Tradisi mandi Taman menjadi salah satu rangkaian adat pernikahan Melayu yang masih dikenal di Sumatera Utara (Sumut). Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang pernikahan sebagai bentuk persiapan kedua mempelai sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Dalam masyarakat Melayu, tradisi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai prosesi adat, tetapi juga sarat nilai kebersamaan, doa, dan harapan baik bagi pasangan pengantin. Tradisi mandi Taman di Sumut juga dikenal dengan sebutan mandi bardimbar, mandi berhias, atau bergumba.
Budayawan Melayu, T. Muhar, mengatakan tradisi mandi taman dalam budaya Melayu memiliki makna simbolis bagi kedua mempelai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tradisi mandi taman atau untuk di Melayu di Sumatera Utara disebut juga Mandi Berdimbar, Mandi Berhias, atau Bergumba, dalam budaya Melayu pada dasarnya bermakna sebagai simbol penyucian, kebersamaan, serta doa keselamatan bagi kedua mempelai sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Tradisi ini juga menjadi lambang suka cita keluarga dan masyarakat dalam menyambut pasangan pengantin," ujarnya pada detikSumut, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, pada masa dahulu mandi berdimbar menjadi salah satu acara adat paling meriah dalam rangkaian perkawinan Melayu.
"Di masa dahulu, mandi berdimbar merupakan salah satu acara adat yang paling meriah dalam rangkaian perkawinan Melayu, bahkan menjadi puncak hiburan keluarga dan masyarakat. Selain unsur adat, di dalamnya juga terkandung makna membuang hangal (hal negatif), memohon keberkahan, mempererat hubungan kekeluargaan, dan memperlihatkan semangat gotong royong masyarakat Melayu," katanya.
Prosesi mandi berdimbar biasanya dilakukan di halaman rumah pada waktu petang. Tempat pelaksanaannya dibuat khusus dan disebut pencapersada.
Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah perlengkapan adat yang harus disiapkan. Di antaranya dua buah gebuk atau tempayan berisi air bunga rampai, daun pandan wangi, mayang pinang muda, air ukuf dari irisan limau purut, air doa selamat, hingga air tolak bala yang telah dibacakan doa.
Leher gebuk dihias menggunakan daun kelapa muda yang dibelit di bagian leher tempayan dan disebut kaki lipan. Selain itu, turut disiapkan empat kelapa muda yang telah dikupas, telur ayam kampung, lilin dan tempatnya, tepung tawar, air taman berisi bunga rampai, cermin, tepak sirih, benang gudang tiga untai, bedak dan bahan hias, talam, serta mayang pinang yang belum pecah.
"Pantang larangan, tidak sungsang: saat dimandikan ada aturan membasuh, mana yang harus didahulukan. Larangan dilaksanakan menjelang hingga setelah Maghrib," ungkapnya.
Hingga kini, tradisi mandi berdimbar masih dikenal di tengah masyarakat Melayu, meski pelaksanaannya sudah mulai jarang dilakukan secara lengkap seperti pada masa dahulu.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di BeritaKlik.
(afb/afb)
