RI Minta Insiden yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon Diinvestigasi Menyeluruh

Internasional

RI Minta Insiden yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon Diinvestigasi Menyeluruh

Tim detikNews - detikSumut
Minggu, 05 Apr 2026 07:31 WIB
Members of the United Nations peacekeepers (UNIFIL) look at the Lebanese-Israeli border, as they stand on the roof of a watch tower ‏in the town of Marwahin, in southern Lebanon, October 12, 2023. (Reuters)
Pasukan perdamaian PBB di Lebanon (Foto: dok. Reuters)
Jakarta -

Prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian UNIFIL kembali menjadi korban ledakan di Lebanon. Pemerintah Indonesia mengecam keras kejadian tersebut dan mendesak PBB untuk segera mengambil langkah tegas.

Tercatat, tiga anggota TNI mengalami luka akibat ledakan di Lebanon selatan pada Jumat (2/4). Insiden ini menambah jumlah korban setelah sebelumnya tiga prajurit gugur akibat ledakan serangan Israel pada 28 dan 29 Maret.

Usai prosesi pelepasan jenazah di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026), Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa Indonesia meminta adanya investigasi menyeluruh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertama, kita mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian, dalam hal ini UNIFIL, kemudian kita juga menuntut dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian," kata Sugiono.

Sugiono menekankan bahwa pasukan TNI dalam misi perdamaian tidak dilengkapi peralatan layaknya pasukan yang sedang berperang. Ia menyesalkan insiden tersebut terjadi di wilayah yang seharusnya aman bagi penjaga perdamaian.

ADVERTISEMENT

"Harus ada guarantee keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian. They are peacekeeping, not peacemaking, mereka tidak dilengkapi untuk membuat peacemaking, perlengkapan dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, dan ini merupakan mandat dari PBB," ucapnya.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga mendesak PBB untuk mengevaluasi aspek keselamatan pasukan UNIFIL agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kita juga meminta PBB untuk mengevaluasi lagi keselamatan prajurit penjaga perdamaian PBB, khususnya di UNIFIL ini. Oleh karena itu, kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka," katanya.

Kementerian Luar Negeri menerima laporan terkait tiga prajurit TNI yang terluka dalam insiden terbaru tersebut. Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan oleh pihak UNIFIL.

"Tadi malam juga saya menerima laporan bahwa ada tiga prajurit TNI yang terluka, yang juga penyebabnya--seperti halnya dua insiden sebelumnya terjadi--itu masih diinvestigasi oleh UNIFIL," kata Sugiono.

Lebih lanjut, pemerintah Indonesia melalui perwakilan tetap di New York telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat terkait situasi ini. Permintaan tersebut diajukan setelah insiden pertama pada 28 Maret, dan mendapat persetujuan dari Prancis sebagai penanggung jawab isu Lebanon di Dewan Keamanan.

Hingga kini, tercatat total 11 prajurit TNI menjadi korban dalam rangkaian insiden di Lebanon. Tiga di antaranya gugur, sementara delapan lainnya mengalami luka-luka akibat beberapa kejadian ledakan dalam periode berbeda.




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads