Komunitas Rumah Menapo terus bertekad merawat tradisi Topeng Labu sebagai aset wisata budaya di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Pegiat seni desa kini menggelar Pameran Topeng Labu, sebagai kacamata lain melihat tradisi Topeng Labu sebagai karya visual.
Topeng Labu adalah tradisi arakan di desa wisata Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muara Jambi itu, setiap Hari Raya Idulfitri, yang berisi beberapa kelompok pemuda menari dan bernyanyi menggunakan topeng yang terbuat dari labu.
Namun, kali ini Komunitas Rumah Menapo menghadirkan perspektif lain dalam merawat tradisi Topeng Labu di ruang pamer. Mereka menggelar Pameran bertajuk Anarta Topeng Labu Muara Jambi yang digelar di Graha Menapo, Desa Muara Jambi, pada 30 Januari-1 Februari 2026.
Pegiat Seni Desa Muara Jambi, Mukhtar Hadi, mengatakan Topeng Labu adalah tradisi yang lahir dari cerita rakyat turun-temurun di Desa Muara Jambi, tentang wabah penyakit kusta. Konon dahulu seseorang yang mengalami kusta akan diasingkan masyarakat ke tengah hutan. Penyakit ini dianggap kutukan sehingga penderitanya menjadi terisolir di hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika lebaran Hari Raya Idulfitri, penderita kusta ini rindu dengan kampung halamannya setelah lama diasingkan. Sehingga, untuk kembali ke desa mereka menutup wajahnya dengan topeng labu. Mereka juga memanggul keranjang yang membuat masyarakat iba dan memberikan makanan dan minuman.
"Saat di tengah desa, masyarakat tidak tahu bahwa yang memakai topeng labu penderita kusta. Tapi masyarakat merasa terhibur dengan adanya aksi topeng labu itu dan memberikan berupa makanan dan minuman di keranjangnya," cerita Muktar Hadi atau yang akrab disapa Borju itu, Sabtu (31/1/2026).
Dari kisah itu, Topeng Labu menjadi tradisi yang digelar secara turun temurun setiap hari pertama lebaran Idulfitri. Setiap tahun, komunitas pemuda di Desa Muara Jambi mengarak diri dengan memakai topeng labu dan pakaian panjang menutup kaki. Tradisi ini pun menjadi hiburan tahunan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
"Kalau secara budaya Topeng Labu itu muncul di Hari Raya Idulfitri. Jadi di sore hari ada suatu kelompok mengarak dirinya menggunakan topeng labu," kata Borju.
Transformasi Seni Topeng Labu
Dalam perjalanannya, Topeng Labu mengalami transformasi dari media tutur menjadi ekspresi visual dan performatif. Cerita rakyat tentang keterasingan penderita kusta kemudian diterjemahkan ke dalam gerak tari dan ekspresi topeng.
Beberapa kali banyak seniman tari datang ke Desa Muara Jambi untuk merekonstruksi tradisi arakan Topeng Labu ini sebagai koreografi. Dari sinilah, tradisi Topeng Labu menjadi bagian seni pertunjukan yang memadukan tari, musik, dan simbol-simbol budaya.
"Kalau dulu dominan dimainkan laki-laki, sekarang perempuan juga ada," kata Borju.
Hal ini yang kemudian dilihat oleh Borju dan Komunitas Rumah Menapo untuk melestarikan Topeng Labu dengan cara-cara baru yang kontekstual. Upaya merawat Topeng Labu melalui pameran dinilai relevan di tengah tantangan pelestarian budaya. Di saat regenerasi seniman dan perajin semakin terbatas, ruang pamer menjadi media alternatif untuk memperkenalkan tradisi Topeng Labu kepada publik yang lebih luas, terutama generasi muda.
Di Graha Menapo ini, mereka memamerkan hasil tangan topeng labu yang selama ini digunakan dalam arakan menahun Topeng Labu tersebut, dari karakter topeng seram dan tersenyum dengan hiasan ijuk di kepalanya.
"Kalau tampilan topeng labu Muara Jambi itu tidak punya penokohan ya. Tapi punya karakter perempuan, laki-laki, ada yang seram sebagai kejahatan hal-hal negatif, dan ada yang tersenyum," ujar Borju.
Pegiat seni desa ini juga menampilkan visualisasi seseorang yang terkurung bak di penjara akibat diasingkan karena menderita penyakit kusta. Tak hanya pameran, kata Borju, Komunitas Rumah Menapo juga menggelar diskusi budaya, lomba kostum topeng labu, lomba kuliner labu, dan pawai arakan topeng labu.
"Ruang publik (Graha Menapo) ini bisa digunakan masyarakat secara luas untuk pengembangan ilmu pengetahuan, karena kami ingin mengangkat kembali marwahnya Situs Candi Muara Jambi sebagai pusat ilmu pengetahuan," ujar Borju.
Budayawan Jambi Ujang Hariadi mengatakan pelestarian Topeng Labu bisa sejalan dengan sektor pariwisata KCBN Muara Jambi. Topeng Labu bisa menjadi suvenir yang dijual ke wisatawan sehingga menjadi nilai ekonomis masyarakat setempat.
"Topeng labu ini bisa berkembang nantinya, saya lihat karakternya cuma dua ada marah dan bahagia. Jadi saya kira perlu dikaji lagi yang nilai-nilai lama itu kenapa ada topeng ini dan apa nilai filosofis. Namun, saya melihat dalam kesusahan, keterasingan, masih ada harapan. Jadi dia keluar tidak tampak kesedihannya," kata Ujang dalam Diskusi Budaya Anarta Topeng Labu.
Tak hanya bentuk suvenir, menurut Ujang, aksi tarian Topeng Labu bisa juga dipertontokan ke wisatawan KCBN Muara Jambi. Perkembangan tradisi Topeng Labu akan berubah secara dinamis mengikuti zaman.
"Sekarang pendukungnya ada, semakin berkembang dan kreatif. Kalau dulu mungkin hanya laki-laki yang menarikan topeng ini, dan sekarang sudah ada yang perempuan juga. Dan mungkin dinamika pakaian juga, hiasan juga berkembang. Apakah boleh berkembang? Ya Pasti. Setiap kebudayaan itu pasti berkembang, dia akan berinteraksi dengan masyarakat di mana-mana. Sekarang kan sudah di panggung ke panggung," ungkapnya.
Melalui pameran ini, tradisi Topeng Labu tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga dipikirkan ulang posisinya di masa kini. Dari cerita rakyat, panggung pertunjukan, hingga ruang seni rupa, Topeng Labu terus bergerak dan beradaptasi.
(dai/dai)