Siapa yang tidak kenal dengan ikan sapu-sapu? Bagi para pecinta akuarium, ikan ini biasanya disebut sebagai pembersih, karena kebiasaannya menempel di kaca dan mengonsumsi lumut. Akan tetapi, di balik kegunaannya sebagai pembersih akuarium, ikan sapu-sapu memiliki aspek lain yang cukup mencemaskan jika dibiarkan hidup di habitat liar.
Dikutip dari detikedu, di Indonesia, ikan ini dikatergorikan sebagai spesies invasif karena kemampuan bertahan hidup yang baik dan pemakan segalanya. Tetapi, keberadaanya di sungai atau di danau justru mengancam kelestarian ikan lokal.
Mari kita bedah lebih dalam mengenai asal-usul dan bahaya dari ikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-Usul Ikan Sapu-Sapu
Berdasarkan penelitian dalam buku "Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys Loricariidae): Taksonomi, Bio-Ekofisiologi, dan Nilai Ekonomis" yang ditulis oleh Andi Iqbal Burhanuddin dkk, ikan sapu-sapu termasuk dalam keluarga Loricariidae, yang merupakan bagian dari ordo Siluriformes, yang dikenal sebagai kelompok ikan lele. Keluarga Loricariidae diakui sebagai kelompok yang sangat signifikan dalam dunia perikanan, mencakup sekitar 92 genera serta lebih dari 680 spesies berbeda.
Ikan yang dikenal secara global sebagai Pleco ini bukanlah asli dari perairan Indonesia. Ikan sapu-sapu berasal dari kawasan Amerika Selatan, khususnya dari Sungai Amazon (area Brasil dan sekitarnya), Kosta Rika, dan Panama.
Sebagai spesies tropis dan subtropis, mereka sangat menyukai lingkungan perairan tawar yang hangat. Karena bentuknya yang khas, ikan ini kemudian diekspor ke seluruh dunia sebagai komoditas ikan hias yang banyak diminati.
Lingkungan asal di Amazon memiliki tingkat persaingan hidup yang sangat sengit. Hal ini menyebabkan ikan sapu-sapu beradaptasi menjadi organisme yang sangat tangguh dan mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi air. Kemampuan ini membuat mereka dapat bertahan meskipun kualitas air di sekitarnya mengalami penurunan.
Menurut skripsi berjudul "Ikan Sapu-sapu Danau Tempe Kabupaten Wajo: Spesies, Komposisi Tubuh Dan Kandungan Logam Berat" yang disusun oleh Nur Sakinah Latuconsina, ikan ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970-an melalui perdagangan ikan hias. Namun, muncul masalah ketika banyak pemilik akuarium melepaskan ikan ini ke perairan umum karena pertumbuhannya yang terlalu cepat dan ukuran yang semakin besar.
Pelepasan yang tidak terkendali ini menyebabkan lonjakan populasi di sungai-sungai besar di Indonesia, salah satunya di Sungai Ciliwung, di mana ikan sapu-sapu kini mendominasi dan menjadi spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem setempat.
Salah satu faktor yang membuat ikan sapu-sapu begitu tangguh adalah desain anatominya. Tidak seperti ikan kebanyakan, tubuhnya dilapisi oleh sisik yang kuat namun tetap lentur, mirip dengan pelat tulang. Bentuk kepala mereka yang datar dan memiliki mulut penghisap yang kokoh di bagian bawah, membuatnya mudah melekat pada batu-batuan atau kaca. Ikan ini juga tidak memilih-milih makanan. Mereka memakan alga, protozoa, jamur mikro, serta bahan organik atau detritus yang terdapat di dasar perairan.
Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemui merupakan bagian dari genus Pterygoplichthys. Data ilmiah mencatat ada dua spesies yang umum ditemukan di perairan kita, yaitu Pterygoplichthys pardalis yang pertama kali dijelaskan pada tahun 1855 dan Pterygoplichthys disjunctivus.
Mengapa Ikan Sapu-Sapu Berbahaya?
Istilah Spesies Invasif diberikan karena kemampuan mereka beradaptasi dengan sangat baik di lingkungan liar. Di alam liar, ikan sapu-sapu menjadi ancaman yang serius karena:
· Mereka sangat rakus dan mampu memenangkan persaingan makanan dengan ikan asli setempat. Akibatnya, populasi ikan lokal bisa punah.
· Karena sering membuat lubang di pinggiran sungai untuk bertelur, keberadaan mereka dalam jumlah besar dapat memicu erosi dan kerusakan struktur sungai.
· Kulitnya yang keras membuat predator alami seperti burung atau ikan besar enggan memangsanya.
Banyak yang merasa penasaran, apakah ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi? Jawabannya, tergantung pada tempat tinggalnya.
Secara teori, daging ikan sapu-sapu diperbolehkan untuk dimakan. Namun, permasalahannya ialah bahwa habitat ikan ini di Indonesia sering kali berada di lokasi yang terkontaminasi oleh limbah dari industri atau rumah tangga. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan untuk menyerap logam berat serta bahan beracun dari lingkungan sekelilingnya.
Apabila kita mengonsumsi ikan yang diambil dari sungai yang tercemar, zat-zat berbahaya ini dapat berpindah ke tubuh manusia dan menyebabkan beragam masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Ikan sapu-sapu adalah contoh mengenai bagaimana pengenalan spesies asing tanpa pengawasan dapat merubah ekosistem. Walaupun mereka sangat bermanfaat sebagai pembersih dalam akuarium, melepaskan ikan tersebut ke alam liar bukanlah pilihan yang bijak.
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di BeritaKlik.com
(nkm/nkm)