Banyak orang tua yang khawatir karena anaknya terlalu banyak mengonsumsi gula. Sebab, ada keyakinan di masyarakat bahwa anak akan menjadi hiperaktif karena terlalu banyak konsumsi gula.
Ahli Gizi, dr. Eka Febriyanti menyebutkan bahwa menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) batasan gula untuk anak adalah 10% dari total energi yang dibutuhkan oleh seorang anak. Gula yang dimaksud di sini adalah gula tambahan atau added sugar.
"Untuk batas gula ya pada anak, kalau dari WHO gula itu batasannya adalah 10 persen dari seluruh kebutuhan energi total. Gula yang ditambahkan maksudnya, kita bilang added sugar," ujarnya saat diwawancarai detikSumut, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, dr. Eka menjelaskan bahwa orang tua harus terlebih dahulu mengetahui jumlah kebutuhan energi anak per hari nya, karena jumlah ini bisa berbeda di tiap anak. Namun lebih baik lagi jika gula tambahan ini hanya dikonsumsi 20 gram per harinya.
"Kita harus hitung dulu kebutuhan energi total seorang anak itu gitu. Kalau misalnya dia kebutuhan energi totalnya sekitar 1.400 misalnya, berarti maksimal dia boleh konsumsi gula tuh sampai 35 gram. Lebih baik lagi di bawah itu, misalnya 20 gram saja, artinya itu hanya satu sendok gula," jelasnya.
dr. Eka menjelaskan konsumsi gula tidak secara langsung menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Namun pada kasus tertentu, seperti anak yang mengalami ADHD, gula dapat memperburuk gejalanya.
"Secara langsung tidak. Jadi, apakah langsung ketika seorang anak itu konsumsi banyak gula dia menjadi hiperaktif, secara langsung tidak gitu.
Namun pada anak-anak yang misalnya dia mengalami attention deficit disorder kayak ADHD, bisa saja konsumsi gula itu memperburuk gejala," ujarnya.
Namun pada anak anak normal, gula tidak secara langsung menyebabkan Hiperaktif pada anak. Jika dikonsumsi berlebihan, gula justru akan menyebabkan masalah lain seperti obesitas dan kerusakan pada gigi.
"Tapi kalau pada anak-anak normal sih nggak. Gula itu lebih masalahnya ke pada menyebabkan obesitas atau karies gigi," tutupnya.
(astj/astj)