Penembakan mengguncang sebuah sekolah menengah atas di wilayah tengah Filipina pada Senin (22/6) pagi. Dua siswa yang membawa pistol melepaskan tembakan di lingkungan sekolah, menyebabkan tiga siswa meninggal dunia dan sedikitnya 20 lainnya mengalami luka-luka, menurut keterangan polisi.
Kedua pelaku yang berusia 14 dan 15 tahun itu telah diamankan aparat. Kepala Kepolisian Regional Brigjen Jason Capoy mengatakan bahwa pelaku maupun para korban merupakan siswa di San Jose National High School yang berada di Kota Tacloban.
Melansir detikNews, salah seorang pelaku berhasil ditangkap di area sekolah tak lama setelah kejadian. Sementara itu, pelaku lainnya sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah warga sekitar sebelum akhirnya ditemukan polisi setelah menerima laporan dari masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capoy mengungkapkan bahwa sebagian besar korban yang tewas maupun terluka adalah siswi perempuan. Dari lokasi kejadian, petugas juga menemukan sedikitnya 40 selongsong peluru.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana mencekam saat insiden berlangsung. Sejumlah siswa tampak berlindung di bawah meja di ruang kelas yang terkunci sambil berteriak dan menangis ketika suara tembakan terdengar dari luar. Beberapa di antaranya terlihat menghubungi ibu mereka melalui telepon. Dalam video lain, para siswa terlihat berlarian keluar dari kompleks sekolah dalam kondisi panik, bahkan ada yang saling berpelukan karena ketakutan.
Polisi menyebutkan bahwa 15 dari 20 korban luka mengalami cedera akibat terkena tembakan. Salah satu korban mengalami luka tembak di kepala dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, korban lainnya mengalami luka ketika berdesakan dan melompat dari jendela untuk menyelamatkan diri.
Seluruh korban telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan penanganan medis. Di sisi lain, aparat keamanan menambah personel di sekolah tersebut untuk menjamin keselamatan siswa, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap motif di balik aksi penembakan yang terjadi di sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 1.500 orang tersebut. Berdasarkan pengakuan awal, kedua pelaku yang diketahui berteman dekat mengaku telah mengalami perundungan sejak kelas tujuh.
"Pada awalnya, motif kejahatan ini adalah dendam terkait perundungan di sekolah," kata juru bicara Kepolisian Nasional Filipina Allen Rae Co kepada wartawan.
Kedua pelaku diketahui tidak memiliki riwayat kriminal sebelumnya. Salah satu pelaku memperoleh pistol kaliber 9 mm yang digunakan dalam aksi tersebut dari tantenya yang merupakan anggota kepolisian. Saat ini, keterlibatan sang tante juga sedang diselidiki. Sementara pelaku lainnya menggunakan revolver kaliber 38.
Menurut Co, revolver tersebut terdaftar atas nama sebuah perusahaan keamanan yang beroperasi di Kota Cebu.
Capoy menambahkan bahwa para pelaku dapat membawa senjata ke dalam lingkungan sekolah karena pengamanan dinilai minim. Saat kejadian, hanya ada satu petugas keamanan yang berjaga untuk mengawasi beberapa akses masuk dan keluar sekolah.
"Pelaku menerobos masuk ke dua ruang kelas karena setelah penembakan di ruang pertama, para siswa berhamburan, dan para pelaku diduga mengejar beberapa korban ke ruang lain," ujar Capoy.
Artikel ini sudah tayang di detikNews, baca selengkapnya di sini.
(afb/afb)
