- Rekomendasi Tempat Wisata di Palembang 1. Jembatan Ampera 2. Pulau Kemaro 3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang 4. Kampung Kapitan Palembang 5. Monumen Perjuangan Rakyat 6. Danau Biru 7. Kampung Arab Al Munawar 8. Museum Bayt Al-Qur'an Al-Akbar 9. Masjid Cheng Ho Palembang 9. Taman Kambang Iwak
Kota Palembang di Sumatera Selatan merupakan salah satu destinasi paling populer untuk menghabiskan libur lebaran. Kota ini yang terkenal dengan kuliner pempek juga memiliki berbagai tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi selama liburan.
Palembang dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, dengan sejarah yang bermula dari masa Kerajaan Sriwijaya. Selain wisata sejarah, kota ini juga menawarkan wisata budaya, religi, dan bahkan wisata keluarga yang cocok dikunjungi selama libur Lebaran. Letaknya yang strategis dan akses transportasi yang mudah membuat Palembang menjadi destinasi yang diminati baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan asing.
Berikut ini 10 tempat wisata di Palembang yang cocok dikunjungi bersama keluarga selama libur Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekomendasi Tempat Wisata di Palembang
1. Jembatan Ampera
Jembatan Ampera merupakan ikon Kota Palembang yang terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.
Jembatan Ampera Foto: Jembatan Ampera (Prima/detikSumut) |
Banyak wisatawan datang untuk berfoto dengan latar belakang jembatan yang megah. Lampu-lampu yang menghiasi jembatan membuat pemandangannya semakin menarik selama malam hari.
Selain keindahanya, Jembatan Ampera memiliki nilai sejarah sebagai saksi perkembangan Palembang. detikers juga bisa menikmati kuliner khas Palembang di sekitar area jembatan. Dengan lokasinya yang strategis, Jembatan Ampera mudah di Akses oleh wisatawan.
2. Pulau Kemaro
Pulau Kemaro merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Palembang. Pulau kecil yang berada di tengah Sungai Musi yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Jematan Ampera ini sangat menarik untuk dikunjungi.
Legenda tentang seorang putri cantik dan kekasihnya, Siti Fatimah dan Tan Bun An, yang terus-menerus memperjuangkan cinta mereka ini yang membuat pulau ini terkenal. Selain menjadi tujuan wisata populer di Palembang, Pulau Kemaro juga memiliki Pagoda Sembilan Lantai, Klenteng Hok Tjing Rio dan Pohon Cinta yang menarik banyak wisatawan.
Pagoda di Pulau Kemaro Foto: Nadiya |
Akses menuju ke Pulau Kemaro, detikers bisa menggunakan kapal, perahu ketek, dan speedboat. Jika ingin menggunakan kapal, detikers bisa menaiki kapal sewa dari Dermaga Benteng Kuto Besak atau Dermaga Pabrik Udang PT. Lestari Magris. Ongkos pergi-pulang biasanya berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per orang, dengan estimasi waktu sekitar 25 hingga 35 menit.
Opsi lainnya dengan menggunakan perahu ketek, yaitu perahu kecil milik nelayan yang bisa diakses dari dermaga di Pasar 16 Ilir Palembang. Biaya per orang sekitar Rp 20.000, tetapi juga ada opsi menyewa satu perahu dengan biaya sekitar Rp 150.000 untuk satu kali perjalanan atau Rp 250.000 untuk pulang-pergi.
Jika ingin lebih cepat, detikers bisa menggunakan speedboat yang biayanya sekitar RP 200.000 hingga Rp 250.000 tergantung jumlah penumpangnya.
3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Apabila detikers ingin merasakan cerita masa lalu sambil melihat langsung peninggalan budaya dan sejarah Palembang, maka Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi destinasi wajib dikunjungi.
