Muharram juga disebut sebagai Syahrullah artinya bulannya Allah.
Maka kemuliaan Allah SWT menjadikan segala yang disandarkan kepada Allah SWT akan menjadi mulia. Nabiyullah artinya Nabi Allah, maka Nabi Allah menjadi mulia. Rasulullah artinya Rasul atau utusan Allah maka Rasul pun menjadi mulia. Kitabullah artinya Kitab Allah maka Al-Qur'an sebagai kitab Allah menjadi mulia. Syahrullah artinya bulan Allah, maka bulan tersebut menjadi mulia, dan lain sebagainya.
Para Jamaah shalat Jum'at yang dirahmati Allah
Muharram disebut sebagai bulannya Allah juga didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah adalah Bulan Allah al Muharram". (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).
Selanjutnya, dari berbagai referensi para ulama kita menerangkan bahwa beberapa keutamaan bulan Muharram diantaranya: Nabi Adam As bertaubat kepada Allah SWT, Berlabuhnya kapal Nabi Nuh As. di bukit Zuhdi dengan selamat, Nabi Ibrahim as selamat dari kobaran Api sebagai siksa Raja Namrud, Nabi Yusuf dilepaskan dari dari penjara di Mesir, Nabi Yunus keluar dari perut ikan dengan selamat, Nabi Musa as selamat dari kejaran Fir'aun dan Hijrahnya Rasulullah SAW serta peristiwa penting lainnya.
Para ulama kita menerangkan bahwa ada beberapa yang sangat dianjurkan saat bulan Muharram telah tiba. Diantaranya:
Pertama, Puasa sunnah. Baik pada tanggal sembilan (disebut puasa Tasu'a) dan puasa pada tanggal sepuluh dikenal dengan istilah puasa Asyura. Nabi Muhammad Saw ditanyakan tentang puasa Asyura, beliau menjawab:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ عَاشُورَا عَفَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: "Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim 1977).
Imam Turmudzi meriwayatkan hadits Hasan dalam Kitab Sunan Tirmidzi Juz 2 halaman 109, bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
"Suatu ketika seorang laki-laki bertanya pada Nabi, apa yang akan engkau perintahkan kepadaku wahai Nabi setelah saya berpuasa di Bulan Ramadhan? Nabi bersabda: Berpuasalah di bulan Muharram, Muharram adalah bulan milik Allah, di bulan itu Allah menerima taubat satu kaum dan menerima taubat kaum yang lainnya." (HR. Tirmidzi)
Kedua, Berupaya keras untuk tidak berbuat maksiat. Meski pada hakikatnya kita diperintahkan untuk menjauhi perbuatan maksiat, namun Muharram menjadi momen penting untuk menghindari perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Bahkan seorang ahli Tafsir dari kalangan Tabi'in bernama Qatadah rahimullah menyatakan bahwa "Amal soleh lebih besar pahalanya jika dikerjakan dibulan-bulan haram sebagaimana kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezaliman yang dikerjakan di bulan bulan lain, meskipun secara umum kezaliman adalah dosa besar." Demikian juga pendapat Ibnu Abbas.
Saudara-saudaraku jamaah Shalat Jum'at yang dirahmati Allah
Sebagai orang yang beriman mesti menjadikan setiap peristiwa sebagai moment untuk meningkatkan keimanannya kepada Allah. Termasuk dalam bulan Muharram yang memiliki kekhususan sebagaimana dijelaskan para ulama kita. Setidaknya penulis membagi kedalam dua saja, sikap mukmin dalam menyambut bulan Muharram, yakni:
Pertama, Mengingat kembali sejarah peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Hijrah dari Mekkah ke Madinah bukanlah karena ketakutan Rasulullah SAW atas intimidasi para kaum Kafir atas dirinya, tapi selain untuk mengokohkan iman sahabat-sahabatnya yang baru memeluk agama Islam, bahwa Hijrah adalah perintah Allah SWT. Terbukti bahwa ada skenario dari Allah Sang Pencipta dibalik hikmah Hijrahnya kaum muslimin ke Madinah.
Diantaranya, dakwah yang semakin berkembang dan meluas, mendapat sahabat baru yakni kaum anshor Madinah, mempersatukan kaum muhajirin dan anshar yang kelak menjadi kekuatan Islam yang tangguh, mempersatukan kembali hubungan darah rasulullah SAW yang ada di Madinah, serta letak Madinah yang memiliki geografis strategis yang menyulitkan siapapun sulit untuk memasukinya.
Kedua, Muharram sebagai Menjadikan momentum untuk berbuat lebih baik. Memang tidak ada alasan untuk menunda-nunda untuk berbuat baik. Namun ada kalanya moment itu penting dan membuat jiwa bersemangat. Maka Tahun Baru Hijriyah yang diawali bulan Muharram sangat tepat sekali dijadikan sebagai moment untuk lebih bersemangat menambah dan menguatkan iman serta moment meninggalkan segala perbuatan maksiat atau terlarang.
Saudara-saudaraku jamaah Shalat Jum'at yang dirahmati Allah
Islam juga menuntut umatnya agar terus berbuat lebih baik. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah katakan:
"Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik dari hari sebelumnya maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan hari kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek dari hari kemarin maka dia terlaknat."
Maka akan sangat baik bila menjadikan bulan Muharram sebagai introspeksi untuk melihat kembali terhadap apa yang telah diperbuat pada masa lampau. Kemudian menjadikan evaluasi untuk menata masa depan yang lebih baik. Intinya, makna Muharram sebagai bulan Allah harus kita jadikan sebagai upaya meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Khutbah II
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ الْقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرحيم
Judul 2: Keutamaan Bulan Muharram
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْإِفْرَاحِ وَالسُّرُورِ وَاضَاعَفَ لِلْمُتَّقِينَ جَزِيلَ الْأُجُورِ وَكَمِلَ الصِّيَافَة والصلة لِلْأَرْحَامِ بِسَعِيهِمُ الْمَشْكُورِ، فَسَبْحَانَ مَنْ أَحَلَّ الْفُطُورَ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ الهِ أَعَادَ الأَعْيَادَ وَأَدَخِرُهَا بِكُلِّ عَمَلٍ مَبْرُورٍ وَأَطَالَ الأَجَالَ إِلَيْهَا لِيَنَالُوا بِفَضْلِهَا الْجَزَاء الْمُوفُورِ. اشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ العَفُو الغَفُورُ وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ المَشْهُورُ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الله وَاصْحَابِ الذِينَ كَانُوا يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورًا.
امَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ الْكِرَامِ أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمُ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang penuh berkah ini saya berpesan, khususnya pada saya pribadi dan umum pada jamaah. Marilah kita semua berusaha meningkatkan takwa kepada Allah swt., dengan cara mengerjakan semua perintah-Nya, dan menjauhi segala larangannya.
Takwa merupakan alasan kita hidup di dunia, sekaligus tujuan dalam rangka meraih surga dan ridha Allah. Tepatlah kiranya, bila kita selalu diingatkan agar selalu meningkatkan takwa.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Tidak terasa saat ini kita memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender hijriyah. Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah.
ان عِدَّةَ الشَّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَواتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أربعة حرم
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, QS. At-Taubah 36.
Diantara dua belas bulan dalam kalender Hijriyah, ada empat bulan yang disebut "Asyhurul Hurum" (bulan yang haram), yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki kemuliaan.
Diantaranya Allah mengharamkan umat islam melakukan perbuatan yang dilarang, (membunuh, berperang). Kecuali diserang oleh orang-orang kafir.
Imam At-Thabari menafsirkan ayat di atas dengan mengutip riwayat dari Ibnu Abbas ra.: "Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan suci dan mengagungkan kemuliaannya. Barangsiapa yang berbuat dosa pada bulan ini, maka balasannya menjadi lebih besar, dan barangsiapa yang beramal shalih pada bulan ini, maka pahalanya juga lebih besar."
Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Disebut bulan mulia karena bulan ini disebut "syahrullah" (bulan Allah). Rasulullah SAW bersabda:
أفضلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim).
Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharram, karena penamaannya disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para Ulama menerangkan: Ketika makhluk disandarkan pada lafzul Jalalah, itu pertanda ada pemuliaan pada makhluk tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi masjid, atau lebih khusus Ka'bah dan naqatullah (unta Allah) istilah bagi unta nabi Shaleh dan lain sebagainya.
Keutamaan bulan Muharram tidak perlu disangsikan lagi. Namun keutamaan itu tidak berarti bila tidak diisi dengan berbagai amalan-amalan ibadah yang berbobot, sehingga keutamaan itu benar-benar bernilai, baik secara individual maupun sosial.
Diantara ibadah yang paling dianjurkan adalah berpuasa. Amalan ini didasarkan pada beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi: "Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya." HR. Bukhari dan Muslim.
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura'. Beliau bertanya, "Hari apa ini?" Mereka menjawab, "Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi SAW bersabda:
"Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian." kemudian Nabi saw. berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa." (HR. Bukhari)
Dikisahkan bahwa Aisyah mengatakan:
"Ketika Rasulullah tiba di Madinah, ia berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadhan menjadi puasa wajib. Kewajiban berpuasa itu dibatasi pada bulan Ramadhan saja, dan kewajiban puasa pada hari 'Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau, atau boleh juga tidak berpuasa jika ia mau."
Puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari 'Asyura, para sahabat berkata:
"Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: "Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut." (HR. Muslim).
Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah
Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan lainnya, hendaknya kita tidak hanya berpuasa sunnah, tapi juga memperbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini, dengan membaca Al Qur'an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.
Selain memperbanyak amalan ketaatan, jangan lupa berusaha menjauhi maksiat kepada Allah, sebab dosa pada bulan Muharram lebih besar dibanding dosa-dosa di bulan lain. Ibnu Qatadah rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya kezaliman pada bulan Muharram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan Muharram."
Demikianlah khutbah yang bisa sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik, sehingga kita tetap teguh memegang kebenaran, bersegera memperbaiki diri, dan menjauhi perbuatan maksiat yang bisa menodai hati kita. Amin.
Khutbah II
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَا وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العليم . أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَ المُسلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُونَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Demikian penjelasan mengenai contoh khutbah Jumat tentang bulan Muharram yang bisa dipilih khatib untuk tema bulan Juni hingga Juli 2026. Semoga membantu, ya.
(mep/mep)
