Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Aceh mengalami inflasi tahunan sebesar 5,12 persen pada Mei 2026. Inflasi tahunan didorong kenaikan harga beras, emas perhiasan, serta nasi dengan lauk.
"Harga barang dan jasa secara umum naik rata-rata sebesar 5,12% dibandingkan Mei tahun lalu," kata Kepala BPS Aceh Agus Andria kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan data inflasi menurut kelompok pengeluaran, kata Agus, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,59 persen. Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan pengaruh deflasi di antaranya tarif air minum PAM, baju muslim wanita, bawang putih, tarif sekolah menengah atas, dan tarif sekolah menengah pertama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS menghitung inflasi di lima kabupaten/kota di Aceh yakni Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Menurutnya, pada bulan tersebut seluruh wilayah penghitungan terjadi inflasi.
"Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, yakni sebesar 6,09 persen, sedangkan paling rendah terdapat di Meulaboh sebesar 3,99 persen," jelasnya.
Sementara secara bulanan, Aceh mengalami inflasi 0,60% dibandingkan April. Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,96 persen dan memberikan andil sebesar 0,37 persen terhadap kenaikan harga.
"Terdapat beberapa komoditas yang mempengaruhi inflasi bulanan, yaitu tomat, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, dan nasi dengan lauk," ujarnya.
Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 0,93 persen, sedangkan paling rendah terdapat di Lhokseumawe sebesar 0,03 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi bulanan yaitu daging ayam ras, ikan tongkol, ikan dencis, emas perhiasan, dan telur ayam ras.
(agse/dhm)