Sedekah Ruah Tempilang merupakan salah satu tradisi adat tahunan yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Tradisi ini tidak sekedar acara budaya biasa, tetapi telah menjadi bagian penting sebagai identitas sosial dan spiritual masyarakat setempat. Berikut detikSumbagsel telah rangkum informasi mengenai tradisi sedekah ruwah Tempilang.
Sejarah Sedekah Ruwah
Dikutip Website Resmi Desa Penyampak Kecamatan Tempilang, tradisi sedekah ruwah telah dilakukan secara turun-temurun pada saat menjelan bulan Ramadan. Tepatnya di bulan Syaban atau bulan Ruwah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi ini diperkirakan sudah terjadi sejak abad ke-19 yang kini menjadi acara tahunan yang diikuti oleh warga lokal maupun wisatawan. Sedekah Ruah dianggap sebagai wujud dari rasa syukur masyarakat atas apa yang telah mereka peroleh dari alam maupun pencipta.
Tradisi sedekah ruwah sering dilaksanakan di sejumlah desa di Kecamatan Tempilang, meliputi Desa Tempilang, Desa Benteng Kota, dan Desa Air Lintang. Tetapi, acara puncak akan digelar di Pantai Pasir Kuning, yang menjadi titik pertemuan masyarakat yang melakukan tradisi ini.
Makna dan Filosofis Sedekah Ruah
Sedekah Ruah memiliki arti sebagai sedekah kampung yang akan dilakukan bersama-sama oleh warga desa untuk berbagi kepada siapapun. Tradisi ini memiliki sejumlah simbol makna tersendiri seperti:
- Bentuk rasa syukur atas keberkahan dari kehidupan yang telah dijalani
- Penghormatan kepada leluhur dan sang pencipta dengan aktivitas berdoa bersama dan melakukan pembersihan makam
- Mempererat silaturahmi, masyarakat akan melakukan gotong - royong dari semua lapisan masyarakat dalam menjamu tamu yang datang
- Menjadikan tradisi ini sebagai nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama, sebagai bentuk kearifan lokal budaya yang harus dijaga
Rangkaian Acara Sedekah Ruwah
Sedekah Ruah memiliki sejumlah rangkaian upacara yang unik dan bermakna.
1. Doa dan Pembersihan Makam Leluhur
Diawali dengan membersihkan makam leluhur disertai dengan membaca doa bersama dan tahlilan, sebagai simbol penghormatan pada leluhur serta memohon keselamatan dan keberkahan bulan suci Ramadhan
2. Silaturahmi Antar Masyarakat
Selanjutnya rumah warga desa akan terbuka seperti hari raya besar dan akan menjamu para tamu yang berkunjung sebagai simbol dari kebersamaan.
3. Perang Ketupat
Salah satu rangkaian yang paling menarik dan penuh makna adalah Perang Ketupat, digelar di Pantai Pasir Kuning, Desa air Lintang. Diikuti oleh dua kelompok yang akan saling lempar ketupat sebagai simbol perdamaian dan membersihkan kampung dari musibah.
Selain itu, Perang Ketupat memiliki sejarah tersendiri . Melansir buku Mengenal Lebih Dekat Praktik Adat Melayu Bangka Belitung oleh Tim Universitas Bangka Belitung, Berawal dari pembantaian oleh perampok pasukan Belanda menyerang wilayah pertahanan Tempilang tepatnya pada Benteng Kota pada tahun 1801.
Kemudian dilaksanakan berupa upacara ruwahan dan Perang Ketupat untuk menghibur para pejuang dan keluarga korban yang berperang melawan lanun di pertempuran. Dalam tradisi perang ketupat ini merupakan refleksi wujud rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan untuk melindungi Tempilang dari segala kutukan dan musibah.
Menjadikan sebagai wujud syukur kepada para leluhur yang telah berjasa merawat, melestarikan dan wilayah Tempilang. Perang ketupat merupakan tradisi ruwahan desa, bersamaan dengan menyambut bulan suci Ramadhan
4. Naber Laut dan Naber Kampung
Diakhiri dengan ritual Naber laut atau naber kampung dilakukan sebagai simbol mengusir roh-roh jahat dari kampung dan laut, sekaligus sebagai rasa syukur terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
Demikian rangkuman dari tradisi sedekah ruwah di Tempilang yang memiliki makna dan kearifan lokal budaya bagi masyarakat Bangka Belitung. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alyuda Tri Utama peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(mep/mep)