detikBali

Siswa Smansa Denpasar Raih Emas di MTE 2026 Berkat Inovasi AI Pertanian

Terpopuler Koleksi Pilihan

Siswa Smansa Denpasar Raih Emas di MTE 2026 Berkat Inovasi AI Pertanian


Hani Sofia Muthmainnah - detikBali

Tim PALMORA ekskul KISS Smansa Denpasar meraih medali emas dalam ajang Malaysia Thecnology Expo (MTE) 2026. (Foto: Dok. Istimewa)
Tim PALMORA ekskul KISS Smansa Denpasar meraih medali emas dalam ajang Malaysia Thecnology Expo (MTE) 2026. (Foto: Dok. Istimewa)
Denpasar -

Siswa SMA Negeri 1 Denpasar kembali mengukir prestasi di tingkat internasional. Kali ini, kelompok siswa ekstrakurikuler Karya Ilmiah Sains dan Sastra (KISS) Smansa Denpasar membawa pulang satu medali emas dan dua medali perunggu kompetisi Asian Youth Innovation Awards (AYIA).

Adapun, medali emas diraih pada kategori Energy and Green Technology berkat inovasi akal imitasi (AI) pada pertanian. Ajang Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 itu berlangsung di World Trade Centre Kuala Lumpur, pada 9-11 April lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembina KISS Smansa, Asri, menjelaskan inovasi yang dikembangkan para siswanya memanfaatkan teknologi berbasis AI dan Internet of Things (IOT). "Mereka membuat alat untuk mengecek apakah tanah cocok untuk perkebunan atau tidak," ujar Asri saat ditemui detikBali, Senin (20/4/2026).

Menurut Asri, ide tersebut berangkat dari permasalahan di sektor pertanian. Ia berkaca pada persoalan lahan besar yang sudah dibuka, tetapi tidak bisa ditanami.

ADVERTISEMENT

"Jangan sampai lahan sudah digunduli, ekosistem sudah rusak, ternyata tanahnya tidak cocok untuk ditanami. Itu kerugiannya besar sekali," imbuh Asri.

Salah satu anggota KISS, Putu Prasista Ardyasaswari Mahavira, menjelaskan inovasi yang mereka hasilkan berangkat dari permasalahan petani kecil. Alat yang mereka kembangkan mampu mengukur pH tanah, suhu, dan kelembapan.

Selain itu, alat ini juga dilengkapi kamera untuk mendeteksi hama melalui kamera serta sistem AI yang dapat memberikan analisis kondisi tanaman secara langsung. Uniknya, alat ini juga bisa digunakan di wilayah tanpa jaringan internet.

"Kami melihat petani kecilkan kesulitan memonitoring lahannya karena teknologi mahal. Jadi kami membuat alat yang lebih murah dan mudah digunakan," kata Prasista.

"Data bisa disimpan langsung di microcontroller, jadi tidak perlu sinyal. Ini penting karena di lahan pertanian kan sering tidak ada jaringan," jelasnya.

Meski berasal dari Bali yang bukan daerah penghasilan sawit, para siswa Smansa itu tetap mempertimbangkan relevansi inovasi mereka dengan kondisi di Malaysia. Karena itu, alat ini dirancang tidak hanya untuk satu jenis tanaman, tetapi bisa digunakan di berbagai jenis tanaman.

Selain mutifungsi, alat yang dikembangkan para siswa Smansa itu juga dibuat dengan biaya yang relatif terjangkau, sekitar Rp 1 juta rupiah. Inovasi ini juga mengusung konsep ramah lingkungan sehingga menjadi nilai tambah.

"Kami menggunakan bahan daur ulang seperti pipa PVC bekas dan botol plastik, kami juga menggunakan panel surya sebagai sumber energi," ujar Prasista .

Tim PALMORA dari KISS SMAN 1 Denpasar terdiri dari enam siswa kelas XI, yakni:

1. Putu Anindya Deivana Griandari

2. Putu Savitri Kaniotami
3. Putu Prasista Adyaswari Mahavira
4. Putu Ngurah Gede Angga Panji Kenanta
5. Kadem Nysa Adia Pramesti Joniartha
6. I Gede Abi Bhaskara Mulya Utama.




(iws/iws)











Hide Ads