Kisah Legenda Pulau Simardan di Tanjungbalai, Mirip Cerita Malin Kundang

Kisah Legenda Pulau Simardan di Tanjungbalai, Mirip Cerita Malin Kundang

Siti Asyaroh - detikSumut
Senin, 04 Mei 2026 23:20 WIB
Ilustrasi kisah Pulau Simardan (doc. Gemini AI)
Foto: Ilustrasi kisah Pulau Simardan (doc. Gemini AI)
Medan -

Ada kisah cerita rakyat tentang terbentuknya Pulau Simardan di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut). Ceritanya tidak jauh berbeda dengan kisah anak durhaka bernama Malin Kundang asal Sumatera Barat (Sumbar).

Dosen sejarah Universitas Sumatera Utara, M. Azis Risky Lubis, menjelaskan bahwa penamaan Pulau Simardan berasal dari kisah seorang anak bernama Mardan yang hidup dalam keterbatasan bersama ibunya setelah sang ayah meninggal dunia.

"Penamaan Pulau Simardan bermula dari seorang anak yang bernama Mardan. Mardan merupakan seorang anak yang berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah. Iya hanya tinggal berdua dengan ibunya, karena ayahnya sudah meninggal," jelasnya, Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kisah tersebut, Mardan disebut mendapatkan wangsit melalui mimpi tentang harta karun yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Ia kemudian menemukan harta tersebut dan memutuskan pergi ke negeri seberang untuk mengubah nasibnya.

ADVERTISEMENT

Namun, setelah lama tak kembali, Mardan pulang dengan kondisi yang jauh berbeda. Ia datang dengan kapal besar, pengawal, serta seorang istri yang cantik.

Kepulangannya sempat menjadi kabar bahagia, tetapi berubah menjadi kisah tragis ketika ia justru memperlakukan ibunya dengan kasar karena merasa malu dengan kondisi sang ibu.

"Namun, bak air susu dibalas dengan air tuba, Mardan yang sudah memiliki segalanya malah menyakiti orang tua yang melahirkannya tersebut. Mardan bersikap kasar karena merasa malu kepada istrinya, karena ibunya orang miskin. Tidak tahan dengan perlakuan kasar mardan, ibunya kemudian berdo'a agar diberikan petunjuk," lanjutnya.

Doa sang ibu kemudian diyakini dikabulkan. Angin kencang datang menghantam kapal Mardan hingga hancur. Mardan pun tenggelam ke laut dan berubah menjadi sebuah pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Simardan.

Kisah ini, meski tergolong folklore, dinilai memiliki makna yang dalam dan tidak bisa dianggap remeh. Menurut Azis, cerita Si Mardan merupakan bagian dari pola besar tradisi lisan di Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kisah lain, seperti legenda anak durhaka di berbagai daerah.

"Kisah si Mardan merupakan bagian dari pola besar dalam tradisi lisan di Nusantara. Ada banyak kisah serupa yang hidup di Masyarakat kita. Di Sidimpuan/ Tapanuli Selatan, ada kisah Sampuraga, di Sumatera Barat ada kisah Malin Kundang," tuturnya.

Azis menambahkan, dari kisah-kisah tersebut, masyarakat diajarkan nilai bakti kepada orang tua dengan konsekuensi yang tegas. Pulau Simardan bukan hanya sekadar tempat, tetapi juga menjadi simbol atau "monumen moral" yang mengingatkan pentingnya hubungan anak dan orang tua.

"Dalam kehidupan sosial, kisah pulau simardan berperan untuk mengontrol perilaku, terutama untuk mendidik anak agar hormat kepada orang tua," tambahnya.

Seiring waktu, Pulau Simardan mengalami berbagai perubahan. Dahulu dikenal sebagai lokasi penjara, kini kawasan tersebut telah berkembang menjadi ruang hidup bagi sebagian masyarakat Kota Tanjung Balai dan menjadi salah satu kelurahan di Kecamatan Datuk Bandar Timur.

Meski telah berubah secara fungsi, legenda Si Mardan tetap hidup sebagai identitas kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Artikel ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di BeritaKlik

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video KETIK: Benar Nggak Sih Malin Kundang Itu Durhaka?"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads