Nyak Sandang Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama RI Meninggal Dunia

Aceh

Nyak Sandang Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama RI Meninggal Dunia

Agus Setyadi - detikSumut
Selasa, 07 Apr 2026 14:18 WIB
Nyak Sandang (Foto: Agus Setyadi)
Foto: Nyak Sandang (Foto: Agus Setyadi)
Aceh Jaya -

Kabar duka menyelimuti keluarga Nyak Sandang (100). Kakek penyumbang pembelian pesawat RI pertama, Seulawah RI-001 itu meninggal dunia siang tadi.

"Kakek meninggal jam 12 tadi di rumah," kata Cucu Nyak Sandang, Ataillah saat dimintai konfirmasi detikSumut, Selasa (7/4/2026).

Nyak Sandang selama ini disebut lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya karena faktor usia. Dia pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atailah menyebutkan, Nyak Sandang akan dikebumikan di kampung halamannya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Saat ini disebut sedang proses fardhu kifayah.

"Kakek meninggal di umur 100 tahun," jelas Ataillah.

ADVERTISEMENT

Presiden Prabowo Subianto pernah memberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama ke Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Kakek berusia 98 tahun asal Aceh itu merupakan salah satu penyumbang pembelian pesawat RI pertama, Seulawah RI-001.

Nyak Sandang menerima langsung tanda kehormatan di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8/2025). Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda dibantu keluarga.

Penghargaan itu diberikan karena Nyak Sandang dinilai berjasa besar dalam bidang perjuangan kemerdekaan dan kemandirian transportasi udara nasional. Prabowo tampak duduk berlutut menyematkan tanda kehormatan itu kepada Nyak Sandang.

Nyak Sandang mengaku menyumbangkan 1 petak sawah seharga Rp 100 pada tahun 1950 untuk membeli pesawat yang menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia. Kakek asal Aceh Jaya itu masih ingat betul proses penggalangan dana untuk pembelian alat transportasi udara itu.

Selain menyumbang, Kakek Sandang juga ikut berjuang melawan penjajah dan bertugas sebagai pasukan pengintai. Sebagai kepala kelompok, Sandang bertanggung jawab penuh untuk pemantauan. Jika kapal Belanda muncul, dia segera mengabari pasukan lain yang bertahan di atas Puncak Gureutee di Aceh Jaya, Aceh.




(agse/dhm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads