Dunia sekarang ini sedang dalam keadaan tegang melihat langit Timur Tengah yang menyala. Hal ini terjadi karena perang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS), Israel dengan Iran.
Sebelum hubungan tegang terjadi, ternyata dulu Iran dan Israel punya hubungan yang baik. Dari awalnya memiliki hubungan diplomatik yang baik, kini kedua negara itu terlibat dalam konflik terbuka yang membahayakan stabilitas dunia.
Bagaimana perjalanan panjang ini dimulai dan apa yang menjadi penyebab meluasnya konflik di tahun 2026 ini? Berikut adalah penjelasannya secara lengkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momen Penting Revolusi 1979
Dalam artikel yang ditulis oleh Nanang Qosim, S. Pd. I., M. Pd, Dosen di Poltekkes Kemenkes Semarang dan UIN Walisongo Semarang dan juga seorang pengamat Timur Tengah, tercatat bahwa sebelum tahun 1979, Iran dan Israel tidak selalu dalam kondisi permusuhan. Namun, segalanya berubah drastis setelah pecahnya Revolusi Islam di Iran.
Sejak momen itu, Teheran mulai melihat Israel sebagai simbol dominasi Barat (Amerika Serikat dan sekutunya) yang harus dilawan. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dikenal dengan kebijakan yang sangat keras. Dia tidak hanya menolak keberadaan Israel secara politik, tetapi juga dari sisi ideologi.
Bagi Iran, mendukung kemerdekaan Palestina adalah suatu harga mati, sedangkan bagi Israel, Iran merupakan ancaman utama yang memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok ekstremis di dekat perbatasan mereka.
Operation Rising Lion vs Operation True Promise 3
Ketegangan yang awalnya hanya sebatas konflik verbal dan serangan siber, akhirnya meledak menjadi bentrokan fisik yang besar pada tahun 2025 hingga 2026. Pemicu Utama, pada hari Jumat, 13/06/2025, Israel melaksanakan Operation Rising Lion.
Serangan udara secara besar-besaran ini melibatkan 200 pesawat tempur yang menyusup ke ruang udara Iran. Sasaran dari serangan ini adalah fasilitas pengayaan uranium di Natanz serta markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Israel mengklaim bahwa serangan ini merupakan langkah pencegahan agar Iran tidak mendapatkan akses kepada senjata nuklir.
Iran pun tidak tinggal diam. Dianggap seolah membangunkan macan tidur, Iran membalas dengan Operation True Promise 3. Ini bukan sekedar ancaman, melainkan rudal-rudal Iran meluncur menghujani Pusat Tel Aviv. Dunia terkejut ketika sistem pertahanan udara Israel yang disebut-sebut sebagai yang termaju di dunia ternyata berhasil ditembus.
Serangan ini memperlihatkan bahwa kemampuan militer Iran mempunyai potensi yang sangat serius. Sebelum rudal tersebut benar-benar diluncurkan, sebenarnya kedua negara sudah lama terlibat dalam strategi Penangkalan Psikologis. Tujuan utama adalah membuat lawan merasa takut untuk menyerang terlebih dahulu.
1. Penangkalan Israel, Israel mengandalkan keunggulan dalam teknologi konvensional serta kemampuan nuklir yang mereka miliki sejak tahun 1970-an. Meskipun tidak pernah mengakui secara resmi kepemilikan senjata nuklir, keraguan musuh mengenai hal ini sudah cukup menjadi perisai bagi Israel selama bertahun-tahun.
2. Penangkalan Iran, Iran lebih memilih untuk menunjukkan kekuatan melalui uji coba rudal jarak jauh dan mobilisasi milisi yang setia. Pesan yang selalu disampaikan oleh Teheran adalah: "Kami mungkin tidak yang memulai perang, tetapi kami yang akan mengakhirinya."
Berakhirnya Era Perang Bayangan
Selama bertahun-tahun, Iran dan Israel terlibat dalam pertikaian melalui perantara atau birokasi Kita mengenal keterlibatan Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, hingga Houthi di Yaman sebagai bagian dari pengaruh Iran. Sebaliknya, Israel seringkali dituduh terlibat dalam tindakan sabotase serta pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir di dalam Iran melalui agen Mossad.
Namun, pada tahun 2026 ini, perang bayangan tersebut telah berakhir. Konflik sekarang dilakukan secara langsung atau face to face dan dengan transparan. Dampaknya sangat besar, infrastruktur mengalami kerusakan dan ribuan jiwa terancam.
Akhir dari perang terbuka ini menimbulkan kekhawatiran di dunia akan potensi meletusnya perang berskala global. Banyak pihak, termasuk kita di Indonesia, berharap agar para pengambil keputusan di kedua negara masih memiliki akal sehat.
Artikel Dwi Puspa Handayani Berutu peserta magang Kemnaker di BeritaKlik
Simak Video "Video: Israel Gempur Lebanon, 112 Orang Tewas-837 Luka-luka"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
