detikBali
Hardiknas 2026

Kisah Tutik Muliani, Guru Tunanetra di Denpasar yang Dulu Tak Diizinkan Sekolah

Terpopuler Koleksi Pilihan
Hardiknas 2026

Kisah Tutik Muliani, Guru Tunanetra di Denpasar yang Dulu Tak Diizinkan Sekolah


Hani Sofia Muthmainnah - detikBali

Tutik Muliani, guru SLB Negeri 1 Denpasar saat ditemui di SLB Negeri 1 Denpasar, Kamis (30/4/2026). Foto Hani Sofia Muthmainnah/detikBali
Foto: Tutik Muliani, guru SLB Negeri 1 Denpasar saat ditemui di SLB Negeri 1 Denpasar, Kamis (30/4/2026). Foto Hani Sofia Muthmainnah/detikBali
Denpasar -

Dengan tongkat pemandu di tangan, Titik Muliani yang akrab disapa Ani melangkah pasti dari kelas ke kelas. Keterbatasan penglihatan tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk mengajar.

Kini, perempuan tunanetra itu mengabdikan diri sebagai guru di SLB Negeri 1 Denpasar. Semangat tersebut berangkat dari kisah hidupnya di masa lalu, saat ia pernah dilarang bersekolah oleh sang ayah.

Bagi Ani, menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan. Pilihan ini lahir dari perjalanan panjang hidupnya. Ia mulai mengajar di Denpasar pada Juni 2024, setelah sebelumnya sempat mengajar di salah satu SLB berbasis pesantren di Probolinggo. Untuk sampai di titik ini harus menyelesaikan pendidikan S2 dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebelum akhirnya lolos menjadi ASN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Motivasinya sederhana, ia tidak ingin anak-anak dengan kondisi seperti dirinya mengalami kesulitan yang sama seperti yang ia rasakan

"Motivasi saya sederhana. Pertama, ingin anak-anak yang senasib dengan saya bisa lebih percaya diri. Yang kedua, saya ingin cukup saya yang merasakan tidak paham teknologi seperti Hp, media sosial. Ketiga tidak kesulitan dalam berinteraksi. Ya harapannya mereka nggak mengalami hal yang sama kaya saya," ujar Ani saat ditemui di SLB Negeri 1 Denpasar, Kamis (30/4/2026).

ADVERTISEMENT

Perjalanan Ani dalam menempuh pendidikan tidaklah mudah. Sejak kecil, ia harus menghadapi penolakan dari sang ayah yang tidak mengizinkannya bersekolah. Bahkan, larangan itu berlanjut hingga ia ingin melanjutkan ke bangku kuliah.

Dengan suara yang masih teringat jelas dalam kepalanya, Ani menceritakan bagaimana ia pernah dimarahi karena ingin mencoba mandiri dan keluar dari lingkungan rumahnya.

"Bahkan saya mau kuliah pun dilarang. Dibilang 'Mau ngapain kuliah? Mau jadi apa? Saya pernah dimarahi karena nekat naik kereta sendiri. Katanya tidak aman untuk anak perempuan yang tidak bisa melihat," tuturnya.

Penolakan tersebut justru menjadi pemantik semangat. Alih-alih menyerah, Ani justru memilih untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia percaya bahwa pendidikan dapat merubah hidupnya, sekaligus membawanya keluar dari keterbatasan ekonomi keluarganya.
Di balik penolakan sang ayah, ibu lah sosok yang memperjuangkan dirinya agar tetap bersekolah.

"Ibu saya yang memperjuangkan saya sekolah. Dari SD sampai SMA, ibu yang terus mendukung. Baru saat SMP, bapak mulai sedikit menerima," ceritanya.

Namun, penolakan kembali ia dapatkan ketika dirinya hendak melanjutkan ke bangku perkuliahan. Sang ayah menolak dengan keras memberikan dukungan biaya. Ani yang sudah bertekad kuat mengambil keputusan untuk tetap berkuliah meski tanpa bantuan finansial dari keluarga.

