Wamenperin: Sumut Kaya Akan Produk Pangan, Sumbang Perekonomian Nasional

Wamenperin: Sumut Kaya Akan Produk Pangan, Sumbang Perekonomian Nasional

Juita - detikSumut
Kamis, 12 Feb 2026 00:08 WIB
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza
Foto: Ilyas Fadilah
Medan -

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Sumatera Utara kaya akan produk pangan yang dapat dikelola dengan baik. Ia sebut hasil produk dari Sumut menyumbang perekonomian nasional.

"Begitu kayanya tanah Sumatera Utara ini, tanah di Medan ini, sehingga mampu menyumbang perekonomian nasional. Kaya minyak atsiri, kakao, kelapa, karet, sagu dan berbagai macam produk pangan lainnya," ucap Faisol di Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan, Rabu (11/2/2026).

Faisol menyampaikan beberapa jenis komoditas pangan yang ingin dikembangkan yakni umbi-umbian. Ia menyebut di Medan banyak sekali umbi-umbian yang mungkin tidak ada di Jawa dan komoditas yang penting untuk terus diolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita bisa mengolah umbi, kentang menjadi tepung, kita juga bisa mengolah ketela jadi tepung yang tepungnya bisa digunakan untuk kebutuhan tekstil. Tidak hanya itu, tepungnya bisa digunakan untuk kebutuhan makanan minuman, tepungnya juga bisa digunakan untuk kebutuhan elektronik," kata Faisol.

Ia menyampaikan kekayaan pangan dan produk pangan saat ini yang belum diolah secara maksimal. Ia bertanya kenapa belum diolah?.

ADVERTISEMENT

"Hingga kini kenapa pangan dan produk pangan belum diolah? hasil pangan kita itu pertumbuhannya baru 4,8%. Kontribusinya kepada perekonomian nasional 8,9%," lanjut.

"Tenaga kerjanya yang hari ini terlibat 10 juta orang, ekspornya mencapai 54 miliar US$ dan utilisasi pabriknya baru 57%. Jadi, masih sangat kecil, masih lebih dari 40% pabrik kita bisa kita gunakan lebih optimal.
Tahun 2025 dan 2026 pemerintah menargetkan yang tadi 4,8% pertumbuhannya menjadi 5,23% dan pabriknya bisa optimal hingga 74% dari 53% menjadi 74%," tandasnya.

Ia menyampaikan harapan sekaligus pekerjaan besar, harus ada kolaborasi dan mencontoh negara maju.

"Bahan baku industri kita tidak lagi impor, bisa dipenuhi dengan supply chain atau rantai pasok yang ada didalam negeri. Ini harapan besar, tantangan, sekaligus pekerjaan yang berat harus ada kolaborasi, harus ada kerja sama dan kita bisa mencontoh berbagai keberhasilan yang sudah dicapai oleh negara-negara maju di sektor pangan," tandasnya.


Di sisi lain, ia mengungkapkan tantangan besar industri atas gejolak perang yang belum usai. "Kalau kita mengikuti perkembangan dunia hari ini, perang terjadi di mana-mana. Setelah Ukraina, perang kemudian bergejolak di Timur Tengah, lalu Amerika bergejolak dan sampai hari ini perang belum selesai," ucap Faisol.


Faisol menilai setelah Covid, adanya ancaman seluruh dunia atas rantai pasok industri secara global yang sedang terjadi, termasuk disektor pangan.

"Makanya Bapak Presiden mencanangkan swasembada pangan, yang hari ini stoknya lebih dari 3 juta ton dan berhasil dicapai tahun 2025. Hal tersebut merupakan langkah strategis, dimana kita bisa menjamin pemerintah beserta bangsa kita bisa menjamin pangan kita tercukupi," kata Faisol.

Faisol mengatakan Indonesia masih impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tapi sejak tahun 2025, pemerintah menggalakkan swasembada pangan.

"Pemerintah beserta seluruh jajaran kementerian pertanian dan semua masyarakat, bisa mencukupi kebutuhan sektor pertanian kita dengan melakukan swasembada pangan. Langkah yang dilakukan itu luar biasa, namun demikian, apakah sudah selesai ancaman terhadap industri atau kemandirian pangan kita? Masih belum selesai," imbuhnya.

Ia juga mengatakan perang masih berlangsung, bahkan belakangan, sebulan terakhir, pemerintah Belanda menginstruksikan kepada seluruh warganya. Agar seluruh warga negara Belanda, untuk mulai menabung dan menyimpan bahan makanan dalam waktu yang lama.

"Mereka khawatir perang akan meluas bahkan ke Eropa. Pertemuan pemimpin-pemimpin dunia di Davos, beberapa minggu yang lalu, semua sedang membicarakan kemungkinan Perang Dunia ke-3 terjadi," imbuhnya.

Ia menilai setelah Amerika menahan atau menangkap pemimpin Venezuela, lalu kemudian berencana untuk mengambil alih Greenland di Denmark. Lalu mengancam Iran dengan mengerahkan pasukan dan kapal perangnya Angkatan ke-7 di perairan Timur Tengah.

"Ancaman perang sangat mungkin terjadi, itulah yang kita saksikan di dunia, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan rantai pasok global, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari," tambahnya.

Faisol menduga, ke depanya adanya kemungkinan perang dan ancaman yang terjadi saat ini adalah ancaman terhadap kehidupan, ekonomi dan pangan.

"Maka sangat tepat dan sangat penting, hari ini kita membicarakan tentang kemungkinan kita memperluas, menghidupkan dan meningkatkan industri pangan nasional kita," tandasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: BI Hadapi Tantangan Wujudkan Swasembada Pangan di Sulampua"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads