Menilik Sejarah Masjid Agung Sibolga, jadi Jangkar Iman di Tapian Nauli

Menilik Sejarah Masjid Agung Sibolga, jadi Jangkar Iman di Tapian Nauli

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Jumat, 27 Feb 2026 10:51 WIB
Masjid Agung Sibolga
Foto: Masjid Agung Sibolga (Dok. detikTravel)
Sibolga -

Di antara deretan bukit terjal dan deburan ombak Samudera Hindia, Masjid Agung Sibolga berdiri sebagai simbol kemegahan spiritual di pantai barat Sumatera Utara. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini adalah saksi bisu transformasi Sibolga dari pelabuhan kuno menjadi pusat peradaban Muslim yang inklusif di 'Negeri Berbilang Kaum'.

Masjid Agung Sibolga pertama kali didirikan pada tahun 1908, sebuah periode krusial saat semangat Pergerakan Nasional mulai membara di Nusantara. Diinisiasi oleh tokoh-tokoh lokal, pembangunan masjid ini berawal dari kebutuhan masyarakat pelabuhan akan pusat dakwah yang representatif.

Dalam buku sejarah terbaru, Perjuangan Membangun Rumah Allah Masjid Agung Sibolga Dalam Lintasan Sejarah (2025), Dr. H. Afifi Lubis, S.H., M.M. mengungkapkan masjid ini adalah manifestasi pengabdian masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembangunan Masjid Agung Sibolga adalah buah dari riset mendalam tentang perjuangan kolektif. Ia bukan hanya bangunan fisik, melainkan manifestasi pengabdian masyarakat Sibolga yang secara gotong-royong mengubah masjid kayu menjadi simbol kekuatan umat di pesisir barat," demikian tertulis dalam buku itu.

Pada awal berdirinya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana yang dipimpin oleh Imam Haluddin dan dilanjutkan oleh H. Jamaluddin. Mengingat Sibolga adalah kota pelabuhan internasional, arsitektur masjid ini terus berkembang mengikuti zaman.

ADVERTISEMENT

Fakta unik dari masjid ini adalah menaranya yang ikonik. Selain sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan, menara Masjid Agung Sibolga secara historis berfungsi sebagai mercusuar spiritual bagi para nelayan dan pelaut yang hendak bersandar di Teluk Tapian Nauli. Peran strategis ini ditegaskan dalam berbagai catatan sosial kemasyarakatan sebagai titik temu etnis Melayu, Minang, Batak, hingga keturunan Arab.

Menjalankan ibadah Ramadhan di Masjid Agung Sibolga menawarkan atmosfer yang berbeda. Suara adzan yang memantul di perbukitan dan aroma laut yang segar menjadi latar belakang setiap sujud jemaah. Tradisi kebersamaan di sini sangat kental, mencerminkan kerukunan antar-etnis yang telah terjaga sejak masa kolonial.

Sebagaimana sering diulas dalam diskusi mengenai Sejarah Sosial Kota Sibolga, keberadaan masjid ini menjadi jangkar yang menyatukan masyarakat heterogen Sibolga agar tetap rukun dalam satu naungan iman.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads