Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa perundungan masih menjadi persoalan serius yang dialami tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia. Bahkan, berdasarkan berbagai pengaduan yang diterima pemerintah, kasus bullying menjadi laporan yang paling sering disampaikan.
Kepada Komisi IX DPR RI, Budi menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan terus melakukan pemetaan terhadap berbagai bentuk tekanan maupun ancaman yang dihadapi dokter dan tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya. Ancaman tersebut mencakup tuntutan hukum dari pasien, ancaman fisik, hingga perundungan di lingkungan kerja.
"Perundungan bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan, yang pertama yang agak mengagetkan saya, masih banyak yang dikeluhkan oleh dokter adalah perundungan yang masuk ke kami," kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI Kamis (25/6/2025) melansir detikNews.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, terdapat sejumlah laporan terkait dokter yang harus menghadapi proses hukum akibat gugatan pasien. Selain itu, ada pula tenaga kesehatan yang melaporkan ancaman fisik saat menjalankan tugas.
"Misalnya data yang disidangkan di majelis karena dituntut oleh pasien itu ada beberapa. Kemudian masuk ke kementerian karena secara fisik terancam, itu juga ada," ujarnya.
Namun, hasil pemetaan Kemenkes menunjukkan bahwa kasus yang paling banyak ditemukan justru berasal dari perundungan yang dilakukan oleh sesama tenaga kesehatan.
"Ternyata yang paling banyak adalah yang memang mengalami perundungan, dan itu sebagian besar dari teman-teman atau seniornya," kata Budi.
Baca juga: Usulan Menkes Agar Penderita TBC Dapat MBG |
Ia menegaskan pemerintah akan mengidentifikasi setiap bentuk tekanan maupun ketidaknyamanan yang dialami tenaga kesehatan agar dapat dicari solusi serta mekanisme perlindungan yang tepat.
"Nah masing-masing dari kelompok pressure ini atau ketidaknyamanan dokter ini kita akan identifikasi dan kita bereskan satu-satu," ujarnya.
Budi menilai terdapat beberapa jenis ancaman yang memerlukan perhatian khusus. Selain tekanan dari pasien dan ancaman fisik yang kerap muncul di wilayah konflik atau daerah dengan tingkat keamanan tertentu, perundungan antar sejawat menjadi masalah yang paling menonjol.
"Jadi yang menarik adalah ada ancaman dari pasien yang kita mesti jaga, ada ancaman fisik belum tentu dari pasien, terutama di area konflik. Yang paling menarik adalah ancaman pembullyan dari sesama sejawat," katanya.
Menurutnya, praktik tersebut dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari upaya menghalangi dokter yang ingin bertugas di daerah tertentu hingga tekanan dari dokter senior terhadap mereka yang baru memulai karier.
"Contohnya ketika ada satu dokter mau masuk ke daerah lain yang bukan fakultas kedokterannya, ditekan di sana. Atau dia mau masuk kerja ada seniornya. Dan itu merupakan gangguan yang paling banyak yang kita lihat," jelasnya.
Karena itu, Kementerian Kesehatan berkomitmen memperkuat sistem perlindungan bagi tenaga kesehatan, terutama dokter-dokter muda yang dinilai paling rentan menjadi korban tekanan maupun perundungan di lingkungan profesi.
"Ini yang secara sistematis harus kita lindungi, terutama bagi dokter-dokter muda," tegas Budi.
(afb/afb)
