Konten Kreator Jepang Ini Tuai Pro Kontra usai Live di Masjid

Konten Kreator Jepang Ini Tuai Pro Kontra usai Live di Masjid

Adi Fida Ra - detikSumut
Selasa, 24 Mar 2026 23:59 WIB
Ken Kenobi, YouTube Jepang
Video viral konten kreator jepang Live di Masjid Tokyo Camii (Foto: X.com)
Medan -

Seorang kreator konten asal Jepang menjadi perhatian publik setelah melakukan siaran langsung di depan masjid terbesar di Jepang. Aksinya memicu perdebatan sengit di media sosial, mulai dari dukungan hingga kritik soal etika dan penghormatan terhadap tempat ibadah.

Kreator bernama Ken Kenobi, melalui akun X @kenobi__ken, diketahui melakukan live streaming di trotoar publik di depan Tokyo Camii, masjid ikonik yang juga dikenal sebagai Tokyo Camii & Diyanet Turkish Culture Center.

Dalam video yang diunggah sekitar 20 Maret 2026, Ken tampak melakukan siaran langsung seperti biasa. Namun situasi berubah ketika sejumlah orang yang diduga pengunjung masjid atau pihak terkait masjid tersebut bereaksi terhadap siaran langsung yang dilakukan Ken.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku mendapat teguran hingga diancam akan dilaporkan ke polisi. Ia juga mengaku dituding Islamophobia atau anti-Islam. Ken mengaku terkejut dengan respons orang-orang tersebut, menurutnya dirinya hanya melakukan siaran di ruang publik.

Video itu pun viral di X dan mendapat puluhan ribu tanda suka, repost, dan komentar dalam waktu singkat.

ADVERTISEMENT

Tanggapan warganet pun terbelah. Sebagian membela Ken dengan alasan kebebasan berekspresi di ruang publik, menilai trotoar merupakan area umum yang tidak seharusnya dibatasi untuk aktivitas seperti live streaming.

Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik tindakannya. Ken dinilai kurang peka terhadap lingkungan sekitar, terutama karena berada di dekat tempat ibadah yang memiliki norma dan aturan tertentu.

"Anda perlu mengetahui sejarah Tokyo Camii sebelum wawancara di sana. Itu adalah aset Kedutaan Besar Turki dan tidak sembarang orang dapat mengambil video dengan bebas. Sama seperti tidak semua orang diizinkan untuk merekam Kedutaan Besar Amerika, bahkan dari luar, " kata @sikasep45 dilansir detikInet.

"Anda mengganggu orang, bukan mewawancarai. Periksa definisi wawancara dan pastikan apa yang Anda lakukan adalah pelecehan," kata @Alienmob.

"Jika Anda memiliki masalah dengan orang-orang yang membangun lembaga keagamaan di Jepang yang bukan berasal dari Jepang, bukankah seharusnya Anda berurusan dengan politisi Anda dan bukan mengganggu orang-orang yang mengikuti hukum dan melakukan apa yang diizinkan oleh hukum?" kata @JS1554404933700.

"Mereka bilang kamu anti-Islam?!! Setelah menonton videomu, aku bisa bilang ya, memang benar." ungkap @thifaalnalla,

Perdebatan ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai batasan konten digital, etika di ruang publik, serta pentingnya menghargai perbedaan budaya.

Untuk diketahui, Masjid Tokyo Camii bukan hanya masjid, tetapi juga memiliki nilai historis dan diplomatik dalam hubungan Jepang dan Turki.

Masjid ini pertama kali dibangun pada 1938 sebagai Tokyo Islamic Prayer Hall, lalu dibangun ulang pada tahun 2000. Pada 2018, kompleksnya diperluas dengan pusat budaya Turki yang dikelola oleh Diyanet, lembaga resmi urusan keagamaan Turki.

Tokyo Camii tidak cuma tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan budaya, edukasi Islam, serta destinasi wisata religi yang dibuka untuk umum.

Meski demikian, bangunan yang dikelola oleh institusi yang berkaitan dengan Kedutaan Turki ini seperti halnya bangunan lain terkait kedutaan memiliki aturan tertentu terkait pengambilan gambar dan aktivitas di sekitarnya.

Usai video Ken viral, pihak Tokyo Camii Diyanet Turkish Cultural Center pun memberikan klarifikasi melalui pernyataan resmi di media sosial mereka. Pihak masjid kemudian menegaskan bahwa Tokyo Camii terbuka bagi siapa saja.

"Tokyo Camii terbuka untuk semua orang di Jepang maupun dunia sebagai tempat yang dapat dikunjungi dengan aman dan nyaman."

Menurut pengelola, ada kemungkinan dugaan kesalahpahaman antara konten kreator dan orang-orang yang disorot dalam konten tersebut.

"Kami melihat ada potensi kesalahpahaman dari beberapa konten di media sosial yang menampilkan bagian luar fasilitas," tulis mereka, sambil mengundang masyarakat untuk datang langsung agar mendapatkan gambaran yang lebih utuh.




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads