Ketika orang-orang mudik ke kampung halaman atau berkumpul dengan keluarga di momen lebaran Idul Fitri, lain halnya dengan Ibnu. Sopir bus antar provinsi ini justru bekerja membawa para penumpangnya merayakan momen tahunan itu berkumpul bersama keluarga mereka. Sementara dirinya harus rela tak mudik demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
Ibnu (54) sehari-hari bekerja sebagai Sopir Sempati Star rute Medan-Banda Aceh, tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, ia tidak bisa berkumpul dengan keluarganya di Aceh Timur saat Lebaran. Ia terakhir pulang ke kampung halaman sebelum pandemi COVID-19. Meski begitu, ia tetap berkomunikasi dengan keluarga di kampung lewat video call.
"Semenjak COVID-19 enggak pernah lagi lebaran (di kampung). Kira-kira sudah empat tahun lah tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarga di Aceh Timur," ucapnya kepada detikSumut, Kamis (19/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibnu juga mengatakan alasannya tidak pulang karena perusahaan tempat ia bekerja tidak memberikan jatah untuk libur lebaran. Ia mengaku harus siap memenuhi peraturan tempat ia mencari nafkah.
"Iya, enggak bisa (pulang) karena memenuhi peraturan perusahaan. Siap tugas dimana aja, pulang enggak bisa saat lebaran," ceritanya.
Ibnu juga mengaku sudah 9 tahun kurang lebih, menjadi sopir tempat ia bekerja saat ini. Ia mengatakan awalnya sebagai kernet hingga menjadi sopir.
"Sudah 9 tahun, sudah mau dua kali mati SIM (Surat Izin Mengemudi) dari kernet sampai jadi sopir," kata Ibnu.
Lebih lanjut, Ibnu juga mengatakan ia memiliki istri dan 4 orang anak yang masih harus dibiayai olehnya.
"Anak saya ada 4 orang di rumah. Paling besar sudah kuliah, ada SMA dan masih kecil 5 tahunan. Semua anak-anak kumpul saat lebaran di rumah, sedangkan saya di sinilah, biarpun air mata netes ingat anak-anak kalau lebaran," imbuhnya.
Pria asal Aceh itu, mengaku ia mendapatkan gaji dari tempatnya bekerja 10 % setiap tripnya dari pendapatan. Ia mengaku memilih menjadi supir karena hobi.
"Kalau gaji kami 10% dari pendapatan, itu sudah potong minyak, potong semua. Kalau lagi lebaran ini sampai Rp 500.000-Rp 600.000. Kalau normal Rp 250.000 - Rp 200.000 satu trip. Gaji tersebut dari kantor tapi kadang-kadang di jalan, kita ada dapat sewa-sewa, ada uang-uang rokok," ungkapnya.
Ia mengaku sebelum menjadi sopir dulunya sempat berjualan pestisida obat-obat pertanian.
"Jualan-jualan bagian pestisida, insektisida. Bagian pertanian. Lalu merantau jadi kernet lalu jadi sopir disini," ungkapnya.
Ia mengaku ketika lebaran hanya menelpon keluarganya pagi-pagi. Ia juga menyebut pulang ke rumah 2 kali dalam sebulan dan tidak menentu.
"Hanya pagi aja palingan bisa menelpon keluarga yang di rumah, kalau pulang ke rumah nggak tentu lah. Kalau di perusahaan bisa ambil cuti 15 hari, kadang-kadang kalau trip ke Aceh turun di kampung," imbunnya.
Ia mengaku perjuanganya tidak mudah menjadi seorang sopir sekaligus seorang ayah. Ia menyebut harus turun di simpang kampung ketika hendak ke rumah dan malamnya kembali lagi membawa penumpang kembali.
"Turunnya di tepi kampung, nanti malamnya nunggu lagi untuk kembali balik. Nah, kalau trip Aceh itu kadang-kadang seminggu dua kali, kadang-kadang sebulan ada 4 kali," ucapnya.
Ia bercerita dengan gaji 300 ribu per trip, ia selalu berupaya membiayai empat anaknya dan istrinya ikut membantu ekonomi keluarga yang bekerja sebagai tenaga honor di kantor Camat di Aceh.
"Ketika ada gaji 300, aku kirim 200 ke orang rumah. Kadang gaji satu hari 150 ribu tapi kadang ada rezeki 400 dalam 2 hari. Kalau di mobil ini memang agak parah. Agak sulit juga karena apalagi ke Aceh, sewa ini nggak banyak sudah mulai berkurang, kalau lebaran kan ramai orang," pungkasnya.
Sementara itu, supir lainnya, Irfandi berasal dari Banda Aceh. Irfandi supir bus Sempati Star rute Medan-Jakarta, ia juga mengaku tinggal di Jakarta bersama istri serta anak-anaknya.
"Saya bawa rute Medan ke Jakarta. Saya tinggal di Jakarta bersama istri dan 4 orang anak, paling besar tamat SMA," ucapnya.
Ia juga mengaku gaji yang ia terima pertrip sangat mencukupi kebutuhannya serta keluarganya di Jakarta.
"Kita di sini pulang pergi gajinya, satu trip 1 juta dan pulang pergi 2 juta selama 6 hari. Ketika lebaran seperti tahun lalu, ada bonus yang kami terima untuk nominal tahun ini belu diketahui tetapi tahun lalu 1 juta lebih," terangnya.
Irfan juga mengatakan malam ini, ia berangkat ke Jakarta. Ia berharap dapat bertemu keluarganya saat malam lebaran karena sang istri dan anak sudah menunggu.
"Berangkat malam ini, mudah-mudahan lebaran pertama sampai di Jakarta kalau gak ada kendala. Dua tahun ini bersyukur lebaran di rumah, senang bisa lebaran bareng anak dan istri," pungkasnya.
(nkm/nkm)
