SMA Negeri 7 Lubuklinggau masih kesulitan mendapatkan peserta didik baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Hingga saat ini, jumlah siswa yang diterima baru mencapai 13 orang.
Kepala SMAN 7 Lubuklinggau, Agustunizar mengatakan jumlah tersebut sudah bertambah dari sebelumnya yang hanya sembilan pendaftar. Meski begitu, pihak sekolah masih membuka pendaftaran hingga proses belajar mengajar dimulai karena kuota siswa belum terpenuhi.
"Awalnya ada sembilan siswa yang mendaftar, sekarang sudah menjadi 13 siswa. Pendaftaran tetap kami buka sampai proses belajar mengajar nanti karena siswa kami masih kurang," kata Agustunizar kepada detikSumbagsel, Minggu (5/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sekolah-sekolah favorit yang langsung menutup pendaftaran setelah kuota terpenuhi. Hal itu dipengaruhi aturan baru dalam sistem Dapodik.
"Kalau sekolah favorit mungkin sudah tutup pendaftaran karena kuotanya penuh. Sekarang kalau siswa melebihi kuota, datanya tidak diakui di Dapodik, nanti tidak bisa ikut ujian dan dana BOS juga tidak bisa dicairkan," ujarnya.
Agus membeberkan minimnya jumlah siswa di sekolahnya membuat sebagian rombongan belajar hanya diisi beberapa orang. Bahkan, untuk kelas IPA hanya terdapat dua siswa.
"Karena sedikit, satu kelas IPA itu hanya terisi dua siswa. Tetap kami buka karena aturan di Dapodik memang memungkinkan. Kami juga tidak menghapus kelas IPA atau IPS karena jurusan itu sesuai pilihan dan bakat siswa, bukan dipaksakan," ungkapnya.
Ia menjelaskan penurunan jumlah siswa mulai terasa sejak beberapa tahun terakhir. Pada SPMB 2025, sekolah tersebut hanya menerima delapan siswa, sedangkan tahun ini meningkat menjadi 13 siswa. Padahal saat tahun 2020, SMA Negeri 7 Lubuklinggau sempat menerima sekitar 120 siswa baru.
"Dulu tahun 2020 kami pernah dapat 120 siswa. Masuk 2021 mulai menyusut. Tiga tahun terakhir terus menurun dan yang paling parah tahun 2025 hanya delapan siswa," ujarnya.
Agus menilai salah satu penyebab menurunnya jumlah siswa adalah bertambahnya kuota di sekolah-sekolah favorit setelah pengelolaan SMA beralih ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan.
Menurutnya, saat masih dikelola Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau, kuota sekolah favorit dibatasi. Misalnya, SMA Negeri 1 Lubuklinggau hanya mendapat delapan rombongan belajar (rombel), sedangkan SMK Negeri 1 Lubuklinggau enam rombel.
"Sekarang SMA 1 menjadi 10 rombel, sedangkan SMK 1 menjadi 14 rombel. Ini sangat berpengaruh kepada sekolah kami, ditambah lagi ada sekolah baru seperti SMK 4," katanya.
Terkait faktor jarak, ia mengatakan kondisi tersebut seharusnya tidak terlalu berpengaruh dalam berkurangnya siswa yang mendaftar.
"Sebab sekitar tujuh hingga delapan tahun lalu, kami masih mampu mendapatkan banyak siswa. Jadi ini bukan faktor utamanya," ujarnya.
Selain berdampak pada jumlah peserta didik, Agus mengaku minimnya siswa juga berimbas pada tenaga pendidik. Saat ini SMA Negeri 7 Lubuklinggau memiliki 25 guru, berkurang dari sebelumnya yang mencapai lebih dari 30 orang karena sebagian memilih pindah.
"Mereka pindah karena jam mengajar tidak mencukupi. Guru yang sudah sertifikasi harus memenuhi 24 jam mengajar, sedangkan di sini karena siswanya sedikit paling banyak hanya dapat sekitar 15 jam," jelasnya.
Meskipun tidak memiliki banyak siswa, Agus menegaskan fasilitas dan tenaga pendidik di SMA Negeri 7 Lubuklinggau lengkap dan tidak kalah dengan sekolah lain.
"Fasilitas kami lengkap, gurunya juga bagus dan sangat peduli terhadap para siswa," katanya.
Agust mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemprov Sumatera Selatan. Ia berharap kuota sekolah favorit dapat dievaluasi agar distribusi siswa lebih merata.
"Saya sudah berulang kali melapor ke pemerintah provinsi bahwa kuota sekolah favorit terlalu besar. Kalau dikurangi seperti dulu, itu sangat berpengaruh bagi kami. Kalau seperti sekarang, kami bisa habis," tuturnya.
(dai/dai)