Berlokasi strategis di tepi Sungai Musi, museum ini menempati bangunan bersejarah yang menjadi saksi berbagai periode penting, mulai dari masa Kesultanan Palembang hingga era kolonial. Melalui koleksi dan pamerannya, museum ini berperan sebagai ruang edukasi publik sekaligus pusat pelestarian sejarah dan budaya Palembang.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Foto: giwangsumselprov.go.id |
Museum ini menyimpan lebih dari 500 koleksi benda bersejarah, mulai dari naskah kuno, senjata tradisional, pakaian adat, hingga alat musik dan peralatan rumah tangga khas Palembang. detikers bisa memahami perkembangan budaya lokal serta sistem pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.
selain itu, terdapat juga ruangan khusus yang menampilkan silsilah sultan, potret raja-raja terdahulu, serta benda-benda peninggalan istana. Ini menjadi jendela sejarah penting untuk mengenal identitas dan kejayaan masa lalu Palembang.
Adapun fasilitas yang tersedia di antaranya ruang pameran indoor ber-AC, galeri terbuka dan taman, pemandu wisata (guide), toilet umum, mushola, toko suvenir, area duduk santai. Untuk harga tiket masuk, detikers hanya perlu mengeluarkan Rp 1.000 untuk pelajar, Rp 2.000 untuk mahasiswa, Rp 5.000 untuk masyarakat umum, dan Rp 20.000 untuk wisatawan asing.
Terkait dengan jam operasional, museum ini buka setiap hari, dari Senin hingga Minggu dengan jam operasional yang berbeda. Senin buka dari jam 13.00 sampai jam 15.00 WIB. Sedang Selasa hingga Jumat buka dari jam 08.00 sampai jam 16.00 WIB. Dan hari Sabtu dan Minggu, jam operasionalnya dari jam 09.00 sampai jam 15.00 WIB. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II sangat recommended untuk detikers yang menyukai situs-situs peninggalan dan cerita dibaliknya.
4. Kampung Kapitan Palembang
Kampung Kapitan merupakan sebuah kampung Tionghoa yang berada di Kec. Seberang Ulu I, Kelurahan 7 Ulu Palembang. Terdapat rumah-rumah tua bergaya arsitektur perpaduan Tionghoa, Melayu, dan Eropa.
Beberapa rumah tersebut masih dihuni oleh keturunan keluarga Kapitan, sementara lainnya dijadikan sebagai objek wisata sejarah. detikers dapat menemukan artefak kuno, foto-foto sejarah, dan berbagai cerita menarik tentang kehidupan komunitas Tionghoa di Palembang pada masa lampau.
Kampung Kapitan Palembang Foto: Welly Jasrial Tanjung |
Selain sejarah Kampung Kapitan, detikers juga bisa menikmati kuliner yang berada di sekitarnya. Tak ada salahnya menjelajahi kuliner khas Palembang yang terkenal dengan cita rasanya yang lezat, seperti Pempek makanan khas Palembang, Tekwan, Model, Celimpungan dan Laksan (olahan khas berbahan ikan yang mirip pempek akan tetapi disajikan dengan kuah santan berempah).
Apabila detikers ingin menjelajahi kawasan bersejarah Kampung Kapitan, detikers hanya perlu meyiapkan biaya untuk parkir kendaraan dengan rincian :
Motor : Rp 3.000
Mobil : Rp 5.000
5. Monumen Perjuangan Rakyat
Monumen Perjuangan Rakyat, atau yang lebih dikenal sebagai Monpera ini memiliki ciri khas yang unik. Bangunannya berbentuk seperti bunga melati berkelopak lima. Melati dipilih sebagai simbol kemurnian dari perjuangan rakyat Palembang melawan penjajah, sedangkan lima kelopak melambangkan peperangan yang berlangsung selama lima hari lima malam.
Monpera Palembang. Foto: giwangsumselprov.go.id |
Monpera Palembang memiliki tinggi 17 meter, terdiri dari 8 lantai, dan memiliki 45 bidang jalur. Bangunan ini melambangkan simbolis kemerdekaan Indonesia. Terletak di pusat kota, di Jalan Merdeka No. 1, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di depan Masjid Agung Palembang dan dekat Jembatan Ampera.
detikers bisa berkunjung di hari Senin-Jumat 09.00-15.45 WIB dan Sabtu-Minggu dari 09.00 WIB sampai 14.45 WIB. Untuk masuk ke Monpera, untuk siswa sekolah Rp 1.000, bagi mahasiswa Rp 2.000, umum Rp 5.000 dan turis asing Rp 20.000.
6. Danau Biru
Danau Biru menawarkan pemandangan danau dengan warna air kebiruan yang jernih, menjadikannya salah satu spot wisata yang unik di Kabupaten Ogan Ilir. Daya tarik utama Danau ini terletak pada keindahan visual air danau yang kontras dengan hamparan alam di sekitarnya.
Warna biru alami danau ini kerap menjadi latar favorit pengunjung untuk berfoto. Selain itu juga tersedia berbagai wahana air seperti perahu naga dan banana boat yang bisa dinikmati oleh detikers. Tersedia pula booth kuliner yang menjual makanan dan minuman lokal, serta area santai untuk keluarga.
Harga tiket masuk ke Danau ini juga terjangkau yakni Rp 10.000 per orang, anak-anak di bawah 6 tahun dan lansia bahkan dipersilakan masuk tanpa biaya. Biaya parkir unruk sepeda motor Rp 5.000 dan Rp 10.000 untuk mobil. Ini jadi nilai plus bagi detikers terutama yang piknik bareng keluarga atau riding bersama teman.
7. Kampung Arab Al Munawar
Kampung Arab Al Munawar Palembang merupakan lokasi wisata sejarah dan budaya di Palembang yang paling cocok untuk detikers kunjungi selama libur lebaran. Tidak hanya kaya akan tradisi pada hari raya Idul Fitri, detikers akan melihat berbagai kebiasaan yang berlaku pada masyarakat keturunan Arab di Palembang tersebut. Tidak hanya jalan-jalan saja, pastinya detikers juga bisa sambil belajar dong!
Suasana Rumah Bingen di Kampung Al-Munawar, Kampung Arab Palembang. Foto: Sabrina Adliyah/BeritaKlik |
Terletak di Kelurahan 13 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II, fitur utama Kampung Arab Al Munawar yakni bangunanya. Ada delapan rumah yang berfungsi sebagai cagar budaya di sini. Ada rumah tinggi, darat, indie, kembar darat, dan kembar laut yang telah digunakan selama lebih dari 300 tahun.
Semua rumah di kampung ini dihiasi dengan ornamen Timur Tengah atau pengaruh Eropa yang masih asli dan klasik. Selain itu, ada gaya rumah dengan pengaruh dari bagian lain Indonesia, seperti adat Sumatera Selatan dan ada yang terdiri dari Limas. Kampung ini terkenal dengan lorongnya yang tua dan cantik.
Pintu dan jendelanya sangat besar. Kayu Ulin berusia ratusan tahun adalah kayu terbesar yang terbuat dari kayu tua yang masih sangat kuat. Ciri khas rumahnya adalah rumah panggung dengan lantai bawah yang terbuat dari marmer dan bermotif tradisional yang terbuat dari marmer, di mana marmernya langsung dari Italia, dan kayu ukiran di bagian atas rumah.
Jika detikers berkunjung kesini tersedia toilet umum dan ruang shalat, area parkir yang cukup luas di dekat pelabuhan sungai, dan kedai makanan serta tempat oleh-oleh.
8. Museum Bayt Al-Qur'an Al-Akbar
Museum Bays Al-Qur'an Al-Akbar sebagai salah satu ikon wisata religi paling megah di Palembang, Sumatera Selatan. H Syofwatillah Mohzaib memprakarsai pembangunan Al-Qur'an Al-Akbar pada tahun 2002. Ia terinspirasi untuk menghadirkan karya monumental sebagai bentuk penghormatan terhadap kitab suci Al-Qur'an.
Para pengrajin mulai mengukir ayat demi ayat pada lembaran kayu tembesu khas Sumatera Selatan yang terkenal kuat dan awet. Mereka menyelesaikan proyek besar ini selama tujuh tahun, hingga akhirnya meresmikannya pada tahun 2012. Setiap lembar kayu berisi ukiran kaligrafi yang dilapisi tinta emas. Warna keemasan ini membuat setiap ayat terlihat lebih megah dan menawan ketika terkena cahaya.
Selain area utama yang berisi pahatan Al-Qur'an, kompleks ini juga menyediakan ruang bagi pengunjung untuk beristirahat, toko suvenir yang menjual kerajinan lokal, serta area parkir yang memadai. detikers bisa datang langsung ke Museum Bayt Al-Qur'an Al-Akbar berada di dalam kompleks Pondok Pesantren Modern IGM Al-Ihsaniyah. Lokasi pastinya terletak di Jalan Moh. Amin, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
detikers bisa berkunjung setiap hari, dan harga tiket masuk untuk orang dewasa, sebesar Rp 20.000 per orang dan anak-anak, sebesar Rp 15.000 per orang.
9. Masjid Cheng Ho Palembang
Masjid Islam Muhammad Cheng Ho atau dikenal juga dengan sebutan Masjid Sriwijaya merupakan sebuah masjid bernuansa Muslim Tionghoa. Terletak di Kota Palembang, masjid ini menjadi simbol harmonisasi budaya Islam dan Tionghoa.
Masjid Cheng Ho Palembang. (Prima Syahbana/detikSumbagsel) Foto: Masjid Cheng Ho Palembang. (Prima Syahbana/detikSumbagsel) |
Masjid Cheng Ho didirikan atas prakarsa pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang. Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini merupakan cerminan toleransi antarbudaya yang kental.
Saat memasuki masjid, detikers langsung disambut oleh warna-warna cerah seprti merah, kuning, dan hijau yang mendominasi bangunan. Gaya arsitekturnya sangat kental dengan budaya Tiongkok-atapnya melengkung seperti pagoda, dengan ukiran naga dan ornamen khas Tiongkok.
Tapi saat detikers masuk, detikers akan disambut oleh suasana Islami yang menenangkan. Kaligrafi yang menggambarkan ayat-ayat suci dipajang dengan rapi, dan ruang shalatnya luas serta bersih. Perpaduan harmonis antara budaya Timur dan ajaran Islam terasa di setiap sudut masjid ini.
Masjid ini terletak di Jl. Prince Ratu, Desa 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Palembang Akses ke masjid ini cukup mudah, hanya sekitar 15 menit dari Jembatan Ampera, dan dapat dicapai dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum seperti ojek online dan transportasi umum ke Jakabaring.
detikers juga hanya perlu mengeluarkan uang parkir sepeda motor saja Rp 2.000 dan parkir mobil Rp 5.000 dan terdapat juga kotak donasi kecil di depan masjid Cheng Ho, detikers bisa mengeluarkan uang seikhlasnya untuk berdonasi.
9. Taman Kambang Iwak
Taman Kambang Iwak memiliki sejarah yang panjang. Pada masa kolonial Belanda, daerah ini dikenal sebagai tempat rekreasi bagi kaum elit yang tinggal di sekitar Palembang. Nama "Kambang Iwak" itu sendiri berasal dari bahasa lokal, yang berarti "kolam ikan." Dulu, danau buatan ini berfungsi sebagai habitat bagi ikan dan tempat istirahat bagi kaum bangsawan.
Sekarang, taman ini telah diubah menjadi ruang terbuka publik yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Dengan pepohonan rindang mengelilingi sebuah kolam besar di tengah, taman ini menawarkan suasana tenang di tengah kesibukan kota.
Taman Kambang Iwak ini sangat cocok sebagai tempat bersantai bersama keluarga, olahraga atau sekedar joging. Dan juga terdapat aneka jajanan untuk wisata kuliner. detikers bisa berkunjung dan bersantai disini setiap hari, serta hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 2.000 hingga Rp 5.000 untuk membayar parkir kendaraan.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)






