Salah satu kuliner khas yang menjadi kebanggaan masyarakat Karo di Sumatera Utara adalah Cipera. Makanan tradisional ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.
Cipera merupakan hidangan berbahan dasar ayam kampung yang dimasak bersama tepung jagung, santan, dan berbagai rempah khas. Proses memasaknya yang cukup panjang menghasilkan cita rasa gurih dan tekstur kental yang khas.
Dosen Tata Boga Unimed Ana Rahmi menyebut Cipera bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan dan rasa syukur. Menurutnya, hidangan ini biasanya disajikan dalam acara adat, pesta keluarga, hingga perayaan penting lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam tradisi masyarakat Karo, Cipera sering dihidangkan saat momen penting sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan ungkapan kebahagiaan," ujar Ana Rahmi Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan bahan seperti jagung mencerminkan kedekatan masyarakat Karo dengan alam. Jagung sendiri merupakan salah satu hasil pertanian utama di wilayah dataran tinggi Karo, sehingga kehadirannya dalam Cipera memiliki nilai filosofis tersendiri.
"Cipera hingga kini mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat di luar daerah,dengan banyaknya wisatawan yang penasaran dan ingin mencoba Cipera karena keunikan rasanya yang berbeda dari masakan lain," katanya.
Selain menjadi hidangan lezat, Cipera juga merepresentasikan identitas budaya masyarakat Karo yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kekeluargaan. Proses memasaknya yang sering dilakukan bersama-sama turut mempererat hubungan antar anggota keluarga maupun masyarakat.
Dengan semakin dikenalnya Cipera di kancah kuliner Nusantara, diharapkan makanan tradisional ini tetap lestari dan terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta maganghub Kemnaker di BeritaKlik
(astj/astj)