Di tengah geliat perkebunan yang pernah menjadikan Deli sebagai salah satu pusat ekonomi kolonial di Sumatera Timur, tersimpan kisah lain yang jarang disorot. Bukan tentang tembakau atau karet, melainkan tentang candu, opium yang perlahan mengalir dalam kehidupan masyarakat, dari pelabuhan hingga barak-barak kuli.
Sejarah opium di Deli bukanlah cerita yang dimulai dari kolonialisme. Jauh sebelum kedatangan Belanda, candu telah lebih dulu hadir dan menjadi bagian dari aktivitas perdagangan.
Sejarawan Prof. Dr. Erond Litno Damanik, S.Pd., M.Si menjelaskan keberadaan opium di wilayah ini setidaknya telah tercatat sejak awal abad ke-19.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setidaknya, opium telah ada dan dikenal di Deli pada 1823 dan terang dicatat dalam buku Mission to the East Coast of Sumatra in 1823. Dari Singapura, salah satu impor sultan Deli saat itu adalah opium," ujarnya.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa opium bukanlah barang asing yang diperkenalkan oleh kolonial, melainkan bagian dari jaringan perdagangan global yang telah lebih dulu menjangkau pesisir Sumatera.
Pada masa itu, candu bukanlah sesuatu yang dilarang. Ia hadir sebagai komoditas yang diperjualbelikan secara terbuka, bahkan melibatkan para penguasa lokal dari sultan di wilayah Melayu hingga pemimpin adat di pedalaman seperti Karo dan Simalungun.
Namun, lanskap itu berubah ketika kolonialisme Belanda mulai menancapkan pengaruhnya, terutama melalui sistem perkebunan. Di tengah kerasnya kehidupan kuli perkebunan, opium menemukan peran barunya.
"Opium itu salah satu komoditas ampuh untuk menghilangkan rasa sakit, jauh sebelum masyarakat mengenal pengobatan modern," kata Erond L. Damanik.
Bagi para kuli, candu bukan sekadar pelarian, tetapi menjadi cara untuk bertahan.
"Ketika era perkebunan, opium jamak dipakai para kuli untuk mereduksi penderitaan akibat kerja yang ekstra keras," lanjutnya.
Dalam situasi ini, candu menjadi bagian dari ritme kehidupan mengisi celah antara kerja berat dan kelelahan yang tak kunjung reda.
Namun, ketika peredaran opium semakin meluas, pemerintah kolonial tidak tinggal diam. Alih-alih melarang sepenuhnya, Belanda memilih mengatur dan mengendalikan.
"Opium memang dikendalikan Belanda dan hanya dijual melalui loket tertentu pada hari tertentu saja," jelasnya.
Di loket-loket resmi itu, setiap transaksi dicatat. Pembeli diawasi, jumlah konsumsi dibatasi, dan hanya orang dewasa yang diperbolehkan membeli. Candu, yang sebelumnya bebas, kini berada dalam kendali sistem yang rapi dan terstruktur.
Di balik pengaturan tersebut, tersembunyi kepentingan yang lebih besar yakni ekonomi.
"Hingga 1923, pendapatan dari penjualan opium menyumbang sekitar 13 persen terhadap anggaran negara kolonial," ujar Damanik.
Angka itu menunjukkan bahwa opium bukan sekadar komoditas tambahan, melainkan salah satu sumber pemasukan utama bagi pemerintah kolonial.
Kebijakan ini tidak berjalan tanpa gejolak. Pada 1872, pengambilalihan perdagangan opium dari tangan Datuk Sunggal memicu perlawanan yang dikenal sebagai Perang Sunggal.
"Datuk Sunggal bereaksi karena kehilangan pemasukan dari penjualan opium yang dialihkan ke sistem resmi," katanya.
Di titik ini, opium tidak lagi sekadar barang dagangan atau konsumsi, tetapi telah menjadi bagian dari perebutan kekuasaan dan sumber ekonomi.
Memasuki akhir abad ke-19, kontrol terhadap opium semakin diperketat. Peredarannya dibatasi hanya melalui jalur resmi, dengan sistem distribusi yang terpusat dari Batavia ke berbagai daerah, termasuk Deli.
"Opium hanya diizinkan melalui loket-loket resmi dan peredarannya diawasi secara ketat, termasuk pencatatan konsumennya," tutur Erond L. Damanik.
Larangan bagi anak di bawah umur untuk membeli opium juga menjadi bagian dari kebijakan tersebut, menunjukkan adanya upaya pengendalian yang lebih sistematis.
Namun, seiring berakhirnya era kolonial dan lahirnya Indonesia merdeka, jejak opium perlahan menghilang dari ruang publik. Tidak lagi tercatat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat seperti pada masa sebelumnya.
Sejarah opium di Deli adalah potret kompleks tentang bagaimana sebuah komoditas dapat melampaui fungsinya dari obat, menjadi kebutuhan, lalu berubah menjadi instrumen ekonomi dan kontrol. Di balik kejayaan perkebunan, candu meninggalkan jejak sunyi tentang kehidupan, penderitaan, dan kuasa yang pernah membentuk wajah Sumatera Timur.
Simak Video "Video: Airlangga Sebut RI Nego Tarif Trump 0%, Khusus Sawit hingga Karet"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)