detikBali

Kisah Sertu Ichwan Gugur di Lebanon, Tinggalkan Istri dan Bayi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kisah Sertu Ichwan Gugur di Lebanon, Tinggalkan Istri dan Bayi


Abid Ahmad Ibrahim - detikBali

Prosesi pemakaman militer Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan di Taman Makam Pahlawan Giri Dharmoloyo II, Magelang, Minggu (5/4/2026).
Prosesi pemakaman militer Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan di Taman Makam Pahlawan Giri Dharmoloyo II, Magelang, Minggu (5/4/2026). (Foto: dok. Kodam IX/Udayana)
Depasar -

Duka mendalam menyelimuti keluarga Sertu (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan. Prajurit terbaik Kodam IX/Udayana itu gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan, meninggalkan seorang istri dan bayi yang masih berusia sekitar tujuh bulan.

Almarhum yang sehari-hari berdinas di Kesdam Udayana dipercaya menjalankan tugas internasional sebagai Bintara Kesehatan (Bakes) Kompi B Satgas Yonmek TNI Kontingen Garuda XXIII-S/UNIFIL Lebanon. Penugasan tersebut merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jenazah almarhum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo II, Magelang, Minggu (5/4/2026). Prosesi berlangsung khidmat dan penuh haru.

Upacara pemakaman dipimpin Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita selaku inspektur upacara. Sejumlah pejabat tinggi TNI AD turut hadir, termasuk jajaran Kodam IV/Diponegoro, Gubernur Akademi Militer, pejabat utama Kodam IX/Udayana, hingga pengurus Persit Kartika Chandra Kirana.

ADVERTISEMENT

Pangdam Udayana Mayjen Piek Budyakto juga hadir langsung dalam upacara tersebut. Kehadirannya menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan belasungkawa dari seluruh keluarga besar Kodam IX/Udayana. Ia menyebut kepergian almarhum menjadi kehilangan besar bagi institusi TNI, khususnya Kodam IX/Udayana.

"Kepergian almarhum merupakan kehilangan besar bagi TNI, khususnya Kodam IX/Udayana. Almarhum adalah prajurit yang telah menunjukkan dedikasi, loyalitas, dan pengabdian terbaiknya kepada bangsa dan negara melalui penugasan misi perdamaian dunia," ujar Piek Budyakto dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Prosesi Pemakaman

Rangkaian prosesi diawali dengan pembacaan riwayat hidup almarhum, dilanjutkan dengan Apel Persada, yakni tradisi militer sebagai penghormatan terakhir kepada prajurit yang gugur dalam tugas negara.

Dalam prosesi tersebut, jasad almarhum secara simbolis diserahkan kembali kepada Ibu Pertiwi sebagai tanda berakhirnya pengabdian seorang prajurit kepada bangsa dan negara.

Upacara kemudian ditutup dengan penghormatan terakhir dari seluruh peserta, dilanjutkan peletakan karangan bunga atas nama negara, bangsa, dan TNI Angkatan Darat sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan almarhum.

Riwayat dan Penghargaan

Sertu Muhammad Nur Ichwan lahir di Magelang pada 12 Mei 2000. Almarhum meninggalkan seorang istri, Hana Dita Anjani, serta seorang putri, Maurellia Syakila Nur Salsabila, yang saat ini masih berusia sekitar tujuh bulan.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdian almarhum, TNI memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) secara anumerta dari Sertu menjadi Serka. Kenaikan pangkat tersebut tertuang dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/467/1/2026 tanggal 31 Maret 2026 tentang Penetapan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang Anumerta.

Selain itu, TNI juga memberikan santunan dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada prajurit yang gugur dalam tugas.

Kodam IX/Udayana memastikan akan terus menjalin komunikasi dengan keluarga almarhum, khususnya untuk memberikan dukungan moril kepada istri dan anaknya.

Piek Budyako juga mengajak seluruh prajurit dan keluarga besar Kodam IX/Udayana untuk mendoakan almarhum agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Pengorbanan Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan menjadi pengingat bahwa tugas menjaga perdamaian dunia memiliki risiko besar. Dedikasi dan pengabdian almarhum akan selalu dikenang sebagai kehormatan bagi Kodam IX/Udayana dan bangsa Indonesia.




(dpw/dpw)











Hide Ads