Dua bulan pasca bencana, kayu banjir bandang di Aceh Utara, Aceh, belum sepenuhnya dibersihkan. Bupati Ismail A Jalil menyebutkan, kerugian masyarakat akibat musibah akhir November 2025 lalu mencapai Rp 27 triliun.
Ismail mengatakan, kayu gelondongan yang terbawa air baru bersihkan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan namun jumlahnya masih sangat banyak di Bukit Linteung kecamatan yang sama. Selain itu, irigasi terdampak juga belum diperbaiki.
"Harapan kita kepada pemerintah agar secepatnya diperbaiki irigasi dan jalan supaya masyarakat ini bisa pergi ke sawah," kata Ismail kepada wartawan, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria akrab disapa Ayahwa itu berharap pemerintah pusat segera menyalurkan biaya rehab karena pemerintah daerah tidak memiliki anggaran Rp 27 T. Anggaran itu akan dipakai untuk pemulihan ekonomi masyarakat, pembangunan irigasi serta berbagai keperluan lainnya.
"Kalau kita harapkan kepada pemerintah daerah, jadi sampai kapan mungkin sampai mati kita ini belum selesai. Maka harapan penuh kepada pemerintah pusat agar serius terhadap kerugian masyarakat Rp 27 triliun ini supaya segera terealisasi secepatnya," jelas Ayahwa.
Menurutnya, sektor pendidikan, pertanian, jalan banyak yang rusak di Aceh sehingga harus dilakukan perbaikan. Dia berharap perekonomian masyarakat segera pulih.
Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, Ayahwa mengaku kemungkinan tidak memperpanjang lagi masa tanggap darurat. Pemkab Aceh Utara akan masuk ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi.
"Kalau masih kita perpanjang tanggap darurat mungkin ada kendala di tahap rehab rekon," ujarnya.
(agse/dhm)
