Poenale Sanctie, Aturan Kontroversial di Balik Kejayaan Perkebunan Deli

Poenale Sanctie, Aturan Kontroversial di Balik Kejayaan Perkebunan Deli

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Minggu, 10 Mei 2026 13:44 WIB
Potret buruh perkebunan di Deli. Foto: dok. Museum perkebunan II
Foto: Potret buruh perkebunan di Deli. Foto: dok. Museum perkebunan II
Medan -

Kejayaan perkebunan tembakau Deli pada masa kolonial ternyata menyimpan sisi gelap bagi para buruh kontrak. Salah satu aturan yang paling kontroversial saat itu adalah Poenale Sanctie, aturan hukuman bagi pekerja perkebunan yang dianggap melanggar kontrak kerja.

Dalam buku Kisah Dari Deli: Masalah Sosial dan Pembangunan di Kota Medan Jilid II, penulis Erond L. Damanik menjelaskan perkembangan industri perkebunan di Sumatera Timur membawa perubahan besar terhadap ekonomi dan pertumbuhan Kota Medan. Namun di balik pesatnya industri tersebut, kehidupan buruh kontrak di perkebunan juga menjadi sorotan sejarah.

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perusahaan-perusahaan perkebunan di Deli mendatangkan ribuan pekerja dari Jawa, China, dan daerah lain untuk bekerja di perkebunan tembakau. Sistem kerja itu kemudian melahirkan aturan bernama Poenale Sanctie, yaitu hukuman yang diberikan kepada buruh apabila dianggap melanggar kontrak kerja atau mencoba meninggalkan perkebunan tanpa izin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirk Buiskool mengatakan aturan tersebut menjadi bagian dari sistem kerja di perkebunan kolonial. "Pada masa itu, buruh kontrak tidak bisa dengan mudah meninggalkan perkebunan karena terikat aturan kerja yang ketat," ujarnya dalam wawancara penelitian.

ADVERTISEMENT

Kajian mengenai kehidupan buruh kontrak di Deli juga dibahas dalam jurnal dan penelitian karya Jan Breman berjudul Koelies, Planters en Koloniale Politiek. Dalam kajiannya, Jan Breman menjelaskan bahwa sistem perkebunan di Deli dibangun dengan pengawasan ketat terhadap pekerja agar produksi perkebunan tetap berjalan.

"Para pekerja kontrak berada dalam sistem kerja yang membatasi kebebasan mereka selama masa kontrak berlangsung," tulis Jan Breman dalam penelitiannya mengenai buruh perkebunan Deli.

Selain itu, persoalan Poenale Sanctie juga dibahas dalam penelitian Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt, 1870-1979 oleh Ann Laura Stoler. Dalam penelitiannya, Ann Laura Stoler menyebut sistem hukuman di perkebunan Deli menjadi bagian dari kontrol kolonial terhadap tenaga kerja perkebunan.

Menurut sejumlah penelitian sejarah kolonial, buruh yang dianggap melanggar aturan dapat dikenai hukuman fisik, denda, hingga penjara.

Erond L. Damanik juga menjelaskan bahwa perkembangan industri perkebunan di Deli bukan hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melahirkan persoalan sosial di tengah masyarakat kolonial.

Perkebunan memang membawa investasi besar dan menjadikan Sumatera Timur sebagai salah satu pusat ekonomi penting pada masa kolonial. Namun di sisi lain, kehidupan para pekerja kontrak juga menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan perkebunan di Deli.

Sejarah Poenale Sanctie menunjukkan bahwa kejayaan perkebunan tembakau Deli tidak hanya dibangun oleh modal dan perdagangan, tetapi juga oleh ribuan buruh kontrak yang bekerja di bawah sistem kolonial yang ketat.



Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Produksi Tembakau Sintetis, IRT di Majalengka Terancam Hukuman Mati"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads