Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa ibadah puasa memiliki peran penting dalam menciptakan keselarasan antara aspek fisik, mental, dan spiritual. Manfaat ini dianggap sangat relevan bagi kesehatan jiwa manusia, terutama dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang penuh tekanan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa para pakar menyarankan beberapa langkah agar manfaat puasa bagi kesehatan mental dapat dirasakan secara maksimal.
"Menetapkan tujuan spiritual, berfokus pada mindfulness, menjaga pola hidup sehat, dan berbagi pengalaman dengan komunitas menjadi beberapa cara untuk mendukung kesehatan mental selama puasa," ujar Imran melansir detikHealth, Rabu (18/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imran menambahkan bahwa bulan Ramadan sering kali menjadi fase bagi seseorang untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri. Meskipun angka gangguan mental seperti depresi dan kecemasan masih tergolong tinggi, data menunjukkan adanya tren perbaikan kondisi psikologis selama masa berpuasa.
Berdasarkan studi di MAN 2 Kota Cilegon tahun 2019, Imran menyoroti bahwa puasa memiliki pengaruh yang sangat besar, yakni mencapai 98,01 persen terhadap peningkatan kesehatan mental para siswa, terutama dalam hal pengendalian diri dan manajemen emosi. Hal senada juga ditemukan dalam riset Universitas Sirjan Azad yang menunjukkan bahwa puasa memperkuat kontrol diri sehingga seseorang lebih tenang menghadapi persoalan hidup.
"Selama Ramadan, banyak individu melaporkan penurunan gejala stres dan kecemasan berkat praktik puasa dan aktivitas spiritual," tuturnya.
Lebih lanjut, Imran mengutip pandangan peneliti Prof. Dr. Siti Nur Azizah yang menyebut puasa sebagai bentuk terapi jiwa. Hal ini dikarenakan puasa mampu menjaga stabilitas hormon kortisol (hormon stres) serta memicu produksi endorfin atau hormon kebahagiaan. Dukungan ilmiah dari National Library of Medicine (2024) juga mengonfirmasi bahwa puasa efektif menurunkan hormon stres sehingga memberikan efek relaksasi pada tubuh dan pikiran.
Aspek spiritual seperti zikir dan doa selama Ramadan pun dinilai sebagai bentuk mindfulness yang melatih seseorang untuk tetap fokus pada masa kini, sehingga kedamaian meningkat dan kecemasan berkurang.
"Tak hanya itu, puasa juga berdampak pada metabolisme otak, meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang mendukung pertumbuhan dan regenerasi sel otak serta melindungi dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer," jelas Imran.
Kendati demikian, Imran memberikan catatan bagi pengidap gangguan mental berat, seperti skizofrenia, karena puasa bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya dukungan penuh dari lingkungan keluarga dan komunitas agar kelompok ini tetap bisa menjalani Ramadan dengan aman dan nyaman.
(afb/afb)