Misi Zending dan Sang Naualuh Damanik, Pondasi Toleransi di Simalungun

Misi Zending dan Sang Naualuh Damanik, Pondasi Toleransi di Simalungun

A. Fahri - detikSumut
Kamis, 21 Mei 2026 09:00 WIB
Ulama Islam di Bandar, Simalungun, 1934 (Foto: dok. kitlv.nl)
Foto: Ulama Islam di Bandar, Simalungun, 1934 (Foto: dok. kitlv.nl)
Medan -

Simalungun tidak hanya dikenal sebagai daerah perkebunan yang berkembang pesat pada masa kolonial. Wilayah ini juga memiliki sejarah panjang tentang tumbuhnya toleransi dan keberagaman.

Dalam buku Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto, sejarawan Erond L. Damanik menjelaskan bahwa perkembangan Simalungun pada awal abad ke-20 dipengaruhi oleh dua kekuatan besar, yakni modernisasi melalui perkebunan dan kehadiran misi zending.

"Peran penting Misi Zending terutama RMG dan Katolik adalah: dikenalnya agama samawi, dikenalnya pendidikan Barat, diperkenalkannya kesehatan modern lewat kegiatan diakonia, serta keterampilan hidup melalui pertanian dan sanggar budaya," tulis Damanik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Damanik, misi zending tidak hanya menyebarkan agama, tetapi juga membawa perubahan sosial yang besar. Sekolah-sekolah modern mulai berdiri, pelayanan kesehatan berkembang, dan masyarakat lokal mulai mengenal sistem pendidikan yang lebih terstruktur.

ADVERTISEMENT

"Demikian pula melalui pendidikan, akhirnya orang Simalungun dapat menjadi 'tuan' di negerinya sendiri," tulis Damanik.

Dampak pendidikan tersebut terlihat dari lahirnya generasi baru masyarakat Simalungun yang kemudian bekerja sebagai pejabat perkebunan, pegawai pemerintahan kolonial, pemimpin gereja, dan tokoh masyarakat.

Namun yang menarik, perkembangan agama di Simalungun berlangsung dalam suasana yang relatif terbuka. Sang Naualuh Damanik, penguasa Kerajaan Siantar, dikenal memiliki sikap toleran terhadap berbagai pemeluk agama.

Walaupun Sang Naualuh telah memeluk Islam sejak 1902, ia tetap memberikan izin bagi pembangunan gereja, sekolah milik zending, masjid, tempat pemakaman Muslim, hingga klenteng bagi masyarakat Tionghoa di Pematangsiantar.

"Bukan saja mengizinkan gereja dan sekolah, Sang Naualuh Damanik juga memberikan izin pendirian masjid dan klenteng," tulis Damanik.

Sejarah ini menunjukkan bahwa toleransi di Simalungun bukanlah nilai yang baru tumbuh belakangan. Sejak awal abad ke-20, masyarakat telah hidup berdampingan dengan latar belakang agama dan etnis yang beragam.

Damanik juga mencatat bahwa Islam berkembang lebih dahulu di wilayah Bandar yang berbatasan dengan masyarakat Melayu, sementara Protestan mulai disebarkan oleh August Theis sejak 1903. Agama Katolik kemudian masuk ke Simalungun pada 1933.

"Di wilayah Siantar-Simalungun, agama Islam pertama sekali masuk di bagian bawah Simalungun terutama daerah Bandar," tulis Damanik.

"Di Siantar-Simalungun, agama Protestan disiarkan dan dikembangkan August Theis sejak tahun 1903," lanjutnya.

Kini, Pematangsiantar dikenal sebagai salah satu kota paling majemuk di Sumatera Utara. Masjid, gereja, dan vihara berdiri berdampingan, menjadi bukti bahwa sejarah toleransi telah berakar kuat sejak lebih dari seabad yang lalu.

Kisah tentang misi zending dan kebijakan Sang Naualuh Damanik menunjukkan bahwa modernisasi dan keberagaman dapat tumbuh bersama. Pendidikan, kesehatan, dan sikap saling menghormati menjadi fondasi penting yang membentuk wajah Simalungun hingga hari ini.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta maganghub Kemnaker di BeritaKlik

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Belajar Kehidupan Lewat Pendidikan"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads