Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat tren kenaikan penyakit flu Singapura atau Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) pada tahun ini. Total 523 orang terdampak sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-23.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah mengatakan berdasarkan data lonjakan kasus mulai terlihat sejak minggu ke-16 atau pertengahan April dengan jumlah penderita yang terus berada kisaran puluhan kasus setiap pekannya.
"Pada pekan 1-15, jumlah kasusnya hanya berkisar 1-19 orang," ujar Ira, Senin (29/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Dinkes Sumsel, pada minggu ke-16 tercatat lonjakan sebaran penyakit ini sebanyak 48 kasus. Angka tersebut kemudian menjadi 41 kasus pada minggu ke-17, 52 kasus pada minggu ke-18, 35 kasus pada minggu ke-19, 54 kasus pada minggu ke-20, 39 kasus pada minggu ke-21, 56 kasus pada minggu ke-22, dan 42 kasus pada minggu ke-23.
Data tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan kasus sejak pertengahan April hingga awal Juni 2026 dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.
"HFMD memang penyakit musiman. Kasus di Sumsel biasanya naik pada dua momen. Saat pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau dan sebaliknya dan pada momen kemarau ketika anak-anak kumpul di ruang ber-AC atau di taman bermain indoor," ungkapnya.
Secara wilayah, Kota Palembang terbanyak laporan dengan 102 kasus flu Singapura. Disusul Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 75 kasus, Musi Banyuasin 61 kasus, Prabumulih 58 kasus, Lahat dan Muara Enim masing-masing 54 kasus, dan Lubuklinggau 49 kasus.
Sementara itu, daerah lain juga turut melaporkan adanya kasus HFMD meski dengan jumlah yang lebih rendah berkisat 1-19 kasus.
"Flu Singapura atau HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5-7 tahun. Penyakit ini juga dapat menyerang dewasa, orang rentan terinfeksi saat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tidak diterapkan dengan baik," jelasnya.
Katanya, penyakit ini ditandai dengan gejala demam, sariawan di mulut yakni di lidah, gusi, atau pipi bagian dalam. Juga muncul ruam dan benjolan kecil di sekitar mulut, telapak tangan, kaki, hingga bokong, dan nyeri tenggorokan.
"Masa inkubasi terjadi 3-6 hari setelah kena virus. Yang bahaya, kalau anak lemas banget, kejang, susah napas, tangan kaki dingin. Bisa jadi komplikasi ensefalitis. Harus langsung dibawa ke IGD RS," ungkapnya.
Penularan penyakit ini terjadi melalui kontak langsung dengan cairan hidung dan tenggorokan, air liur, cairan lepuhan, maupun feses penderita. Karena itu, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat, terutama di lingkungan yang melibatkan banyak anak seperti tempat penitipan anak maupun sekolah.
"Anak harus istirahat di rumah minimal 7-10 hari sampai bintil kering dan tidak demam," tambahnya.
Masyarakat diimbau menerapkan PHBS dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun, membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh, serta menghindari kontak dekat dengan penderita.
"Orang tua juga diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala HFMD agar mendapat penanganan sedini mungkin," ujarnya.
(csb/csb)
