Pedagang ketupat musiman di Pasar Sukaramai Medan Linda Koto ikut mendapat rezeki menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dalam satu hari ia bisa mendapat keuntungan hingga Rp 400 ribu dari berjualan ketupat.
Linda awalnya bercerita berjualan ketupat karena melanjutkan usaha orang tuanya. Ia berjualan ketupat sejak masih duduk di bangku SMP.
"Saya berjualan sarang ketupat bersama orang tua, sejak menempuh pendidikan tingkat SMP hingga kini berumur 32 tahun. Dulu saya membantu orang tua berjualan, namun karena kedua orang tua telah berpulang jadi saya yang meneruskan," ucap Linda, Rabu (18/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, permintaan ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri meningkat tajam, sama seperti Idul Adha dan Natal. "Permintaan sarang ketupat paling banyak 3 kali dalam setahun, yakni Lebaran, Idul Adha dan Natal. Momen tersebut, saya akan selalu berjualan di pinggir jalan," ungkapnya.
Linda mengatakan daun ketupan yang dijualnya diperoleh dari Kisaran, Kabupaten Asahan. Daun ketupat dari Kisaran, kata dia, bagus dan banyak diburu masyarakat.
"Daunnya dikirim dari Kisaran, warnanya cantik dan banyak yang suka. Padahal nanti semua sarang ketupat akan direbus pada akhirnya akan layu juga, itulah pembeli tetap pilih daun yang terang dan cantik," tutur dia.
Satu ikat daun janur dibeli Linda dari pemasok seharga Rp 110.000. Lalu setelah daun dibuat, dijual dengan harga bervariasi.
"Saya beli daunnya seharga Rp 110.000, dari daun tersebut menghasilkan ribuan sarang ketupat dalam sehari. Lalu sarang ketupat yang kecil dijual Rp 5.000 rupiah berisi 20 pcs dan ukuran besar Rp 8.000 rupiah berisi 20 pcs," bilangnya.
Linda juga mengatakan ia mulai berjualan sarang ketupat mulai tadi malam. Ia menyebut keuntungan di hari pertama tahun ini lumayan.
"Saya jualan mulai tadi malam modal Rp 110 ribu menghasilkan untung Rp 400 ribu, lumayan penjualan hari pertama. Peningkatan penjualan diperkirakan nanti sore, makin lama semakin banyak yang beli karena sudah mendekati lebaran," ungkapnya.
Di luar momen Idul Fitri, Linda sehari-hari memang bekerja membuat ketupat untuk dijual ke pedagang sate. Dari ketupat ia mampu menghidupi keluarga dan 3 anaknya yang masih kecil.
"Hari-hari saya membuat ketupat pesanan orang. Kalau dihitung-hitung diraih penjualan lebaran tahun lalu, dapat Rp 3 juta dalam 2 hari tapi itu sedikit karena tahun lalu saya ngurus anak kecil. Biasanya saya terima Rp 5 juta dalam 2 hari ketika jelang lebaran," kata dia.
Menutup ceritanya, Linda mengatakan saat ini harga bahan baku membuat sarang ketupat mengalami kenaikan. Ia menyebut padahal harga di Kisaran belum naik.
"Saat ini, harga bahan baku untuk membuat sarang ketupat naik. Saya sebagai penjual berharap agar harganya jangan dinaikkan oleh tokeh yang di Medan, karena saya tau di Kisaran tidak ada kenaikan," ucapnya mengakhiri.
Sementara itu, pedagang lainnya bernama Abdul Rahman Harahap mengaku ia berjualan sejak tahun 1970. Ia juga menyebut setiap harinya juga berjualan sarang ketupat dan kelapa muda.
"Sejak tahun 1970 saya sudah berjualan di sini, setiap harinya jualan sarang ketupat tapi yang membeli hanya beberapa orang saja. Nah kalau jelang lebaran seperti ini rame yang beli, nggak pernah sepi karena memang orang beli ketupat untuk kebutuhan lebaran," imbuhnya.
Lebih lanjut, Abdul mengatakan daun Janur untuk pembuatan sarang ketupat ia peroleh dari Hamparan Perak. Ia juga menyebut proses pembuatan sarang ketupat bagi yang sudah terbiasa, mudah tetapi bagi pemula agak sulit.
"Daunya ini dikirim dari Hamparan Perak dan kita beli setiap harinya, lalu satu lembar akan menghasilkan satu buah sarang ketupat. Kalau yang sudah terbiasa, pasti mudah dan cepat membuatnya tapi kalau belum pernah agak susah," ungkapnya.
Simak Video "Video: Mixagrip Greges Hadir di Kalbe Fit Stop Km 88B Tol Cipularang"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
