Masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan tradisi menyesap teh, baik hangat maupun dingin, sebagai pendamping santapan harian. Namun, di balik kesegarannya, muncul pertanyaan mengenai dampak kesehatan dari kebiasaan langsung meminum teh tepat setelah makan.
Kepala PR Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sofa Fajriah, memaparkan bahwa teh memiliki kandungan kafein dan tanin. Jika dikonsumsi berlebihan atau ditambah pemanis, zat-zat tersebut dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Minum teh setelah makan dapat memberikan dampak ke nutrisi, seperti:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- menghambat penyerapan zat besi dari sayur, tahu, hingga tempe
- mengganggu penyerapan kalsium dan zinc
- asupan gula menjadi bertambah tanpa sadar
- berat badan dan gula darah bisa ikut terdampak
- lambung lebih mudah bermasalah, seperti kembung atau nyeri ulu hati
- jika dijadikan kebiasaan, risiko anemia dan gangguan kesehatan lain bisa meningkat
Agar manfaat teh tetap optimal tanpa mengganggu kesehatan, perhatikan panduan waktu berikut:
Setelah Makan
Disarankan memberi jeda minimal satu jam. Hal ini dikarenakan kandungan tanin berpotensi memangkas daya serap zat besi hingga 37 persen jika diminum bersamaan dengan makanan.
Sebelum Makan
Jeda sekitar 30 menit baik untuk menjaga hidrasi serta membantu mengendalikan nafsu makan.
Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Fakta-fakta Virus Nipah |
Batasan Konsumsi
Idealnya hanya 2-3 gelas sehari. Jika memungkinkan, pilihlah air mineral atau jus buah murni sebagai pengganti.
Sisi Positif Teh
Walau perlu dibatasi, teh tetap menyimpan nutrisi berharga seperti flavonoid dan katekin yang mendukung kesehatan jantung serta metabolisme. Menurut Sofa, selama dikonsumsi secara bijak, teh berkhasiat mengelola metabolisme lemak, meminimalisir stres oksidatif, serta menjaga fungsi pembuluh darah.
Kunci utama dalam menikmati teh terletak pada kesadaran diri terhadap kebutuhan tubuh. Sofa menegaskan melalui laman Instagram BRIN pada Senin (2/1/2026).
"Kesadaran akan kondisi tubuh kita sangatlah penting. Dengan memahami tubuh sendiri, kita dapat lebih bijak dalam memilih makanan yang layak dikonsumsi maupun dihindari, menentukan takaran yang sesuai, serta memperhatikan cara mengonsumsinya. Sikap ini bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi Langkah sederhana untuk hidup lebih seimbang dan berkualitas," ungkapnya melansir detikHealth.
(afb/afb)
