Cerita Pemulung di TPA Terjun Medan, Mengais Rongsokan Demi Rp 70 Ribu

Cerita Pemulung di TPA Terjun Medan, Mengais Rongsokan Demi Rp 70 Ribu

Juita Sinuhaji - detikSumut
Minggu, 09 Agu 2026 17:03 WIB
Ika Lestari pemulung di TPA Terjun di Keluarahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Minggu (9/8/2026)
Ika Lestari pemulung di TPA Terjun di Keluarahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Minggu (9/8/2026) (Foto: Juita Sinuhaji/detikSumut)
Medan -

Keseharian Ika Lestari (43) lebih banyak dihabiskan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.
Terik matahari dan berbagai resiko bukan kendala dalam mencari barang bekas untuk dijual kembali agar menghasilkan uang.

Disana, Ika mengais rongsokan dan tumpukan limbah rumah tangga berkisar 1,6 ton setiap harinya yang dilimpahkan dari bak truk berwarga kuning. Lalu, tumpukan sampah itu diratakan buldoser yang tidak mengenal lelah dan letih.

Ika dan pemulung lainnya berbekal pengkait besi dan sepatu bot, beradu cepat dengan waktu dan aroma tidak sedap. Mereka memburu botol plastik dan barang - barang yang masih memiliki nilai rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Ika, TPA seluas 14 hektar tersebut bukan muara akhir dari sisa konsumsi harian, melainkan gunung sampah yang memberikan kehidupan bagi anak dan keluarganya. Ika mengaku sudah cukup lama menjalani profesi sebagai pemulung di TPA yang berdiri sejak 1993 tersebut.

"Saya sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung disini, awalnya semenjak berubah tangga," ucap Ika Lestari kepada detikSumut, Minggu (9/8/2026).

ADVERTISEMENT

Ika bercerita, setiap hari dirinya ke Terjun untuk mengais rejeki bersama suaminya dari pagi hingga sore. Ia juga mengatakan rumah miliknya tidak jauh dari TPA sehingga untuk aksesnya ke lokasi dekat.

"Setiap hari saya ke Terjun bersama suami, kami berangkat mulai pukul 10.00 WIB pagi hari atau kadang lebih cepat, lalu pulang sekitar pukul 18.00 WIB. Soalnya rumah kami dekat dengan TPA jadi cepat saja sampai maupun pulang ke rumah," kata Ika.

Meskipun keseharian Ika di Terjun yang dikelilingi oleh lalat, bau tidak sedap dan berbagai resiko yang dihadapi, ia tidak pernah menyerah atas apa terjadi. Ia menuturkan berbagai macam sampah diambil yang memiliki nilai ekonomis.

"Kami carilah yang bisa dijual kembali seperti goni, kaca, ember, botol, plastik, logam dan lainnya. Itu dijual nanti beragam harganya mulai dari Rp 500 perak perkilo, hingga paling mahal logam berkisar Rp 70.000 per kilo," ungkap Ika.

Ia menuturkan, setelah barang - barang rongsokan itu dikumpulkan lalu dijual kepada tengkulak atau tauke. Ika menyebut harga barang tersebut tidaklah sepadan dengan rasa lelah dan resiko yang dihadapi.

"Nanti setelah dikumpulkan dijual ke tengkulak atau tauke, kalau kira - kira sehari bisa menghasilkan berkisar Rp 70.000. Pendapatan tersebut, cukup nggak cukup, kita sisipkan ke anak sekolah dan biaya rumah," jelas Ika.

Ketika ditanyakan, alasan Ika memilih menjadi pemulung di Terjun karena sulitnya mencari pekerjaan dengan umur tidak muda lagi. Tidak hanya itu, latar belakang pendidikan juga menjadi hambatan baginya.

"Saya memilih jadi pemulung ya kalau kerja ditempat lain, saya sudah tua gak ada yang terima dan gimanalah ya aku hanya tamat SMP," keluh Ika.

Ia memandang, banyak yang mengais rejeki ke TPA Terjun dan tidak pilih - pilih pekerjaan. Bahkan ia mengatakan, banyak pemulung dari tempat yang jauh datang hanya untuk mencari rejeki di tempat itu.

"Pemulung dari luar saja mau kerja di Terjun jadi kenapa aku tidak. Rumahku dekatnya, kalau bisa menghasilkan uang kenapa nggak enggak ku ambil," tambah Ika.

Resiko Kerja di TPA

Di samping itu, Ika juga menjelaskan banyaknya rintangan dan resiko ketika mencari barang bekas di TPA setinggi 40 meter itu.

"Rintanganya ya panas, capek, banyak hal akan dijumpai, bauk tak sedak, benda tajam dan resiko penyakit. Apalagi mayat bayi ditemukan, sedih lihatnya kok tega dibuang bayi, kan bisa dititipkan ke panti asuhan atau letakkan di depan bukan dibuat meninggal, kok tega orang tuanya," ujar Ika.

Meskipun banyak tantangan dan resiko, Ika selalu mensyukuri menjadi pemulung bersama suaminya. Bahkan, dengan pendapatan pas - pasaan Ika dan suaminya bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

"Kita nikmati dan disyukuri saja, anak - anak bisa sekolah. Senang juga ada teman - teman disana, ya paling senang kalau ada nemu dompet isinya uang Rp 20.000 ribu atau ada nemu uang," pungkas Ika.



(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads