detikBali

Kisah Nung, Penjual Kacamata Keliling Nabung 20 Tahun untuk Naik Haji

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kisah Nung, Penjual Kacamata Keliling Nabung 20 Tahun untuk Naik Haji


I Wayan Selamat Juniasa - detikBali

Ahmad Nung saat ditemui setelah bersilaturahim ke salah satu tokoh masyarakat di Karangasem, Selasa (5/5/2026).
Ahmad Nung saat ditemui setelah bersilaturahim ke salah satu tokoh masyarakat di Karangasem, Selasa (5/5/2026). (Foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali)
Karangasem -

Wajah Ahmad Nung tampak semringah. Di usia 75 tahun, penjual kacamata dan aksesoris keliling itu akhirnya memastikan diri berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Penantian panjang selama 15 tahun pun terbayar.

"Saya sangat senang dan bahagia, karena tahun ini bisa berangkat haji," kata Nung saat ditemui usai bersilaturahmi di rumah salah satu tokoh masyarakat Karangasem, Selasa (5/5/2026).

Di balik senyum itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah. Lahir dari keluarga sederhana di Karangasem, Nung sejak awal tak pernah membayangkan bisa menunaikan ibadah haji. Namun, tekad yang tumbuh sejak muda membuatnya terus berjuang mengumpulkan biaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak kecil, ia sudah terbiasa berjualan kacamata keliling demi membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seiring waktu, aktivitas itu terus ia jalani hingga berkeluarga. Dengan motor tua, ia berkeliling ke sejumlah tempat wisata, menjajakan dagangan.

ADVERTISEMENT

"Tak hanya jualan kacamata, saya juga jualan aksesoris dan yang lainnya," ujar Nung, warga Lingkungan Telaga Mas, Kelurahan Subagan, Karangasem.

Di sela-sela rutinitas berjualan, keinginan untuk berhaji perlahan tumbuh. Sekitar 20 tahun lalu, ia mulai menyisihkan penghasilan hariannya untuk ditabung.

"Tiap hari saya selalu sisihkan uang untuk ditabung agar bisa naik haji, kadang Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu tergantung banyak dan tidaknya barang dagangan yang laku. Kadang kalau dapat jualan sedikit tidak ditabung kalau dapat jualan lebih, lebih banyak ditabung," ujarnya sambil tersenyum.

Perjuangan itu kerap terasa berat. Nung harus menghidupi tujuh anak, termasuk biaya sekolah dan kebutuhan lainnya. Meski begitu, niatnya tak pernah surut.

Hingga akhirnya, impian itu menjadi kenyataan tahun ini. Meski demikian, ia mengakui biaya yang dikumpulkan belum sepenuhnya mencukupi.

"Untuk bisa berangkat tahun ini, sebenarnya uangnya masih belum cukup. Untung ada anak dan ponakan yang bantu sedikit untuk biayanya," ujarnya lirih.

Kini, Nung hanya berharap diberi kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Ia juga memanjatkan doa agar seluruh harapannya dikabulkan dan bisa kembali ke rumah dengan selamat.

"Semoga nanti anak-anak saya juga bisa menyusul untuk bisa berangkat haji," harap Nung.




(dpw/dpw)










Hide Ads