Kenaikan harga kebutuhan pokok di Sumatera Utara (Sumut) membuat konsumsi warga melambat. Selain itu masyarakat juga mulai menggunakan tabungan imbas kenaikan harga bahan pokok.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Ameriza M Moesa menyebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan BI, sebagian masyarakat bahkan mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekanan ekonomi diakuinya membuat konsumsi masyarakat melemah.
"Ada beberapa yang agak melambat yang pertama mungkin konsumsi ya dengan kenaikan harga banyak masyarakat yang menunda konsumsinya. Bahkan sebagian masyarakat berdasarkan survei sudah mulai menggunakan tabungan jadi di sini memang ada sedikit perlambatan," katanya di Medan, Kamis (25/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun begitu, BI menilai perlambatan konsumsi tersebut masih dapat ditopang oleh kinerja sejumlah sektor unggulan Sumatera Utara. Kenaikan harga komoditas global dinilai memberikan keuntungan bagi daerah yang ekonominya masih ditopang sektor berbasis sumber daya alam.
Menurutnya, ekspor komoditas dari Sumatera Utara diperkirakan mengalami peningkatan sehingga mampu mengimbangi perlambatan konsumsi rumah tangga.
Selain itu, sektor pertambangan, khususnya minyak dan gas, diprediksi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah tahun ini.
"Kami lihat bahwa di tengah situasi global yang mengakibatkan harga komunitas ini meningkat kita di Sumatera ini masih resource based ekonomi,jadi ekspor kita juga harganya meningkat. Kami lihat sektor pertambangan dari minyak dan gas ini bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi di tahun ini," ujarnya.
(astj/astj)
