Mangokal Holi, Tradisi Batak Memindahkan Tulang Leluhur sebagai Penghormatan

Mangokal Holi, Tradisi Batak Memindahkan Tulang Leluhur sebagai Penghormatan

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Selasa, 10 Mar 2026 06:00 WIB
Pembersihan tulang menggunakan jeruk purut dalam mangokal holi
Foto: Ilustrasi. Pembersihan tulang menggunakan jeruk purut dalam mangokal holi. (Dok. Taman Budaya Sumut)
Medan -

Dalam tradisi masyarakat Batak, terdapat sebuah ritual adat yang sarat makna penghormatan terhadap leluhur yang dikenal sebagai Mangokal Holi. Tradisi ini merupakan prosesi menggali kembali tulang-belulang anggota keluarga yang telah lama dimakamkan untuk kemudian dipindahkan ke makam keluarga atau tambak.

Menurut penjelasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, ritual ini menjadi salah satu cara masyarakat Batak menjaga hubungan spiritual dengan leluhur sekaligus memperkuat identitas keluarga dan marga.

"Mangokkal holi merupakan ritual masyarakat Batak menggali kembali tulang-belulang dari makam anggota keluarga untuk dipindahkan dan disemayamkan di tambak keluarga," tulis BPK Wilayah II.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tambak sendiri merupakan bangunan makam keluarga yang digunakan untuk menempatkan tulang-belulang anggota keluarga dalam satu garis keturunan.

"Penempatan ini menjadi cara keturunan yang masih hidup menghormati leluhur sekaligus mengukuhkan silsilah marga dan keluarga," tulis BPK Wilayah II.

ADVERTISEMENT

Diawali Permohonan Restu Kepada Keluarga Besar

Sebelum ritual dilaksanakan, keluarga besar terlebih dahulu melakukan berbagai rangkaian adat. Salah satu tahap awal adalah meminta izin dan restu kepada pihak hula-hula, yakni keluarga dari garis ibu yang memiliki posisi penting dalam struktur adat Batak.

"Beberapa rangkaian ritual harus dilakukan sebelum mangokkal holi dilaksanakan," tulis BPK Wilayah II.

Selain hula-hula, pihak keluarga juga mengundang Bona ni Ari, Tulang, serta kerabat lainnya untuk hadir dalam proses adat tersebut.

Tahap berikutnya adalah Martonggo Raja, yaitu musyawarah keluarga untuk membahas seluruh persiapan ritual.

"Martonggo raja dilakukan sebelum hari pelaksanaan mangokkal holi untuk membahas penentuan hari baik, biaya, tata cara pelaksanaan, serta pihak-pihak yang akan diundang," tulis BPK Wilayah II.

Prosesi Penggalian Tulang Leluhur

Puncak ritual Mangokal Holi adalah penggalian makam leluhur yang dilakukan secara bergantian oleh anggota keluarga sesuai dengan urutan adat.

"Setiap anggota keluarga yang hadir diberi kesempatan untuk menggali makam secara bergantian," tulis BPK Wilayah II.

Penggalian biasanya diawali oleh pihak Bona ni Ari, kemudian dilanjutkan oleh Tulang, dan selanjutnya oleh pihak paranak atau keturunan laki-laki.

"Bona ni ari mengawali penggalian dengan tiga kali ayunan cangkul, disusul Tulang dan pihak paranak dengan ayunan yang sama," tulis BPK Wilayah II.

Setelah tulang-belulang ditemukan, tulang tersebut dibersihkan sebelum dipindahkan ke tambak keluarga.

"Tulang-belulang yang ditemukan dibersihkan dari tanah sebelum dibungkus kain putih," tulis BPK Wilayah II.

Dalam beberapa praktik adat, tulang juga dilumuri kunyit atau hunuk sebagai simbol kesucian dan penghormatan.

"Hunuk berfungsi mengawetkan warna tulang-belulang sekaligus sebagai pelambang kesucian dan penghormatan," tulis BPK Wilayah II.

Simbol Penguatan Identitas Marga

Dalam kajian antropologi, tradisi pemindahan tulang leluhur seperti Mangokal Holi memiliki makna penting dalam sistem kekerabatan masyarakat Batak.

Antropolog Belanda J.C. Vergouwen dalam bukunya The Social Organization and Customary Law of the Toba-Batak of Northern Sumatra menjelaskan bahwa ritual tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap nenek moyang sekaligus penguatan identitas keluarga.

"Pemindahan tulang leluhur ke makam keluarga merupakan simbol penghormatan kepada nenek moyang sekaligus penguatan identitas kekerabatan dalam masyarakat Batak," tulis Vergouwen.

Pandangan serupa juga disampaikan antropolog Indonesia Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi, yang menyebut bahwa penghormatan terhadap leluhur merupakan bagian penting dari sistem budaya masyarakat tradisional di Indonesia.

"Dalam banyak masyarakat di Indonesia, penghormatan terhadap leluhur merupakan unsur penting dalam sistem nilai budaya dan kekerabatan," tulis Koentjaraningrat.

Diakhiri dengan Jamuan Adat

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, keluarga biasanya mengadakan jamuan makan bersama sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat hubungan kekerabatan.

"Seluruh rangkaian ritual itu diakhiri dengan jamuan makan," tulis BPK Wilayah II.

Dalam beberapa pelaksanaan adat, keluarga bahkan menyembelih hewan seperti kerbau sebagai bagian dari hidangan adat.

"Satu atau dua ekor kerbau biasanya disembelih untuk dijadikan lauk dalam ritual ini," tulis BPK Wilayah II.

Hingga kini, Mangokal Holi masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Batak, terutama oleh keluarga yang ingin memindahkan tulang leluhur ke dalam makam keluarga sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian tradisi.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di BeritaKlik.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Mengunjungi Maha Vihara Duta Maitreya dan Rasakan Ritual Unik di Batam "
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads