Senja turun di kawasan Masjid At Taqwa Polda Bali, Denpasar, Sabtu 14 Maret 2026. Jemaah berdatangan menjelang waktu berbuka puasa. Sepeda motor terparkir rapi di halaman, sementara sebagian lainnya berjalan pelan menuju pintu masuk masjid.
Lampu-lampu halaman menyala terang. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar, tak mengganggu suasana saat azan Magrib mulai berkumandang.
Di antara jemaah yang datang, tampak sejumlah pria mengenakan udeng, kain poleng, dan saput khas Bali. Mereka berdiri di beberapa sudut halaman, mengamati situasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka adalah pecalang.
Malam itu, mereka tidak sedang menjaga pura atau upacara adat. Mereka membantu menjaga ketertiban umat Muslim yang datang beribadah di masjid.
Beberapa pecalang terlihat berkomunikasi singkat. Sebagian lainnya mengatur kendaraan yang keluar masuk area parkir.
Bagi masyarakat Bali, kehadiran pecalang di masjid bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, mereka turut membantu pengamanan kegiatan ibadah umat Muslim, terutama selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
Ketua Pecalang Banjar Pagan Kaja I, I Dewa Gede Rai Suartono, menyebut tugas itu bukan sekadar rutinitas.
"Saya sangat bangga. Saya sangat bahagia diberikan amanat, diberikan tugas setiap tahunnya menjaga salat tarawih dan kegiatan ibadah lainnya di masjid sini," ujarnya saat ditemui di sela-sela waktu istirahat.
Baginya, menjaga keamanan jemaah bukan hanya kewajiban sebagai pecalang.
"Bukan karena kita diberikan imbalan, tidak. Itu bentuk toleransi umat beragama yang kita harus jalani. NKRI harga mati, kita harus rukun satu sama lain," katanya.
Kehadiran pecalang di Masjid At Taqwa Polda Bali sudah berlangsung sekitar satu dekade. Setiap tahun, panitia masjid mengirimkan surat permohonan bantuan pengamanan beberapa hari sebelum Ramadan dimulai.
"Setiap tahun memang sudah berjalan untuk pengamanan oleh pecalang di masjid ini, kurang lebih sudah 10 tahun berjalan. Tiga hari sebelum puasa, kita disurati sama panitia untuk membantu dalam hal pengamanan," jelasnya.
Setelah menerima permintaan tersebut, pecalang menyiapkan personel untuk berjaga, terutama saat salat tarawih dan kegiatan ibadah lainnya. Selain menjaga ketertiban, mereka juga memastikan keamanan kendaraan dan barang milik jemaah.
Menurut Rai, respons jemaah selama ini berjalan baik.
"Respons para jemaah yang hadir untuk beribadah di masjid tersebut sangat baik dan sangat dihormati," ujarnya.
Tahun ini, situasi Ramadan di Bali memiliki dinamika tersendiri karena Hari Raya Nyepi diperkirakan berdekatan dengan Idul Fitri.
Rai menyebut kondisi serupa bukan pertama kali terjadi.
"Untuk fenomena berdekatannya hari raya Nyepi dan Idul Fitri sudah pernah terjadi beberapa kali, seperti tahun lalu dan tiga tahun lalu," katanya.
Ia juga mengingat momen ketika malam takbiran bertepatan dengan Nyepi.
"Tapi kalau di Bali, khususnya di Masjid At Taqwa sini, hari raya Nyepi seperti tahun yang lalu kan barengan pas malam takbirannya. Besoknya itu Idul Fitri. Ya tetap salat, tetap salat tapi tidak ada pengeras suara," ujarnya.
Dalam situasi seperti itu, pecalang tetap menjalankan perannya.
"Kita itu sebagai pecalang pastinya akan tetap memberikan jalan kalau memang nantinya salat Idul Fitri itu berbarengan dengan Nyepi. Kita kasih jalan di pinggir, tidak di tengah. Intinya harus tetap kondusif dan menjaga nilai dari Nyepi itu sendiri," katanya.
Ia menegaskan, pihaknya akan mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah jika kedua hari raya berlangsung berdekatan.
"Nyepi itu setahun sekali, itu sudah dari zaman dulu. Tapi karena ini kemungkinan berbarengan, ya kita mengikuti aturannya saja. Kita mengikuti aturan-aturan pemerintah bagaimana," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat mengganggu kerukunan.
"Harapan saya di hari raya ini yang sangat-sangat sakral ini, baik itu Idul Fitri maupun Hari Raya Nyepi, mudah-mudahan tidak ada terjadi kejadian yang tidak kita inginkan. Kita inginkan aman-aman saja," ujarnya.
"Jangan terprovokasi dari pengaruh-pengaruh orang luar. Karena realita yang selama ini ada di Bali, semua umat beragama berjalan dengan beriringan dan baik-baik saja," tegasnya.
Malam semakin larut. Jemaah mulai berangsur pulang.
Di halaman masjid, pecalang masih berjaga. Mereka mengatur kendaraan yang keluar satu per satu, memberi isyarat agar pengendara berjalan perlahan.
Arus keluar tetap tertib hingga halaman kembali lengang.
(dpw/dpw)










































