Tari Serampang XII (dua belas) menjadi salah satu ikon kesenian Melayu yang sarat makna dan perjalanan panjang. Di balik gerakannya yang lincah, tersimpan sejarah perkembangan budaya yang tidak lepas dari peran para tokoh seni di Sumatera Utara.
Budayawan Melayu, M. Muhar, menjelaskan bahwa tarian ini berakar dari tari Melayu lama bernama Tari Pulau Sari. Pada masa awal, tarian tersebut memiliki durasi panjang dan belum tersusun secara koreografis.
"Awalnya tari Pulau Sari itu panjang sekali, bahkan sering dijadikan ajang untuk menguji ketahanan penari karena belum ada pola gerak yang baku," ujarnya, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan tari ini tidak lepas dari peran Sauti bersama OK. Adram yang pernah menampilkannya pada 1938 di Grand Hotel Medan. Namun, keduanya memiliki pandangan berbeda dalam mengembangkan tarian tersebut.
"Sauti ingin menyederhanakan gerakan agar mudah dipelajari secara massal, sedangkan OK. Adram tetap mempertahankan gaya klasik yang mengutamakan spontanitas," kata Muhar.
Perbedaan itu justru menjadi titik penting dalam penyempurnaan tarian. Kritik dari Andjar Asmara mendorong Sauti untuk merancang ulang tarian menjadi lebih terstruktur.
"Melalui proses panjang, Sauri berhasil mengembangkan Serampang Dua belas menjadi tarian yang memiliki pola gerak jelas dan nilai estetika tinggi," ungkapnya.
Pada 1941, tarian ini kembali dipentaskan dalam kegiatan amal untuk korban banjir di Serdang dan semakin dikenal luas. Puncaknya, tarian ini ditampilkan untuk menyambut Soekarno di Medan pada 1951.
"Puncak pengakuan terjadi ketika tari ini ditampilkan untuk menyambut Soekarno pada tahun 1951 di Medan, serta semakin populer setelah dipentaskan kembali pada tahun 1952 bersama pasangannya Khalijah Abidin," jelas Muhar.
Makna di Balik 12 Ragam Gerak
Serampang Dua Belas terdiri dari 12 bagian yang menggambarkan perjalanan cinta sepasang muda-mudi, mulai dari pertemuan hingga menuju pernikahan.
"Dua belas ragam itu bukan sekadar gerakan, tapi cerita utuh tentang proses hubungan yang beretika dalam budaya Melayu," kata Muhar.
Kata Muhar, setiap ragam memiliki makna tersendiri, seperti permulaan (pertemuan), berjalan (cinta mulai tumbuh), hingga selampai atau saputangan yang melambangkan pertemuan kasih yang mesra. Gerakan ditampilkan berpasangan dengan tempo cepat, mencerminkan keharmonisan, kesopanan, dan kegembiraan dalam menjalin hubungan.
Nilai Budaya yang Dijunjung
Lebih dari sekadar pertunjukan, tarian ini mengandung nilai-nilai penting dalam kehidupan masyarakat Melayu.
"Tarian ini mengandung nilai-nilai penting dalam budaya Melayu, seperti adab dan sopan santun, hubungan pria dan wanita harus dijaga dengan etika" ujarnya.
Nilai keseriusan dalam cinta, kebersamaan, hingga pentingnya restu keluarga juga menjadi pesan utama yang disampaikan. Tarian ini mencerminkan identitas Melayu yang menjunjung tinggi norma dan tata krama.
Relevansi di Zaman Sekarang
Muhar menilai, secara esensi makna tarian ini tidak berubah, meskipun fungsi pertunjukannya mengalami pergeseran.
"Sekarang lebih banyak ditampilkan sebagai hiburan atau festival, tapi nilai dasarnya tetap sama," katanya.
Menurutnya, tantangan saat ini adalah menjaga agar makna filosofisnya tetap dipahami, tidak sekadar menjadi tontonan.
"Serampang Dua Belas itu bukan hanya indah dilihat, tapi juga mengajarkan bagaimana mencintai dengan cara yang beretika," pungkasnya.
Simak Video "Video: Serba-serbi Petunjukan Seni Budaya Gelaran CT ARSA di Lumajang"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)