Viral Trend Tingkuluak Sajadah di TikTok, Ini Sejarah-Maknanya

Sumatera Barat

Viral Trend Tingkuluak Sajadah di TikTok, Ini Sejarah-Maknanya

Aisyah Luthfi - detikSumut
Selasa, 17 Mar 2026 13:24 WIB
Ilustrasi Tingkuluak menggunakan sajadah
Foto: Ilustrasi Tingkuluak menggunakan sajadah (Dok. Gemini AI)
Padang -

Belakangan ini, linimasa TikTok diramaikan oleh tren kreatif membuat penutup kepala tradisional Minangkabau menggunakan selembar sajadah. Tren "Tingkuluak Sajadah" ini banyak diikuti oleh masyarakat karena caranya yang mudah dan praktis untuk menghasilkan tampilan yang anggun.

Namun, di balik kepopulerannya sebagai tren media sosial, tahukah detikers apa sebenarnya tingkuluak dalam tatanan adat Minangkabau? Bukan sekadar kain penutup kepala, aksesori ini menyimpan sejarah, filosofi, dan ragam bentuk yang luar biasa. Berikut detikSumut sajikan rangkuman informasinya.

Apa Itu Tingkuluak?

Kekayaan budaya Minangkabau salah satunya terpancar kuat melalui busana adat kaum perempuannya yang berkesan mewah dan sering kali dihiasi sulaman benang emas. Bagian paling ikonik dari busana ini adalah penutup kepalanya yang menyerupai atap bergonjong Rumah Gadang, yang disebut tingkuluak atau tikuluak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Gouzali Saydan dalam Kamus Lengkap Bahasa Minang, tingkuluak adalah kain penutup kepala wanita yang berpakaian adat di Minangkabau. Aksesori ini dibentuk sedemikian rupa dari kain panjang dan penggunaannya disesuaikan dengan peran serta fungsi si pemakai.

Ibenzani Usman dalam karyanya "Perubahan-Perubahan Motif, Pola dan Material Pakaian Adat Pria Minangkabau" menjelaskan bahwa pakaian tradisional ini bukan hanya berfungsi untuk upacara keagamaan atau adat, melainkan juga cerminan kepribadian dan prestise (marwah) bagi pemiliknya.

ADVERTISEMENT

Saksi Bisu Perjuangan Perempuan Minang

Tingkuluak tidak lepas dari sejarah kemandirian perempuan Minangkabau. Dalam buku Perempuan dan Modernitas karya Selfi Mahat Putri, disebutkan bahwa tingkuluak sudah umum digunakan pada awal abad ke-20 dan menjadi saksi bisu perjuangan ekonomi kaum hawa.

Pada masa itu, laki-laki Minang dikenal gemar merantau. Sering kali, istri yang ditinggalkan tidak diberi nafkah atau bahkan suaminya tak kunjung memberi kabar. Untuk bertahan hidup, para perempuan ini berdagang dari satu pasar ke pasar lain (seperti di Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh) dengan mengenakan baju kuruang dan tingkuluak, sembari menjunjung katidiang (keranjang) berisi barang dagangan.

Secara filosofis, bentuk persegi panjang pada tingkuluak melambangkan musyawarah yang adil dan mengisyaratkan kedudukan bundo kanduang sebagai 'limpapeh rumah nan gadang' (tiang penyangga rumah). Kedudukan ini sejajar dengan seorang datuak atau penghulu. Sementara ujung kain di sebelah kanan melambangkan harapan agar perempuan selalu berbuat kebaikan.

7 Ragam Tingkuluak Minangkabau

Tingkuluak hadir dalam berbagai variasi sebagai simbol status dan peran sosial. Merujuk pada data Pemprov Sumbar, Museum Adityawarman, dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berikut adalah 7 jenis tingkuluak:

1. Tingkuluak Tanduak

Bentuknya paling populer, menyerupai tanduk kerbau dengan dua sisi meruncing. Biasa dipakai oleh bundo kanduang, penari adat, atau pengiring pengantin. Bagian atasnya yang datar melambangkan sifat adil dan tidak memihak dalam mengambil keputusan keluarga. Tingkuluak ini biasanya terbuat dari kain balapak tenunan Pandai Sikek.

2. Tingkuluak Bundo Kanduang

Memiliki bentuk melingkar dan secara khusus dikenakan oleh perempuan dewasa yang telah menikah saat menghadiri upacara resmi adat.

3. Tingkuluak Koto Gadang

Identik dengan pengantin perempuan Koto Gadang. Bentuknya lebih sederhana menyerupai selendang, namun sangat megah karena terbuat dari bahan beludru dengan hiasan sulaman benang emas atau perak dan manik-manik.

4. Tingkuluak Balapak Sungayang

Berasal dari Nagari Sungayang, Tanah Datar. Bentuknya menyerupai gonjong Rumah Gadang dengan ujung kanan kain terurai. Penggunaannya sangat eksklusif, hanya boleh dipakai oleh perempuan Sungayang yang sudah menikah dan memiliki garis keturunan Datuak atau istri Penghulu.

5. Tingkuluak Batik Baikek

Berasal dari Payakumbuh, terbuat dari kain batik katun berwarna dasar oranye dengan motif batik tulis. Biasanya dikenakan oleh ibu-ibu berusia 50 tahun ke atas dalam acara balambang urek (memenuhi undangan adat).

6. Tingkuluak Kompong (Basipek)

Digunakan oleh wanita muda di Payakumbuh. Dililitkan pada kening dengan bagian muka agak meninggi. Penutup kepala ini berfungsi religius sebagai tanda ketaatan pada syariat dan adat. Biasanya dipakai saat menanti tamu, dipadukan dengan baju kuruang basiba.

7. Tingkuluak Tanah Liat

Khas dari daerah Lintau, Kabupaten Tanah Datar, dan biasa dipakai oleh wanita saat pergi menyirih (mengundang kenduri). Bentuknya dililitkan ke kepala dengan ujung lepas ke belakang, menyerupai gumpalan tanah liat, melambangkan kebersahajaan dan nilai estetis.

Nah itulah informasi tentang Tingkuluak Minangkabau. Di balik trend viral di TIktok ternyata, selembar tingkuluak menyimpan makna yang sangat dalam dan mengagumkan bagi perempuan Minangkabau.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads