Upaya mendorong modernisasi pertanian terus dilakukan di Sumatera Selatan. Salah satunya melalui pembangunan SPBU Pertanian Satu Harga yang ditandai dengan ground breaking di Desa Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel) pada Jumat (24/4/2026) pukul 08.30 WIB.
Pantauan detikSumbagsel pada Jumat (24/4/2026) di lokasi, kegiatan ground breaking berlangsung di area terbuka yang berada di tengah hamparan lahan pertanian. Sejumlah petani, anggota koperasi, serta unsur pemerintah daerah tampak hadir mengikuti jalannya acara. Alat berat terlihat mulai disiagakan sebagai tanda dimulainya pembangunan SPBU pertanian tersebut.
SPBU pertanian ini digagas oleh Koperasi Tuah Selebar Daun yang berdiri sejak 27 April 2024 dan berada di bawah binaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Saat ini, koperasi tersebut telah memiliki sekitar 150 anggota yang tersebar di Sumatera Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama "Selebar Daun" sendiri diambil dari sejarah wilayah Muara Telang. Kawasan ini dikenal memiliki hamparan lahan luas mencapai sekitar 23.034 hektare, yang diibaratkan selebar daun, menjadi salah satu sentra pertanian potensial di Banyuasin.
Dalam hal ini, PT Pertamina Patra Niaga hadir sebagai mitra penyedia energi yang menyalurkan BBM untuk mendukung operasional SPBU pertanian di Desa Muara Telang. Kehadiran SPBU ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan energi bagi petani secara merata dengan harga yang terjangkau.
Region Manager Retail Sales, PT. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Ayub Ritto mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung sektor pertanian melalui penyediaan energi yang andal.
"Pertamina hadir sebagai energi penggerak pertanian. Melalui pembangunan SPBU pertanian ini, kami memastikan kebutuhan BBM bagi petani dapat terpenuhi, sehingga aktivitas pertanian berjalan optimal," katanya.
Ayub menjelaskan, selama ini petani masih bergantung pada SPBU umum dengan menggunakan jeriken untuk memenuhi kebutuhan BBM, yang kerap menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Dengan hadirnya SPBU pertanian, petani kini memiliki akses khusus sehingga tidak lagi harus antre bersama kendaraan umum.
"Selama ini masyarakat, khususnya petani, masih dilayani melalui SPBU umum dengan membawa jeriken. Bahkan, terkadang mereka dianggap sebagai pihak yang menghabiskan BBM di SPBU, padahal memang kebutuhan mereka untuk operasional pertanian," ujar Ayub.
Ia menambahkan, Pertamina berperan dalam memberikan izin awal pembangunan SPBU, sementara pengelola akan mengurus perizinan lanjutan ke pemerintah daerah hingga pembangunan selesai. Setelah itu, Pertamina akan menyalurkan BBM dengan skema BBM Satu Harga yang sama seperti di wilayah perkotaan.
"Dengan adanya SPBU pertanian ini, petani sudah memiliki tempat sendiri, sehingga tidak perlu lagi berdesakan dengan kendaraan umum. Ke depan, untuk lokasi dan titik SPBU akan mengikuti arahan pemerintah," lanjutnya.
Dalam hal distribusi, Ayub menyebut penyaluran BBM ke wilayah Muara Telang akan menyesuaikan kondisi geografis, termasuk melalui jalur laut dengan sarana transportasi yang memadai.
"Untuk distribusi, jika lokasi menggunakan jalur laut seperti di Muara Telang, maka kami akan mengangkut BBM dengan sarana transportasi yang memadai, mengingat lokasi ini berada di kawasan perairan," jelas Ayub.
Ayub menyampaikan bahwa pasokan BBM disesuaikan dengan kebutuhan petani berdasarkan rekomendasi dari dinas pertanian, termasuk untuk mendukung operasional ratusan alat dan mesin pertanian. Jenis BBM yang disuplai pun fleksibel, mulai dari solar hingga bensin, sesuai kebutuhan di lapangan.
"Dari sisi Pertamina, kami memberikan izin untuk pendirian terlebih dahulu. Selanjutnya, pihak pengelola SPBU akan mengurus perizinan dengan pemerintah daerah hingga pembangunan selesai. Setelah siap, kami akan mulai menyalurkan BBM. Harga BBM yang disalurkan tetap sama karena program BBM Satu Harga, setara dengan SPBU yang ada di kota," tegasnya.
Ayub menyampaikan bahwa pasokan BBM difokuskan untuk kebutuhan petani, dengan jumlah yang telah disesuaikan berdasarkan rekomendasi penggunaan alat dan mesin pertanian. Ia menjelaskan, penyaluran dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan, baik untuk Solar, Pertalite, maupun Pertamax, yang diajukan melalui dinas pertanian setempat.
"Pasokan BBM ini memang difokuskan untuk kebutuhan petani. Jumlahnya sudah berdasarkan rekomendasi, misalnya untuk 100 hingga 200 unit alat dan mesin pertanian. Jadi berapa kebutuhan di sini, itulah yang kami suplai. Baik itu solar, pertalite, maupun pertamax, semuanya akan kami kirim sesuai dengan kebutuhan yang diajukan melalui dinas pertanian," tutupnya.
SPBU Pertanian Satu Harga di Muara Telang ini disebut menjadi yang pertama di Indonesia dan diharapkan dapat menjadi percontohan dalam pengelolaan energi untuk sektor pertanian berbasis koperasi.
Dengan adanya SPBU ini, para petani di Muara Telang kini memiliki akses lebih mudah terhadap bahan bakar, yang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian modern di daerah tersebut.
Artikel ini dibuat oleh Desti Wulandari, peserta Maganghub Kemnaker bersertifikat BeritaKlik.
(dai/dai)