Di balik rimbunnya hutan Desa Budaya Lingga, Kabupaten Karo, tersimpan sebuah situs sunyi yang menjadi saksi awal masuknya Islam di dataran tinggi Karo. Bukan bangunan megah yang menjulang, melainkan sebuah makam sederhana yang menyatu dengan alam. Inilah Kuburan Nini Tengku.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II dalam unggahan resminya menulis, "Bukan bangunan megah yang menjulang menantang langit, melainkan sebuah situs yang merunduk tawadhu. Situs berupa kubur dengan bangunan sederhana ini berada dalam rimbun hutan." Dari sanalah kisah panjang tentang perjumpaan budaya, agama, dan kearifan lokal bermula.
Makam Tua di Tengah Rimba
Secara fisik, makam Nini Tengku tampak menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Susunan batu alam berlumut menjadi fondasi bangunan kayu sederhana yang menaungi nisan kuno berkepala bulat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nisan ini adalah artefak otentik yang menandakan usia situs yang telah mencapai ratusan tahun," tulis BPK Wilayah II.
Keheningan situs ini justru memperkuat kesan sakral. Lapisan lumut, pakis, dan suplir tumbuh subur di atap ijuk dan celah kayu tua. Akar pohon beringin besar melilit dan menaungi makam, menciptakan suasana alami yang sejuk dan teduh.
Simbol Ingatan yang Tak Pudar
Salah satu detail yang mencolok adalah kain putih yang terpasang melingkar di bangunan makam. BPK Wilayah II mencatat kain putih ini bersinar sebagai simbol bahwa 'ingatan' masyarakat tidak pernah pudar.
Kain tersebut menjadi tanda penghormatan yang masih hidup, penanda bahwa doa dan ingatan masyarakat Desa Lingga kepada Nini Tengku terus mengalir meski zaman berganti.
Dalam pandangan pelestarian, kondisi makam yang tampak alami justru menjadi bentuk konservasi tersendiri. "Nampak tidak terawat tetapi begitulah keadaannya seperti hasil simbiosis makam sosok yang dimuliakan dengan rimbunnya hutan," tulis BPK.
Sosok Nini Tengku
Menurut penjelasan BPK Wilayah II, Nini Tengku dikenal sebagai seorang musafir sekaligus ulama dari Aceh yang datang ke dataran tinggi Karo pada masa lalu. Sosok ini dikenal masyarakat Karo sebagai 'orang pintar' yang mampu mengobati orang sakit.
Namun perannya tidak berhenti di situ. "Ia tidak cuma menyembuhkan raga, Nini Tengku juga mengajarkan teknik bercocok tanam baru kepada penduduk setempat," tulis BPK Wilayah II.
Pengetahuan pengobatan dan pertanian inilah yang menjadi pintu masuk perjumpaan Nini Tengku dengan masyarakat Karo.
Jembatan Budaya dan Keyakinan
Kehadiran Nini Tengku perlahan memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat tanpa menanggalkan kearifan lokal. "Figur Nini Tengku menjadi jembatan yang menghubungkan keyakinan baru yang dibawanya dengan kearifan lokal," tulis BPK Wilayah II.
Cara hidup dan nilai-nilai yang dibawa Nini Tengku diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Desa Lingga dan Surbakti. Proses ini memperlihatkan bagaimana Islam tumbuh di Tanah Karo melalui dialog, keteladanan, dan praktik keseharian, bukan melalui paksaan.
Saksi Bisu Pelestarian
BPK Wilayah II menyebut Kuburan Nini Tengku sebagai saksi bisu yang paling jujur. Situs ini mengajarkan bahwa pelestarian tidak selalu berarti memugar bangunan menjadi baru. Keutuhan hubungan antara situs, alam, dan ingatan kolektif masyarakat justru menjadi nilai utama yang dijaga hingga kini.
Di tengah arus modernisasi, Kuburan Nini Tengku tetap berdiri dalam kesunyian hutan, menyampaikan kisah tentang awal Islam di Tanah Karo-sebuah kisah yang tumbuh pelan, menyatu dengan alam, dan hidup dalam ingatan masyarakat.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di BeritaKlik.
(afb/afb)