"Saya bilang, kalau tidak dibiayai juga tidak apa-apa. Saya bisa kuliah sendiri sambil kerja. Saya sudah punya keterampilan," ujarnya.

Ucapannya bukan sekadar janji. Ani berhasil mendapatkan beberapa beasiswa, mulai dari beasiswa kementerian, beasiswa dari National Paralympic Committee (NPC) untuk atlet-atlet disabilitas, hingga beasiswa dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Selain itu, ia juga memanfaatkan keterampilan memijat untuk menambah penghasilan selama berkuliah. "Kalau saya tidak berani, saya tidak akan sampai di titik ini," katanya.

Mengajar dengan Tantangan Berlapis

Tutik Muliani, guru SLB Negeri 1 Denpasar saat ditemui di SLB Negeri 1 Denpasar, Kamis (30/4/2026). Foto Hani Sofia Muthmainnah/detikBaliSLB Negeri 1 Denpasar, Kamis (30/4/2026). Foto Hani Sofia Muthmainnah/detikBali

Sebagai guru tunanetra, Ani menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ia menjelaskan, dalam satu kelas yang ia ampu memiliki kemampuan siswa yang sangat beragam. Hal inilah yang menuntutnya untuk menyesuaikan metode mengajar yang berbeda-beda.

Misalnya, ada siswa yang hanya tunanetra, tetapi ada juga yang memiliki kondisi ganda seperti autisme dan tunagrahita. Karena inilah ia tidak bisa memberikan pengajaran yang sama pada seluruh siswa di kelas.

"Misalnya ada yang tunanetra murni, itu biasanya lebih cepat menangkap pelajaran. Tapi ada juga yang tunanetra plus autis, itu harus disesuaikan lagi cara mengajarnya," jelasnya.

Bahkan meskipun dalam satu kelas yang sama ia harus menyiapkan materi dan soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

"Walaupun satu jenjang, materinya bisa beda. Kalau ulangan, saya bisa buat sampai empat level soal yang berbeda," tutur Ani.

Selain itu, ia sebagai tunanetra total ia juga tidak bisa melihat ekspresi murid-muridnya. Ia harus mengandalkan suara, gerak, dan bantuan siswa lain untuk memahami situasi di kelas.

Impian Sederhana

Di balik semua usaha yang telah ia lakukan, impian Ani menyadari bahwa harapan orang tua terhadap anak-anak difabel sangat sederhana. Ia kerap mendengar langsung keinginan dari wali murid.

"Ada orang tua yang pernah bilang ke saya, mereka cuma ingin anaknya bisa mandiri seperti saya. Sesederhana itu," katanya.

Kemampuan dapat mengurus diri sendiri telah menjadi pencapaian besar bagi anak-anak difabel.

Aktif mengedukasi Lewat Konten

Selain aktif sebagai pengajar di sekolah, Ani juga aktif membuat konten di akun TikTok pribadinya. Melalui konten tersebut, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

"Saya ingin orang tahu kalau tunanetra juga bisa melakukan banyak hal. Biar kalau ketemu, mereka tidak kaget atau salah memperlakukan," tambahnya.

"Ada yang memberi kesempatan, tapi ada juga yang menganggap kami tidak bisa apa-apa," ujarnya.

Meski kondisi kini lebih baik masih banyak hal yang perlu dibenahi, terutama terkait akses dan pandangan masyarakat. Ia juga menyoroti masih banyak orang tua yang belum menyekolahkan anak difabel, salah satunya karena kurangnya informasi terkait keberadaan SLB.

"Di tempat saya mengajar dulu di Probolinggo, sekitar 7 persen orang tua belum tahu ada SLB, jadi anaknya tidak disekolahkan. Kalau di Bali lebih baik, mungkin sekitar 30 persen," jelasnya.

Ke depannya, Ani berharap pendidikan bagi anak difabel bisa semakin inklusif baik dari segi fasilitas maupun penerimaan masyarakat.

"Harapannya lebih banyak akses, lebih ramah, dan masyarakat lebih menerima tanpa membeda-bedakan," tutupnya.




(nor/nor)











Hide Ads