Di kaki Gunung Dempo, hamparan kebun kopi bukan sekadar lahan pertanian biasa. Di sinilah PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) menjalankan salah satu program unggulan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yakni Program Kopi Tebat Benawa yang dirancang untuk menyeimbangkan kelestarian alam dengan peningkatan kesejahteraan petani lokal.
VP TJSL Pusri, Rahmawati, mengatakan program ini hadir sebagai wujud nyata komitmen perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
"Program Kopi Tebat Benawa ini kami dorong sebagai salah satu program unggulan TJSL karena manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima detikSumbagsel, Rabu (22/4/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut, program yang berpusat di Desa Tebat Benawa ini menerapkan pendekatan agroforestri, di mana tanaman kopi ditanam berdampingan dengan pohon pelindung seperti petai, jengkol, dan tanaman buah lainnya.
"Cara ini terbukti membantu menjaga kesuburan tanah serta mengurangi risiko erosi di lahan perbukitan," ujarnya.
Tak hanya soal cara tanam, petani juga didampingi dalam memperbaiki kualitas panen. Salah satunya melalui penerapan metode petik merah, yakni memanen buah kopi hanya saat benar-benar matang. Hasilnya, kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa lebih konsisten dan karakter khas daerah yang kuat.
Dari sisi ekonomi, kata dia program ini turut memperkuat posisi petani sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada rantai distribusi yang panjang. Petani pun memiliki daya tawar yang lebih baik sehingga kopi yang diproduksi memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding sebelumnya.
"Petani juga dilatih sehingga terampil dalam mengolah limbah kulit kopi menjadi pupuk kompos yang dapat diaplikasikan bersama dengan pupuk NPK Kopi yang juga merupakan produk Pusri sehingga tercipta circular economy," jelasnya.
Rahmawati menambahkan, program ini juga mengedepankan kearifan lokal masyarakat yang selama ini telah menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.
"Kami berharap program ini bisa terus berkelanjutan serta memberi dampak jangka panjang dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan," katanya.
Ke depan, Rahmawati berharap Program Kopi Tebat Benawa dapat menjadi model pertanian berkelanjutan yang bisa direplikasi di daerah lain.
"Ke depan diharapkan Program Kopi Tebat Benawa diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain," tuturnya.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(dai/dai)