Cerita Keluarga soal Peserta Kopdes-KNPM yang Meninggal: Sempat Ragu untuk Ikut

Cerita Keluarga soal Peserta Kopdes-KNPM yang Meninggal: Sempat Ragu untuk Ikut

Mhd Ilham Pradilla - detikSumut
Jumat, 26 Jun 2026 09:43 WIB
Koalisi Masyarakat Sipil mengkritik soal pelatihan militer dalam program Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan hingga 2 peserta SPPI meninggal dunia. (dok Ist/repro)
Ilustrasi pelatihan militer dalam program Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan hingga 2 peserta SPPI meninggal dunia. (dok Ist/repro)
Padangsidimpuan -

Novia Rahmadhani Sihotang (25), peserta Koperasi Desa dan Nelayan Merah Putih (KDNMP) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil), ternyata sempat ragu sebelum memutuskan mengikuti program tersebut. Keraguan itu terkait status pekerjaan hingga aturan denda bagi peserta yang mengundurkan diri.

Hal itu diungkapkan abang kandung korban yang turut mengantarkan korban pelatihan hingga menemani korban saat menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit, Hary Suanto (28). Menurutnya, adiknya beberapa kali menyampaikan keraguan kepada keluarga setelah dinyatakan lulus seleksi.

"Adik saya sempat ragu untuk maju atau ikut dalam program Nelayan Merah Putih karena prosesnya terlalu singkat. Setelah diumumkan lulus, dia harus segera berangkat dari kampung (Padangsidimpuan) ke Kota Medan untuk memenuhi berkas lanjutan," kata Hary kepada detikSumut melalui telepon selulernya, Kamis (25/6/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Novia merupakan warga Jalan SM Raja, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Hary mengatakan, keraguan pertama muncul karena proses seleksi yang dinilai berlangsung sangat cepat.

"Adik saya sempat ragu untuk maju atau ikut dalam program Nelayan Merah Putih karena prosesnya terlalu singkat. Setelah diumumkan lulus, dia harus segera berangkat dari kampung ke Kota Medan untuk memenuhi berkas lanjutan," kata Hary.

ADVERTISEMENT

Menurut Hary, yang menjadi pertimbangan korban salah satunya itu kejelasan mengenai pekerjaan yang akan diperoleh setelah menyelesaikan program tersebut.

"Ketika mendapatkan kelulusan, dia masih memiliki keraguan terhadap latihan ini. Kami juga belum mengetahui berapa gaji yang akan diterima. Status pekerjaannya juga belum jelas, apakah menjadi PNS atau seperti apa. Yang beredar saat itu hanya informasi bahwa peserta nantinya akan menjadi karyawan BUMN dengan sistem kontrak," ujarnya.

Keraguan tersebut sempat membuat Novia mempertimbangkan kembali keputusannya untuk mengikuti tahapan seleksi lanjutan di Medan. Namun, setelah berdiskusi dengan keluarga, perempuan berusia 25 tahun itu akhirnya memilih melanjutkan proses hingga selesai.

"Dia sempat bertanya kepada keluarga terkait keraguannya. Kami sebagai keluarga mendukung apa pun keputusan yang diambilnya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap melanjutkan," tutur Hary.

Selain persoalan status pekerjaan, ketentuan mengenai denda bagi peserta yang mengundurkan diri juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi Novia. Hary mengaku, saat registrasi ulang dilakukan, keluarga belum menerima informasi mengenai syarat pengunduran diri tersebut.

Menurutnya, surat pernyataan yang memuat ketentuan denda justru baru diberikan setelah proses registrasi ulang selesai.

"Setelah lulus registrasi ulang, dia diterima. Namun kami belum diberikan surat pernyataan terkait syarat-syarat pengunduran diri," ucapnya.

Belakangan baru diketahui bahwa apabila mengundurkan diri akan dikenakan denda hingga puluhan juta rupiah. Itu juga menjadi salah satu hal yang membuat adiknya ragu.

Hary menambahkan, surat pernyataan tersebut bahkan masih berlaku selama peserta menjalani pendidikan dan pelatihan.

"Setelah registrasi ulang, baru keluar surat pernyataan yang berisi perjanjian bahwa peserta yang mengundurkan diri akan dikenakan denda. Surat pernyataan itu juga berlaku sampai masa pendidikan dan pelatihan," ungkapnya.

Meski sempat diliputi berbagai keraguan, dukungan penuh dari keluarga akhirnya korban menekatkan diri untuk berangkat mengikuti program melalui Latsarmil . Namun nahas, ia meninggal dunia saat mengikuti kegiatan tersebut.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads