Berdiri tegap di persimpangan Jalan Balai Kota, gedung putih dengan kubah ikonik ini bukan sekadar bangunan tua. Gedung ini adalah titik nol (km 0) Kota Medan yang menyimpan cerita tentang persahabatan antara penguasa kolonial dan sang miliarder dermawan, Tjong A Fie.
Debat Sejarah: Kantor Bank atau Kantor Wali Kota?
Banyak versi populer menyebut gedung ini awalnya dibangun untuk kantor De Javasche Bank. Namun, Dosen Antropologi Unimed, Erond L. Damanik, memberikan perspektif yang berbeda dan lebih kuat dalam laporannya yang dimuat di detiksumut.
Menurut Erond, gedung ini memang sejak awal 1906 dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimanapun ketika ada perencanaan sebuah kota, maka yang ditentukan pertama kali kantor wali kotanya, maka dibangunlah itu semenjak 1906. Bahwa itu memang sengaja dibangun sebagai kantor wali kota," jelas Erond L. Damanik.
"Bagaimanapun ketika ada perencanaan sebuah kota, maka yang ditentukan pertama kali kantor wali kotanya, maka dibangunlah itu semenjak 1906. Bahwa itu memang sengaja dibangun sebagai kantor wali kota," lanjut dia.
Rahasia Kubah Jam: 'Sentuhan' Tjong A Fie
Fakta paling menarik yang diungkap dalam laporan BeritaKlik tersebut adalah soal bagian atas gedung. Ternyata, desain asli arsitek C. Boon awalnya tidak memiliki kubah hitam dan jam di empat sisinya.
Erond L. Damanik mengungkapkan bahwa Tjong A Fie-lah yang berinisiatif menambahkannya pada tahun 1907 agar gedung tersebut terlihat lebih estetik dan mewah:
"Itu kan bangunan berkubah itu dan di atasnya ada jam, itu pada awalnya tidak ada, kemudian oleh seorang miliarder Kota Medan (Tjong A Fie) maka ditambahlah... Karena bangunan itu dinilai kurang estetik, makanya dibuat jam di atas pada 1907," ungkap Erond.
Diplomasi dan Tamu Agung
Dalam buku Sejarah Medan: Tempo Doeloe karya Tengku Luckman Sinar, disebutkan bahwa setelah diresmikan pada 1909, wali kota pertama yang menempati gedung ini adalah Daniël Baron Mackay.
Gedung ini menjadi saksi momen diplomasi tingkat tinggi. Salah satu momen ikonik yang dicatat sejarah adalah saat Wali Kota Mackay menjamu pilot pertama yang mendarat di Polonia pada tahun 1924. Hal ini menegaskan bahwa Balai Kota Lama adalah jantung dari setiap peristiwa besar yang terjadi di Medan pada masa kolonial, di mana keputusan-keputusan penting terkait ekonomi perkebunan Deli diambil.
Arsitektur 'Indische' yang Adaptif
Berdasarkan jurnal ilmiah dari Universitas Sumatera Utara (USU) mengenai pelestarian bangunan kolonial, gedung ini merupakan contoh transisi gaya arsitektur yang sangat cerdas:
• Gaya Neo-Klasik: Terlihat pada penggunaan pilar-pilar besar di bagian depan yang melambangkan kewibawaan pemerintah.
• Adaptasi Tropis: Jurnal tersebut mencatat bahwa langit-langit gedung dibuat sangat tinggi dengan jendela-jendela besar untuk memastikan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun tanpa pendingin ruangan modern.
• Material Premium: Penggunaan marmer dan kaca patri yang didatangkan langsung dari Eropa menunjukkan bahwa Medan saat itu memiliki anggaran yang sangat besar berkat pajak tembakau.
Akhir Era di Tahun 1990
Meskipun sangat bersejarah, gedung ini akhirnya dianggap terlalu kecil untuk menampung birokrasi yang terus berkembang. Erond L. Damanik menjelaskan bahwa pada tahun 1990, di masa Wali Kota Agus Salim Rangkuty, kantor pemerintahan resmi dipindahkan ke lokasi sekarang di Jalan Kapten Maulana Lubis.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di BeritaKlik
Simak Video "Video: Gudang Penimbunan BBM Ilegal di Lampung Kebakaran"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
