Kondisi Pasar Pajus Medan kini tidak seramai dulu. Sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet yang cukup signifikan akibat berkurangnya jumlah pengunjung dalam beberapa bulan terakhir.
Kawasan yang dulunya menjadi pusat keramaian mahasiswa dan masyarakat umum ini terlihat semakin sepi. Fitri, pedagang pakaian yang telah berjualan selama hampir 8 tahun di Pajus, mengaku penurunan omzet mulai terasa sejak pasca pandemi hingga saat ini.
"Dulu sehari bisa dapat sampai Rp500 ribu bahkan lebih, sekarang Rp100 ribu saja sudah syukur. Pembeli jauh berkurang, kadang hanya lihat-lihat saja tanpa beli," ungkapnya saat ditemui di lokasi,Rabu (1/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan serupa juga disampaikan Marwah, pedagang aksesoris. Ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi dan maraknya platform belanja online membuat banyak pelanggan beralih.
"Sekarang orang lebih pilih belanja online karena lebih praktis dan banyak promo. Di sini jadi kalah saing. Apalagi kalau tidak ada event, makin sepi," jelasnya.
Selain faktor digitalisasi, pedagang juga menilai minimnya inovasi di kawasan Pajus turut memperparah kondisi. Tidak adanya kegiatan rutin seperti bazar, pertunjukan seni, atau promosi khusus membuat daya tarik Pajus semakin menurun.
Ika, pedagang makanan ringan, berharap ada langkah konkret dari pengelola maupun pemerintah setempat untuk menghidupkan kembali suasana pasar tersebut.
"Kalau ada event atau hiburan mungkin orang jadi tertarik datang lagi. Sekarang suasananya biasa saja, tidak ada yang menarik perhatian," katanya.
Para pedagang berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Mereka optimistis Pajus masih memiliki peluang untuk bangkit, asalkan ada upaya nyata untuk menarik kembali minat pengunjung.
"Kami hanya ingin Pajus ramai seperti dulu lagi. Semoga ada perhatian dan solusi agar kami bisa bertahan," tutup Ika penuh harap.
(afb/afb)
