detikBali

Cerita Nurlita Rela Akhiri Karier di Lembaga PBB Demi Urus Sampah

Terpopuler Koleksi Pilihan

Cerita Nurlita Rela Akhiri Karier di Lembaga PBB Demi Urus Sampah


Hani Sofia - detikBali

Kegiatan Wastehub beberapa waktu lalu.
Foto: Kegiatan Wastehub beberapa waktu lalu. (Hani Sofia/detikBali)
Badung -

Ranitya Nurlita sejak lama punya perhatian lebih soal sampah, jauh sebelum masalah sampah menjadi demikian pelik di Bali dan sejumlah daerah di Indonesia.

Kepedulian itulah yang membuat Lita, sapaannya, mendirikan Wastehub, sebuah yayasan pengelolaan sampah. Bahkan, demi Wastehub, Lita nekat mengakhiri kariernya yang cukup bagus United Nations Environment Programme (UNEP) salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya di UNEP itu sejak 2023. Jadi itu full time saya yang menghasilkan uang buat saya. Nah, kalau di Wastehub sebagai visi misi sosial," ujar lulusan Perikanan dan Ilmu Kelautan itu saat ditemui dalam kegiatan Wastehub di Prime Plaza Hotel Sanur, Sabtu (25/4/2026).

Pada awalnya ia masih membagi waktu antara pekerjaan profesional dengan aktivitas sosial miliknya. Namun, seiring berjalannya waktu ia memutuskan untuk fokus mengembangkan gerakan pengelolaan sampah tersebut.

ADVERTISEMENT

Di Jepang Pilah Sampah Bisa 30 Jenis

Ketertarikan Lita terhadap isu sampah sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak 2014 ketika ia mengikuti pelatihan di Amerika Serikat (AS) terkait pemilahan sampah dari sumber. "Waktu itu 2014 saya ke Amerika Serikat, training terkait pemilahan sampah dari sumber," cerita Lita.

Di sana ia melihat langsung bagaimana kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sudah terbentuk. "Di sana orang bawa sendiri sampahnya ke tempat daur ulang. Bukan ditaruh di depan rumah," ujarnya.

Ia juga sempat melihat sistem Jepang yang jauh lebih detail. "Di Jepang bisa sampai 30 jenis pemilahan," tambahnya.

Barulah ia tersadar bahwa isu sampah bukan sesederhana mengurangi sampah plastik, tetapi juga soal sistem dan kebiasaan.

"Dulu saya pikir nggak pakai plastik itu sudah cukup. Ternyata nggak, harus ubah sistem dan pola pikir," ungkap Lita.

Dari sana, pemahaman tentang pengelolaan sampah dari sumber terbentuk. Namun, titik balik yang benar-benar membuatnya bergerak setelah ia melihat melihat langsung laut yang tercemar sampah saat ia menyelam sekitar 2020.

Sedih di Bawah Laut Banyak Sampah

Meski ia berkuliah di jurusan kelautan, ia mengaku pada awalnya tidak terlalu tertarik dengan aktivitas menyelam. Namun, pemandangan miris di dasar laut yang dipenuhi dengan sampahlah yang menjadi titik baliknya mendedikasikan dirinya untuk mengurus sampah.

"Waktu pertama menyelam sedih banget, di bawah laut banyak sampah," katanya.

Sejak saat itulah ia mulai menaruh perhatian serius pada isu sampah. Terlebih pada saat itu belum banyak anak muda yang tertarik pada isu tersebut.

"Dulu belum banyak anak muda yang peduli," tutur Lita.

Sejak saat itulah ia berkeliling ke negara-negara lain untuk terus belajar secara mendalam dan akhirnya muncul keinginan membuat aksi nyata. "Kayaknya perlu bikin gerakan yang sustainable, akhirnya bikin Wastehub," ungkap Lita.

Wastehub kini yang telah banyak dikenal di berbagai wilayah di Indonesia dan telah menangani klien dari berbagai daerah. Namun, perjalanan mereka tidak langsung besar seperti sekarang. Wastehub bermula sebagai komunitas kecil yang dirintis pada 2019.

"Dulu kita cuma gerakan sendiri. Mulai 2019 kita sudah banyak beraktivitas, lalu akhirnya jadi yayasan di 2023. Jadi kalau dihitung secara operasional sejak 2019, tapi baru menjadi badan hukum di tahun 2023, kurang lebih sudah berjalan sekitar lima tahun," kata Lita.

Aktivitas Wastehub tidak hanya di Bali saja, tetapi juga di Banten dan Jakarta. "Base-nya di Banten, tapi karena saya tinggal di Bali aktivitas kita banyak di Bali sama Jakarta," sambungnya.

Wastehub yang memiliki banyak program utama salah satunya adalah mengolah sampah dari berbagai event. "Kita mengelola sampah event, termasuk kemarin di Bali bareng Diskominfo waktu Denpasar Festival (Desfest)," jelas Lita.

Yayasan yang kini telah berdiri selama lima tahun tentunya melewati masa sulit mereka. Misalnya saja pada saat pandemi COVID-19 mereka banyak kehilangan kegiatan yang sebelumnya sudah banyak dipersiapkan.

"Sempat terhambat saat pandemi COVID-19. Kita mulai akhir 2019 banyak kegiatan yang batal" ujarnya.

Namun, tantangan ini tidak langsung menyurutkan semangat mereka, Wastehub yang pada awalnya berfokus pada isu sampah memutar fokus mereka menjalankan kegiatan program sosial dan edukasi.

Kerja Sama dengan Mitra

Hingga kini Wastehub belum memiliki fasilitas pengelolaan sampah sendiri dan masih bekerja sama dengan berbagai mitra. "Kami belum punya fasilitas sendiri, jadi bermitra. Sampah dipilah, terus kami distribusi ke mitra," terangnya.

Sampah organik diolah menjadi kompos maggot, sementara sampah anorganik disalurkan ke pihak daur ulang. Hanya residu yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Selama menjalankan program mereka, jumlah sampah terbanyak yang pernah mereka tangani mencapai belasan ton. Salah satunya pada event besar Jambore Muslim Internasional di Cibubur.

"Yang paling besar kita kelola sekitar 18 ton dari tanggal 7 hingga 14," ungkapnya.

Konflik Kepentingan Masalah Sampah di Bali

Sebagai praktisi yang terjun langsung di lapangan menangani sampah, Lita menilai persoalan sampah di Bali tidak sesederhana yang terlihat. Meski aturan mengenai sampah telah ada, tetapi pelaksanaan di lapangan menghadapi banyak kendala.

"Dibandingkan daerah lain, Bali itu sebenarnya paling bagus peraturannya," katanya.

Namun, ia melihat permasalahan utama terletak pada pengaplikasian di lapangan. Menurutnya sosialisasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat masih belum merata. Kemudian penegakan aturan yang masih dinilai lemah membuat kebijakan yang ada tidak berjalan secara maksimal.

"Peraturannya sudah bagus, tapi sosialisasi nggak merata dan penegakan hukumnya nggak jalan," tegasnya.

Selain itu, faktor sosial dan budaya juga turut mempengaruhi. Pasalnya tidak semua masyarakat sudah memiliki tingkat kesadaran yang sama dalam mengelola sampah.

"Ada yang sudah peduli, tapi masih banyak juga yang buang sampah sembarangan," ujarnya.

"Itu pernah ada sampai ramai juga," katanya, merujuk pada kasus pembuangan sampah ke jurang.

Menurut Lita persoalan sampah di Bali semakin kompleks karena menyangkut banyak aspek, mulai dari kebiasaan masyarakat, sistem pengangkutan, hingga kepentingan tertentu di lapangan.

Lita juga menanggapi kampanye bahwa sampah bisa langsung bernilai ekonomi. Menurutnya ada bagian yang tidak dijelaskan secara jelas. "Sampah bisa jadi uang kalau bersih. Kalau masih campur ya nggak bisa," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam industri daur ulang, kualitas sampah sangat menentukan nilai jual. "Ada grade-nya, jadi nggak semua sampah itu bernilai," sambungnya.

Kenyatannya di lapangan banyaknya permainan politik yang ada dalam pengelolaan sampah membuat persoalan ini menjadi semakin rumit. Ia mencontohkan pada salah satu acara yang sedang ia jalankan dan ia mengalami secara langsung.

"Pernah ada acara, tamunya disuruh pulang karena konflik kepentingan," ucapnya.

Menurutnya, sektor ini juga rawan disalahgunakan terutama pada proses pengangkutan. "Sampah itu paling gampang dikorupsi, terutama di pengangkutan," ujarnya.

Lita menegaskan bahwa persoalan sampah ini perlu diselesaikan dari berbagai aspek, mulai dari regulasi, sistem, hingga teknologi. "Masalah sampah itu kompleks, nggak bisa dilihat dari satu sisi saja," ujarnya.

"Bukan cuma perilaku, tapi juga sistemnya harus dibenahi," jelas Lita.




(hsa/hsa)











Hide Ads