Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan penuh kemeriahan. Di balik tradisi yang dijalankan turun-temurun, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, rezeki, dan harapan. Salah satu pantangan yang kerap menjadi perhatian adalah larangan menyapu rumah saat Imlek tiba.
"Nyapu itu seakan kamu menyapu rezeki kamu. Rezeki tidak masuk, di tahun baru kamu sapu keluar, kan tidak bagus," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan Tjik Harun.
Menurut Tjik Harun, Imlek yang jatuh pada pergantian shio tahun ini dari Shio Ular ke Shio Kuda, merupakan momen peralihan musim dari musim dingin ke musim semi. Perayaan ini bukan hanya soal kemeriahan, tetapi juga tentang memulai tahun dengan energi positif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan selain larangan menyapu, ada beberapa pantangan lain yang semestinya dipatuhi umat Tionghoa saat Imlek, di antaranya jangan menggunting atau memotong kuku, karena melambangkan memotong rezeki, jangan menusuk atau menjahit, karena dianggap menggembosi rezeki, dan jangan sampai memecahkan barang, seperti gelas atau piring, karena merupakan pantangan besar yang melambangkan kehancuran keberuntungan.
"Jadi kita harus menempatkan diri, kalau seandainya kita mampir ke rumah kawan kita, silaturahmi ke orang Tionghoa yang merayakan Imlek. Jangan sampai ada gelas-gelas yang terpecah," ujarnya.
Larangan menyapu rumah biasanya berlaku mulai dari hari pertama Imlek hingga dua hari berikutnya. Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa cenderung menyapu sehari sebelum Imlek untuk menghindari pantangan tersebut.
Tjik Harun menyebut, rangkaian ritual Imlek dimulai dengan mengantar Dewa Dapur naik ke langit untuk melaporkan kegiatan manusia sepanjang tahun.
"Jadi seperti rapat tahunan. Apa yang kamu perbuat selama tahun berjalan itu, imbasnya nanti berkah dari tahun akan datang. Kalau misalnya tidak pernah berbuat baik, tidak pernah berderma, bagaimana kamu mengharap rezeki? Kalau banyak berdoa, banyak berbuat baik, mungkin rezeki tahun depan juga akan bagus," jelasnya.
Ia mengatakan sehari menjelang Imlek, keluarga berkumpul untuk makan malam bersama di rumah orang tua atau anggota keluarga yang paling tua. Momen ini menjadi ajang introspeksi dan saling memaafkan.
Setelah makan malam, umat menuju tempat ibadah untuk menyambut Imlek menjelang tengah malam. Pukul 12 malam dianggap sebagai puncak, saat umat menancapkan hio (dupa) pertama dan menyalakan lilin pertama sebagai simbol harapan di tahun baru.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(dai/dai)