Gulai Asam Baung, Tradisi Kuliner Melayu yang Kian Terasa Maknanya di Ramadan

Gulai Asam Baung, Tradisi Kuliner Melayu yang Kian Terasa Maknanya di Ramadan

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Senin, 09 Mar 2026 07:01 WIB
Gulai asam baung
Foto: Gulai asam baung (Dok. Instagram bpkwil2)
Asahan -

Bulan Ramadan selalu membawa ingatan kolektif masyarakat Melayu pada hidangan-hidangan khas yang kerap hadir di meja berbuka puasa. Salah satunya adalah gulai asam baung, sajian berbahan ikan baung yang telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner Melayu di Sumatera Utara.

Dalam unggahan resminya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II mencatat bahwa hidangan ikan berkuah kuning ini dikenal luas di berbagai wilayah Melayu, mulai dari Langkat, Deli Serdang, Padang Bedagai, Batubara, Asahan, hingga Pesisir Barat Sumatra. Gulai asam baung dikenal dengan cita rasa asam segar yang dihasilkan dari perpaduan rempah dan bahan alami yang berasal dari sungai, rawa, serta hutan.

"Hidangan yang lahir dari keterhubungan pengetahuan orang Melayu dengan sungai, habitatnya, rawa, hutan, dan ragam tanaman bumbu," tulis BPK Wilayah II dalam unggahannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sajian Ramadan dan Tradisi Memuliakan Tamu

Dalam tradisi Melayu, sajian gulai asam baung tidak sekadar makanan sehari-hari. BPK Wilayah II menjelaskan bahwa hidangan ini telah lama menjadi bagian dari cara orang Melayu memuliakan tamu.

"Jamuan makan dengan lauk gulai asam baung menjadi cara orang Melayu menghormati siapa pun yang singgah ke rumahnya," tulis BPK Wilayah II.

ADVERTISEMENT

Konteks ini menjadi semakin relevan di bulan Ramadan, ketika tradisi berbuka puasa bersama keluarga dan tamu memiliki makna spiritual dan sosial yang kuat. Hidangan yang kaya rasa namun bersahaja ini mencerminkan nilai berbagi, kebersamaan, dan rasa syukur yang menjadi ruh Ramadan.

Ancaman pada Ikan Baung dan Ingatan Rasa

Namun, di balik kuatnya makna budaya tersebut, BPK Wilayah II juga mengingatkan adanya ancaman serius terhadap keberlanjutan ikan baung sebagai bahan utama gulai asam baung. Perubahan bentang alam sungai, pencemaran, eksploitasi berlebihan, serta penurunan kualitas habitat telah menyebabkan populasi ikan baung terus menyusut.

"Perubahan yang berlangsung di sungai dan daerah aliran sungai menyebabkan populasi ikan baung kian berkurang," tulis BPK Wilayah II.

Kondisi ini berdampak langsung pada praktik kuliner. Jika dahulu ikan baung berukuran besar mudah dijumpai, kini ukuran ikan yang dianggap layak diolah semakin kecil. Bahkan, sebagian pedagang terpaksa mendatangkan ikan baung dari luar daerah, meski diakui kualitasnya tidak sebaik baung lokal.

Pelestarian Rasa, Pelestarian Alam

Dalam unggahannya, BPK Wilayah II menekankan bahwa pelestarian gulai asam baung tidak bisa dilepaskan dari pelestarian lingkungan sungai sebagai sumber daya pendukungnya. Upaya menjaga kualitas air, mengendalikan pencemaran, hingga pengaturan penangkapan ikan menjadi kunci agar tradisi kuliner ini tetap hidup.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kajian Koentjaraningrat dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, yang menyebutkan bahwa makanan tradisional bukan sekadar hasil dapur, melainkan produk kebudayaan yang sangat bergantung pada sistem ekologi dan pengetahuan lokal masyarakat pendukungnya.

BPK Wilayah II juga mencatat sejumlah rekomendasi, mulai dari penguatan pengawasan kualitas air sungai, penerapan sistem lubuk larangan berbasis komunitas, hingga dorongan budidaya ikan baung sebagai alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

Di bulan Ramadhan, ketika nilai pengendalian diri, keseimbangan, dan kepedulian sosial kembali ditegaskan, gulai asam baung tidak hanya hadir sebagai menu berbuka. Ia menjadi pengingat bahwa menjaga tradisi rasa berarti juga menjaga alam, pengetahuan, dan warisan budaya yang menyertainya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads