Pengunjung Ngeluh Istana Maimun Seperti Pasar, Ini Penjelasan Pemandu Wisata

Pengunjung Ngeluh Istana Maimun Seperti Pasar, Ini Penjelasan Pemandu Wisata

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Minggu, 22 Mar 2026 20:29 WIB
Suasana ramai pedagang seperti pasar di Istana Maimun Medan
Foto: Suasana seperti pasar di Istana Maimun Medan. (Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Medan -

Beberapa pengunjung mengeluhkan kondisi Istana Maimun yang dipenuhi pedagang. Seorang pengunjung, Biko (29) menilai, bagian dalam Istana Maimun sudah seperti pasar lantaran dijadikan tempat jualan di berbagai sisi.

"Saya agak kaget pas masuk ke dalam isinya sudah dagangan semua, dulu masih bisa melihat-lihat ruangannya, sekarang sampai di ruang tengah pun ada steling orang jualan," kata Biko saat diwawancarai detikSumut, Minggu (22/3/2026).

Biko mengaku menyayangkan kondisi Istana Maimun sebagai bangunan bersejarah. Ia membandingkannya dengan kondisi bangunan-bangunan bersejarah lainnya di luar Kota Medan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jujur saya prihatin melihat kondisinya sudah seperti ini, sekitar 10 tahun lalu waktu saya masih kecil, kondisinya belum begini. Papan-papan berisi cerita tentang sultan deli dari masa ke masa sudah enggak ada, ruangannya enggak ada lagi yang bisa dilihat, udah jadi lapak jualan," katanya.

Pengunjung lainnya, Nadia (32) mengaku heran lantaran pengunjung tidak bisa mendapatkan akses ke cerita tentang sejarah Istana Maimun secara mandiri.

ADVERTISEMENT

"Saya mikirnya kalau enggak pakai guide tetap bisa discan itu barcode yang ada di dinding-dindingnya, jadi bisa belajar sejarahnya secara mandiri. Rupanya pas saya scan, websitenya eror," kata Nadia.

Terkait hal ini, Pemandu Wisata Istana Maimun, Fajri menilai perlu adanya kesadaran internal dari pihak keluarga Kesultanan Deli yang masih tinggal di Istana Maimun.

"Yang pertama itu perlu ada kesadaran internal. Karena kan banyak di dalam itu adalah keluarga daripada Sultan Deli. Ya mungkin antar setiap keluarga itu harus memiliki kesadaran yang penuh bahwasannya ini tempat wisata, bangunan bersejarah yang harus dilindungi dan dirawat," katanya.

Menurut Fajri, komunikasi antara pihak yayasan dan keluarga Sultan Deli juga harus intensif untuk memperbaiki kondisi Istana Maimun saat ini.

"Jadi untuk goalsnya juga bisa dicapai sama-sama, karena sejauh ini kayak antara keduanya masih kurang komunikasinya lah. Karena seperti banyak yang jualan kan menurut kebanyakan tamu ini adalah istana, tapi ketika datang kok jadi kayak pasar, banyak yang jualan," ungkapnya.

Akan Jadi Bangunan Bersejarah Nasional

Fajri menyebut, pada Februari 2026 lalu, Istana Maimun telah masuk sebagai bangunan bersejarah nasional yang ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi.

"Nah, berita baiknya adalah karena kan di tahun 2000-an itu kan Istana Maimun masuk dalam kategori bangunan bersejarah itu kan dari daerah. Cuman di awal Februari kemarin, kalau gak salah saya, itu dia udah masuk dalam bangunan bersejarah nasional kategorinya. Jadi itu dibawah nanungan MK kalau saya tidak salah," ujarnya.

Menurut Fajri, jika sudah menjadi bangunan bersejarah nasional, Istana Maimun akan lebih tertata sebagaimana istana bersejarah pada umumnya.

"Dan itu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh istana, itu akan dibentuk seperti istana pada umumnya. Yang kedua adalah clear up lah. Pemindahan keluarga, pemindahan dari orang yang tinggal di dalam. Jadi semua ruangan yang tadi dibatasi, kita bisa eksplor semuanya. Tapi itu bakal ada step by stepnya," ungkapnya.

Dikatakan Fajri, akan membutuhkan proses yang cukup panjang untuk menata estetika Istana Maimun. Namun, ia berharap hal itu bisa segera terlaksana.

"Karena kan agak susah ya untuk mengatur, apalagi bukan tanah kita. Jadi dari MK juga sudah memberikan statement seperti itu, jadi kalau tidak mau keluarga juga harus mematuhi peraturan dari negara," pungkasnya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads